kupatahkah sayapku untukmu
Sebuah Awal
"Kakek! Lihat! Kie nemuin bulu angsa. Bagus kan, Kek?"
Seorang gadis kecil memegang sehelai bulu putih dan melambaikannya di depan sang Kakek. Sang Kakek membungkuk, menyentuh bulu itu, dan mengamatinya lama. Lalu ia berdiri, mengusap kepala gadis kecil itu dan berucap, "Kamu beruntung, Sayang, ada seorang malaikat yang akan selalu menjagamu."
"Benarkah?" Mata bulat bening dengan manik cokelat di tengahnya itu berbinar senang.
"Iya, asalkan kamu selalu berusaha untuk membagi senyum manismu pada mereka yang membutuhkan," Sang kakek tersenyum dan menjentikkan jemarinya di pipi gadis kecil kesayangannya itu.
"Itu doang?" Mata bening itu membulat sempurna.
"Dan juga... kamu harus bantu Kakek bersihin kebun hari ini." Kakek tersenyum lebar. Tangannya terulur menggelitik pinggang gadis kecil itu. Gadis kecil itu terkikik geli dan tawa mereka berdua menggema memenuhi kebun kecil dengan beraneka bunga indah di dalamnya. Tanpa ada yang menyadari beberapa sosok berpakaian serba hitam tak kasat mata tengah memperhatikan mereka. Memperhatikan saat mereka bercanda dan tertawa. Salah seorang dari mereka menghampiri gadis kecil itu, meniup beberapa helai rambutnya sehingga sedikit berkibar dan sang kakek dengan segera menyelipkanya kembali di balik daun telinga gadis kecil itu, lalu memeluknya.
November 2012
Sesosok bayangan hitam melintas cepat menembus kerumunan menuju ke sebuah ruangan di rumah sakit yang beraroma kesedihan dengan beberapa orang yang tergeletak dengan infus di tangan dan wajah-wajah letih tanpa senyum yang duduk menjaga mereka. Ia berhenti tepat di bilik ketiga dan melangkah ke tepi ranjang di dekat kaki seorang anak laki-laki berumur sekitar lima tahun yang tengah merintih kesakitan. Seorang dokter berseragam putih dengan muka datar ditemani seorang perawat muda baru saja melangkah keluar dari situ.
Apendisitis akut, harus segera dioperasi. Begitulah diagnosis dari dokter yang memeriksanya. Sang ibu yang duduk di tepi ranjang menunduk menahan tangis melihat anaknya yang tengah kesakitan. Tak ada yang bisa dilakukannya. Di belakangnya berdiri sang ayah dengan kedua tangan di bahu ibu itu. Ia menghela napas berat. Harus segera dioperasi, kata-kata dokter terus terngiang di telinganya. Ia hanya seorang kuli bangunan yang tidak tentu mendapatkan borongan. Selembar kertas yang disodorkan seorang wanita pegawai administrasi rumah sakit itu membuat kepalanya berdenyut. Angka yang terlalu banyak untuknya. Angka itulah yang harus dibayarkan agar anaknya bisa segera dioperasi.
"Tolong, Pak... lakukan sesuatu...," Ibu itu menggenggam tangan suaminya. Tak kuasa lagi ia menahan air mata yang sejak tadi ingin tumpah.
Anak laki-laki itu adalah satu-satunya yang mereka punya setelah menunggu lama untuk mendapatkannya. Anak yang pintar dan lucu sebelum tiba-tiba sesuatu terjadi padanya. Ia sering mengeluh sakit di perutnya. Tak jarang ia menangis kencang saat nyeri di perutnya tak tertahan lagi. Mereka membawanya ke puskesmas, namun sang anak tak kunjung membaik. Bahkan setelah mendapatkan obat dari dokter di situ, ia menjadi semakin kurus dan hanya bisa berbaring. Salah seorang tetangga menyarankan untuk membawanya ke rumah sakit. Namun sayang, rumah sakit tidak menerima surat miskin yang ia punya untuk mendapatkan pengobatan gratis.
Laki-laki itu meremas tangan istrinya. "Akan aku usahakan, Bu. Tunggulah dulu di sini," Ia berusaha menguatkan istrinya sebelum melangkah ke arah ranjang dan mencium sekilas kening anaknya yang setengah tertidur dan masih menahan sakit. Setelah memaksakan sebuah senyum kaku di bibirnya ke arah sang istri, ia melangkah keluar. Saat itulah sesosok bayangan hitam di tepi ranjang melangkah perlahan mendekati sang anak dan mengulurkan tangannya. Sang anak membuka mata pelan. Ia melihat sesosok bayangan hitam berselimut cahaya mengulurkan tangan ke arahnya. Tiba-tiba sakit yang selalu menyiksanya hilang. Ia tersenyum dan menyambut uluran tangan itu. Ia berdiri mendekati sosok yang mengajaknya melangkah ke pendar cahaya. Mereka berdua pun menghilang di dalamnya. Seketika pekik tangis pecah di bilik kecil dengan tirai putih yang mengelilingannya itu.
April 2017
Seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi ini terasa biasa saja di mata Kiera. Jari-jari keemasan matahari yang menelusup di sela-sela awan terasa hangat menyentuh kulitnya. Pukul 7 pagi ia sudah menyusuri gang kecil kotor dengan got mampet yang baunya menusuk hidung dan sampah bertebaran di mana-mana. Seekor kucing melompat keluar dari tong sampah setelah mengacak-acak isinya. Untunglah ia sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu sehingga ia tidak terlalu terganggu. Anak-anak kecil yang berlarian dan bermain sepeda di sepanjang gang menyapanya dengan senyum polos. Ibu-ibu berdaster menatapnya dengan tak acuh. Beberapa penjual kue keliling melintas dan berteriak menjajakan dagangannya.
Kiera terus melangkah. Tinggal beberapa meter lagi dan ia sampai di tempat tujuannya. Setelah melewati tanah lapang yang tidak terlalu luas, ia berbelok ke kiri. Bukan lagi gang sempit di situ, tapi beberapa rumah yang tidak layak disebut rumah karena hanya terbuat dari triplek berukuran tidak lebih dari 4 meter. Di halaman sebuah rumah yang di sisinya ditanami beberapa pohon pisang, beberapa anak tengah duduk menunggunya di bangku dengan beberapa meja kecil yang ia beli untuk mereka. Ada sekitar 10 anak dengan baju lusuh namun bersih tersenyum menyambutnya.
"Hai, pagi semua," sapanya sambil mengerling ke arah Rara, gadis kecil berumur 10 tahun yang seharusnya sudah duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Keterbatasan ekonomi keluarga Rara membuat ia terpaksa menahan keinginanya untuk sekolah. Ayahnya hanyalah seorang preman pasar yang menghabiskan uang hanya untuk bermain judi, sedangkan Ibunya membuka kios kecil dengan isi seadanya dan kadang menjadi buruh cuci dan setrika di perumahan yang tidak terlalu jauh dari kampung mereka. Pendapatan Ibunya kadang tidak cukup untuk biaya makan sehari-hari. Rara bersama beberapa temannya mengamen di lampu merah bermodalkan gitar kecil lusuh dan suara indahnya yang mampu membuat beberapa orang memberikan uang lebih padanya.
Di sebelah Rara ada Diki. Ia adalah kakak Rara. Usia mereka tidak terpaut terlalu jauh. Diki berumur 13 tahun. Kadang ia mengamen, kadang ia menjadi joki di perempatan, dan kadang ia menjadi kuli bangunan. Hasilnya memeras keringat bisa untuk membelikan Ibu beras atau lauk untuk Rara dan Vina, adik terkecilnya yang berumur 3 tahun.
Di belakang mereka ada Ria. Sama dengan Rara, ia berumur 10 tahun. Namun tidak seperti Rara yang manis dan santun, Ria anak yang berani cenderung nakal. Cara bicaranya kasar. Dari mulutnya sering keluar sumpah serapah. Ia akan memukul siapa saja yang mengganggunya. Ayahnya seorang kuli bubut, sedangkan Ibunya pergi meninggalkan mereka berdua karena sang Ayah tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka. Menurut seorang tetangga yang pernah bertemu dengan Ibu Ria, sekarang ibunya menjajakan diri kepada para lelaki untuk sejumlah uang. Ria jarang bertemu ibunya.
Rara pernah menceritakan bahwa sebenarnya Ria hanyalah anak hasil adopsi yang tidak terlalu jelas asal usulnya. Memang begitu sepertinya. Ria berbeda dengan ayah ibunya. Ayah dan Ibu Ria berkulit gelap sementara Ria berkulit putih bersih dan bermata sipit, seperti orang Cina. Kebiasaan kasarnya didapat dari sang Ibu. Sejak kecil ia terbiasa menerima sumpah serapah untuk kesalahan kecil yang ia lakukan. Sang Ayah hanya bisa diam tanpa berani membela. Hal itu yang mungkin membuatnya menjadi kasar seperti sekarang. Namun, Ria selalu sopan terhadap Kiera. Kelembutan Kiera rupanya meluluhkan hatinya. Ia membelalakkan mata dan membuat ekspresi konyol saat senyum Kiera menyapanya. Kiera tergelak menatapnya. Ia selalu suka melihat ekspresi spontan Ria.
Di samping Ria ada Aldi. Aldi berumur 11 tahun. Aldi anak yang pendiam. Ia tinggal hanya bersama sang Ibu. Ayahnya meninggalkan mereka dan menikah lagi sejak Aldi masih di dalam kandungan. Jadi Aldi tak pernah bertemu dengan sang Ayah. Ibunya bekerja sebagai kuli cuci dan setrika untuk sekadar makan. Masih ada lagi Angga, Hardi, Rendi, Ica, Wiwit dan Oban. Sebenarnya masih ada beberapa anak lagi. Namun, mereka hanya datang kadang-kadang saja. Mereka bersepuluhlah yang selalu rajin datang.
Itulah Rara dan hampir semua anak di sini yang tidak bisa merasakan bangku sekolah karena faktor ekonomi. Kiera ada di sini karena mereka. Hati Kiera yang lembut tersentuh saat sepulang kuliah dia berada di dalam angkot yang sama dengan Rara, Diki dan Vina. Vina merengek kehausan dan Kiera mengangsurkan sebotol air mineral yang digenggamnya. Rara menerima botol itu dan berterima kasih. Lalu Kiera berbincang dengan mereka. Rara menceritakan keinginanya untuk sekolah. Kiera merasakan kesedihan di balik senyum Rara saat ia asyik bercerita tentang mimpinya untuk sekolah. Ia ingin merasakan memakai seragam merah putih dan membawa tas berisi buku dan belajar di dalam kelas. Hati Kiera tersentuh. Ia pun menanyakan alamat mereka. Ternyata tidak terlalu jauh dari perumahanya. Lalu bersama sahabatnya, Lucy, Kiera mencari alamat mereka dan menemukanya. Rara sangat antusias saat Kiera menceritakan keinginannya untuk mengajari mereka dan membelikan beberapa buku untuk Rara dan Diki.
Sejak saat itulah Kiera memutuskan untuk mengajari mereka empat kali seminggu. Ia ingin membagikan ilmunya dengan mereka. Lucy juga tertarik untuk bergabung dengannya. Di sinilah Kiera dan Lucy menyinari jiwa-jiwa yang polos dengan mimpi dan ilmu. Kiera selalu menekankan pada mereka bahwa tak ada yang tak bisa diraih dengan tekad yang kuat dan mimpi yang besar. Rara sangat mengagumi Kiera dan selalu bilang ingin menjadi sepertinya. Ia mengajak beberapa anak untuk ikut belajar bersama mereka. Sebagian besar dari mereka tertarik dan ikut bergabung. Ibu Rara juga terlihat antusias saat Kiera meminta izin untuk mengajari mereka. Hanya Ayah Rara yang menatap dengan sinis saat melihatnya mengajari mereka. Namun, Rara dan Diki menyuruh Kiera untuk mengabaikannya. Kiera suka membagikan ilmunya dengan mereka karena mereka anak-anak yang pintar dan selalu antusias dengan setiap hal yang diajarkanya. Mereka cepat memahami setiap pelajaran. Namun, ketertarikan mereka berbeda-beda. Rara lebih tertarik saat mempelajari tentang musik dan bernyanyi. Diki suka pengetahuan sosial, Ria suka bahasa Inggris dan Aldi selalu antusias tiap belajar Matematika. Juga Angga, Hardi, Ica dan lainnya yang masing-masing punya pelajaran favorit.
Kiera menatap mereka satu per satu, tersenyum, membuka tas dan mengeluarkan beberapa buku. "Kakak punya beberapa buku cerita untuk kalian. Ada yang mau?"
"Mauuuu!" Mereka berteriak kegirangan.
Kiera lalu membagikan beberapa buku yang dibawanya.
"Makasih, Kak!" Mata mereka berbinar menatap buku cerita baru yang ada di tangan. Begitulah, mengajari mereka untuk suka membaca tidak terlalu sulit. Buku-buku cerita yang menarik selalu membuat mereka antusias.
"Oke, kita simpan dulu buku ceritanya ya? Waktunya belajar. Hari ini kita akan mempelajari sistem tata surya. Kalian siap?"
"Siap, Kak!"
"Kalian tahu apa itu pusat tata surya kita?"
"Matahari, Kak!" Diki berteriak lantang. Kiera menaikkan kedua matanya dan menatap Diki. Diki duduk tepat di bawah daun pisang yang melambai tertiup angin. Sinar matahari yang melewati daun itu saat tertiup angin mengenai pundak kurus Diki.
Dada Kiera tiba-tiba berdesir. Ada sesuatu yang ganjil. Seperti ada yang menatapnya dengan lekat. Sesuatu yang tak berwujud namun bisa dirasakan. Jantung Kiera berdetak cepat. Matanya menatap tajam ke arah di mana ia merasa ada yang sedang mengamatinya. Namun, tak juga ada yang ditemukannya. Kiera menggigit bibirnya. Ia menggeleng pelan. Ia tak boleh terlihat resah. Ia pun kembali menatap Diki, tersenyum dan mengangguk.
Sejenak ia lupakan peristiwa ganjil tadi. Kiera memulai pelajarannya dengan bercerita hal-hal yang menarik. Mereka akan antusias untuk memahaminya. Lalu mereka semua segera larut dalam suasana belajar yang menyenangkan di bawah langit biru cerah dengan pelukan lembut cahaya matahari dan belaian angin di rambut mereka. Sesekali gelak tawa terdengar, menambah pagi semakin ceria. Mereka terus belajar tanpa menyadari ada sesosok bayangan hitam mengamati dan memperhatikan setiap hal kecil yang mereka lakukan. Sesosok bayangan tanpa ekspresi. Yang pelahan beranjak dan menghilang sesaat bersama redupnya matahari yang disembunyikan awan yang berarak
Sesosok bayangan hitam itu bergerak cepat ke sebuah rumah sederhana berpagar bambu. Diterobosnya pintu yang sedikit terbuka tertiup angin. Tanpa memedulikan keadaan sekitarnya, ia masuk ke sebuah ruangan. Sebuah kamar tidur. Seorang anak kecil terbaring lemah. Di sebelahnya perempuan setengah baya terduduk lesu. Tangannya menggenggam telapak tangan gadis itu yang terasa panas.
"Ibu...," Gadis kecil itu berbisik pelan.
"Iya, Sayang." Dengan segera sang Ibu berdiri dan membelai keningnya.
"Ratih harus pergi sekarang, Ibu. Ibu baik-baik ya." Gadis kecil itu menatap sesosok bayangan hitam yang berdiri di depannya, menunggunya.
Sang Ibu terisak mendengar perkataan gadis kecilnya. Air matanya berhamburan keluar tanpa bisa dibendung. Sudah 2 minggu gadis kecilnya sakit. Demam berdarah menurut bidan yang ia datangi untuk memeriksa kondisi anaknya. Harus dirawat di rumah sakit. Tapi hal itu tak mungkin bisa dilakukannya. Tidak ada uang sama sekali untuk biaya rumah sakit. Sedikit simpanan uangnya sudah dihabiskan untuk menebus obat. Tidak ada sanak saudara di sini. Suaminya pergi merantau ke luar pulau Jawa dan sudah lama tidak mengirimi uang.
"Ibu... jangan menangis," Tangan lemah gadis kecil itu terulur berusaha menghapus air matanya. Digenggamnya tangan kecil itu.
"Maafin Ibu, Sayang." Sekali lagi sang Ibu tersedu.
Gadis kecil itu menatap sesosok bayangan hitam yang menunggunya. Bayangan hitam itu kini mengulurkan tangannya, mengajaknya pergi. Pendar cahaya keluar dari tangannya. Gadis kecil itu mengangguk, menyambut uluran tangan itu. Sesaat kemudian matanya terpejam, jantungnya berhenti berdetak.
"Tidakkkkkk!" Sang Ibu tergugu.
"Bangun, Nak!" Digoyang-goyangkannya tubuh kurus gadis kecilnya. Air matanya berderai di wajah hingga membasahi tempat tidur. Namun, semua sudah terlambat. Gadis kecil itu telah melangkah ke pendar cahaya dalam gandengan tangan sesosok bayangan hitam. Mereka berdua segera hilang masuk ke dalamnya.
*************************************
Sekali lagi Kiera menyusuri gang kecil yang tadi pagi baru saja dilewatinya. Kali ini ia pulang. Empat jam dilewatinya tanpa terasa. Kebersamaan dengan anak-anak itu selalu menyenangkan. Keluguan dan semangat mereka selalu membuat Kiera terdorong untuk berbuat lebih untuk mereka.
Kiera sudah tiba di jalan raya, tak jauh dari situ ada sebuah perempatan yang lumayan ramai. Di situlah tempat favorit anak-anak untuk mengamen. Pernah Kiera menunggui mereka di sana sambil membawakan buku cerita. Kiera menyeberang dengan hati-hati setelah lampu merah menyala. Ia menunggu angkot ke arah kampus. Hari ini ada kuliah Phonology di kampus. Ia berkuliah di jurusan Sastra Inggris. Ia suka membaca novel-novel klasik seperti karya Ernest Hemingway, Charles Dickens atau Nathaniel Hawthorne. Membaca adalah kesukaannya. Ia bisa masuk ke dunia tanpa batas saat membaca.
Tanpa disadari Kiera, ada sepasang mata menatapnya dari balik kaca sebuah mobil sport merah. Sepasang mata itu menatapnya tanpa berkedip. Sepasang mata milik Rey.
Tentang Rey
Rey tidak pernah mengerti kenapa ia bisa menyukai gadis itu. Gadis biasa yang bukan siapa-siapa itu. Ada rasa yang aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Terpaku Rey selalu oleh sosoknya sekalipun hanya melintas di kejauhan. Sheila yang cantik, Meyra yang merupakan seorang model, Risty yang selalu menjadi pusat perhatian; semuanya tak ada yang mampu menandingi pesona gadis itu. Gadis yang tidak terlalu cantik, tidak terlalu populer, tapi sangat manis dan anehnya bisa membuat Rey terkesima.
Sheila, Meyra, Risty atau siapa pun yang Rey inginkan selalu bisa ia dapatkan dengan mudah. Bahkan biasanya mereka yang mendekati, mencoba merebut hatinya. Wajah Rey yang tampan, Ayahnya yang pejabat terkenal, mobil sport keren, semua seperti magnet bagi para gadis. Sekadar basa-basi Rey memacari mereka untuk sejenak sebelum akhirnya ia tinggalkan. Rey tidak pernah benar-benar bisa menyukai mereka, gaya hidup mereka, dan sifat mereka. Mereka seperti cermin yang membuatnya muak, yang ingin dia singkirkan. Belenggu materi yang penuh hura-hura khas anak muda dan rantai-rantainya yang membuat Rey terpasung dan tenggelam di dalamnya perlahan menghitamkan hatinya dan mengeraskanya seperti karang. Untunglah sebelum Rey hancur di dalamnya, kesadaran itu muncul seperti matahari di musim hujan yang sinarnya menghangatkan hati.
Ingatan akan datangnya kesadaran itu seperti terekam di pita otaknya. Saat itu seperti biasa, Rey pulang dari pesta salah seorang teman yang diadakan di hotel mewah dengan bintang tamu boyband terkenal. Acaranya penuh kesenangan dan kemewahan. Rey menyetir mobil sendiri. Di perempatan yang lumayan ramai, mobil dia jalankan pelan karena lampu berubah merah. Saat itulah Rey melihat gadis itu sedang duduk bersila di taman kecil di tengah perempatan lampu merah dikelilingi beberapa anak yang terlihat dekil dan lusuh. Rambutnya dibiarkan tergerai tertutup topi. Tatapannya hangat dan tangannya merangkul lembut lengan-lengan kecil yang kurus. Mungkin Rey tidak akan memedulikan seandainya wajah itu tidak pernah dia lihat sebelumnya.
Ya, Rey memperhatikan gadis itu sejenak hari Jumat kemarin di kampus karena keberaniannya melawan saat Sheila yang menunjuk wajahnya karena ia tak sengaja menabraknya dengan gaya selebritasnya. Sheila yang wajahnya cemberut setelah tak dipedulikan Rey marah saat gadis itu tak sengaja menabraknya dan menjatuhkan beberapa buku yang dipegangnya. Gadis itu sama sekali tidak menunjukkan wajah takut ataupun gugup seperti kebanyakan anak lain yang berurusan dengan Sheila. Hampir semua anak di kampus ini tahu watak buruk Sheila. Tapi gadis itu berbeda. Wajahnya dingin. Dibalasnya tatapan marah Sheila dengan tajam. Tangannya terjulur mengambil salah satu buku Sheila yang jatuh dan dengan senyum dingin diangsurkanya buku itu ke dada Sheila dengan agak kasar. Lalu tanpa ekspresi dia berlalu begitu saja meninggalkan Sheila yang terbengong dan mengumpat kesal.
Rey terpana oleh wajah dingin gadis itu. Senyum di bibir Rey pecah melihat wajah merah Sheila yang menahan marah. Mungkin baru kali ini dia diperlakukan seperti itu. Rey terbahak dan dalam hati mengagumi kecuekan gadis itu. Namun di taman itu, wajah itu sungguh berbeda. Tidak ada lagi wajah dingin. Wajahnya yang tertutup topi terlihat manis dan lembut, tersenyum kecil dan kadang tertawa lepas saat menyimak celotehan dari mulut-mulut kecil yang mengelilinginya. Tanpa segan gadis itu memeluk dan mengusap rambut mereka hangat. Di pangkuannya ada sebuah sebuah buku besar penuh gambar. Anak-anak itu berebut melihatnya. Entah mengapa hati Rey tergetar melihat senyum tulus itu. Mata Rey tak bisa dialihkan darinya.
Tok, tok?. Suara ketukan di kaca mobil mengagetkan Rey. Ia buka kaca mobil pelan dan menyembul dua kepala bocah perempuan yang tengah bernyanyi sambil mengangsurkan tangan ke arahnya. Mereka yang biasanya tak Rey acuhkan kali ini lebih dia perhatikan. Suara gadis kecil dengan rambut diikat ekor kuda itu sungguh indah, Rey menyadarinya. Mata bening kanak-kanak mereka tak lagi polos dan lugu. Ada beban di wajah mereka yang semestinya belum mampu ditanggung. Aneh, tiba-tiba hatinya seperti tersayat sesuatu. Perih. Rey yang baru saja pulang dari pesta mewah dan gemerlap dengan makanan berlimpah kini dihadapkan pada sesuatu yang bertolak belakang. Bocah-bocah kecil ini menghabiskan harinya di jalanan yang panas, berdebu dan kotor demi sesuap nasi.
Tuhan, di mana nuraniku selama ini? Hati Rey merintih. Hidupnya yang bergelimang harta masih saja kosong terasa. Gadis itu, yang namanya saja bahkan Rey tidak tahu, juga bocah-bocah kecil itu, mengalirkan cahaya kesadaran di hatinya. Rey mengambil uang seratus ribu dari dompetnya dan diangsurkannya ke tangan kurus itu. Mata mereka terbelalak kaget. Rey tersenyum dan mengangguk. Mereka meloncat kegirangan dan berlari ke arah gadis itu setelah mengucapkan terima kasih. Dengan bersemangat mereka menarik tangan gadis itu, menunjuk ke arah Rey, sepertinya menceritakan kegembiraan mereka. Untungnya kaca mobil telah ia tutup saat gadis itu menoleh ke arahnya. Gadis itu lalu mencubit pipi dua bocah itu gemas. Mereka semua tertawa lebar. Rey melihat keharuan di mata gadis itu saat menatap bocah-bocah yang mengelilingnya tertawa senang. Senyumnya perlahan menghilang. Diusapnya kepala bocah-bocah kecil itu hangat. Kehangatan gadis itu seakan memancar ke relung hati Rey, membuka sekat gelap kesombongan dan keangkuhannya, lebur dalam senyum tulus dari hatinya untuk pertama kalinya.
Gadis itu sekarang berada di sisi jalan di depannya menunggu angkutan umum. Ingin rasanya Rey meloncat turun dan mengajaknya naik ke mobil dan mengantarkanya ke mana saja ia mau. Namun sayang, lampu sudah hijau. Suara klakson di belakangnya membuat Rey buru-buru menjalankan mobil. Saat Rey menatap ke arah gadis itu, ia telah naik ke sebuah angkot. Rey menghela napas dalam dan menjalankan mobilnya pelan menuju arah kampus.
"Kie, tunggu!" Teriakan Lucy mengagetkan Kiera yang baru saja sampai di gerbang kampus. Ia menghentikan langkah dan menunggu Lucy yang setengah berlari ke arahnya.
"Lu abis dari Twilight ya?? Gimana bocah-bocah?"
'Twilight'. Kiera selalu merasa geli dengan istilah yang dipakai Lucy untuk menyebut tempat mereka mengajari anak-anak. Lucy menyebutnya Twilight karena saat mereka belajar pantulan keemasan matahari yang menyeruak di sela daun pisang membuat rambut kusut bocah-bocah kecil itu sewarna matahari senja. Kiera dan Lucy selalu terkesima melihatnya. Anak-anak kurang beruntung itu belajar bersama angin dan matahari.
"Iya, gue abis dari sana. Ditanyain lu ama Rara. Pengin belajar nyanyi lagi dia,"
"Sorry, gue kan dah Line lu kalau pagi ini gue mesti nemenin nyokap ke supermarket."
"Gue tahu, nggak apa-apa kok," Kiera tersenyum memandang sahabatnya sejak SMA itu.
"Trus Rara gimana, Kie? Suara dia bagus banget tahu. Gue pengin dia bisa latihan vokal. Bisa jadi penyanyi terkenal nanti dia." Mata Lucy berbinar. Kiera tahu apa yang di benak Lucy.
"Lu kan bisa main gitar, Cy, ajarin dong dikit-dikit. Biar makin keren nyanyinya." Lucy memang jago bermain gitar. Ia mewarisi darah seni dari Papanya yang dulu punya band lumayan terkenal dan sampai sekarang pun masih sering tampil di kafe-kafe.
"Oke, ntar gue bawa deh gitar gue kalua ke sana."
"Sippp! Anak-anak pasti bakal seneng. Gitu dong Lucy sayang!" Kiera mencubit pipi Lucy gemas. Lucy meringis dan balas menarik rambut Kiera. Kiera berlari kecil sambil tertawa dan menoleh ke arah Lucy yang mengejarnya.
Brukk! Tanpa Kiera sadari, ia menabrak seseorang.
"Maaf..." Kiera meminta maaf sambil membungkuk mengambil bukunya yang terjatuh. Tapi sebuah tangan terulur mengambil buku itu terlebih dahulu dan mengangsurkanya ke tangan Kiera.
"Nggak apa-apa kok. Nih buku kamu," Kiera menerima buku itu.
"Makasih ya," Sambil tersenyum Kiera menatap sosok di depannya itu. Sosok yang juga tengah menatapnya lekat. Tinggi, putih, mengenakan kemeja kotak-kotak dengan t-shirt putih dan celana jeans yang robek di bagian lututnya.
Sosok itu tak pernah dilewatkan lirikan gadis-gadis di kampus. Siapa yang tak kenal dia? Rey Kusuma Atmadja. Idola di kampus. Meskipun beda jurusan, kebetulan kampus mereka berdekatan. Rey anak hukum. Setiap kali Rey lewat, mata para gadis tak bisa teralihkan dari sosoknya. Namun, Rey selalu dingin. Hanya beberapa cewek yang terlihat dekat dengannya. Sheila yang cantik, Meyra yang seorang model, atau Risty yang populer. Selain mereka, tak ada yang bisa mendekati Rey.
Kiera tak terlalu peduli dengan hal itu. Baginya Rey bukan siapa-siapa dan tak pernah bisa menarik perhatiannya. Ia hanya tersenyum simpul, menerima bukunya, dan melangkah sambil menarik tangan Lucy yang masih terpaku menatap Rey.
Rey mengangguk kecil. Ada sesuatu yang hangat yang mengalir di dadanya melihat tatapan Kiera. Ia melihat dengan jelas mata Kiera tadi. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang istimewa. Seperti kilatan cahaya, mata itu menembus ke jantungnya. Mata yang bening dengan manik cokelat di tengahnya. Wajahnya tanpa riasan, namun terlihat sangat indah. Seperti permukaan danau yang hangat yang membuatnya ingin menyelam ke dalamnya. Rey menghela napas, masih melihat punggung Kiera di kejauhan yang berjalan setengah berlari sambil bercanda dengan sahabatnya. Mereka berdua tidak tahu jika ia sengaja berdiri di situ menunggu sejak tadi.
Tanpa ada yang menyadari, sesosok bayangan yang sejak tadi melihat kejadian itu perlahan juga berlalu. Sosok itu juga menyimpan mata cokelat Kiera dalam hatinya. Sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya.
"Gila lu, Kie! Tadi itu Rey! Rey, Kie!!" Lucy melepaskan tarikan tangan Kiera dan berhenti mendadak. Bibirnya cemberut kesal.
"Trus kenapa kalau Rey, Cy? Siapa juga Rey? Kenal juga nggak." Dengan tak acuh Kiera menjawab sambil terus berjalan.
"Kie!" Lucy menarik ujung kemejanya. Kiera berhenti dan melotot.
"Lu kenapa sih, Cy?!"
"Lu yang kenapa, Kie! Cowok tadi itu Rey! Semua cewek bakal melted ama doi! Napa lu cuek banget sih? Pergi gitu aja, bukannya say hi kek atau bilang apa kek. Otak lu jalan nggak sih, Kie?!"
"Lucy! Lu makan apaan sih tadi pagi?? Napa tiba-tiba kayak orang kesurupan gini? Gue nggak peduli ya ama yang namanya Rey atau siapa pun itu. Gue nggak kenal!"
"Gosh, Kie! Lu tahu nggak sih, cewek-cewek rela ngelakuin apa aja asal Rey mau ngobrol ama mereka? Dia itu keren banget, Kie! Lu punya mata nggak sih, Kie??!"
"Gue tahu, Usil! Tapi gue nggak peduli. Dah yuk, buru! Lima menit lagi masuk nih!" Kiera menarik lengan Lucy yang masih terlihat kesal dengan kecuekan Kiera.
"Jangan-jangan lu emang nggak suka cowok Kie, makanya ke mana-mana lu ama gue mulu. Rey yang sekeren itu aja lu nggak peduliin. Jangan-jangan..." Lucy berhenti mendadak. Mau tak mau Kiera mengikutinya. Ekspresi Lucy terlihat ngeri. Tangannya menutup mulut dan matanya terbelalak lebar.
"Apa???!!!" Kiera berteriak.
"Jangan-jangan lu suka ama cewek! Lu suka ama gue ya??" Masih dengan ekspresi konyol, Lucy menatap Kiera ketakutan.
"Crazy!" Kiera melotot dan menarik rambut panjang Lucy kencang.
"Awwww!" Lucy meringis kesakitan. Dicubitnya lengan Kiera.
Kiera mengelak dan setengah berlari menuju kelas. Lidahnya terjulur ke arah Lucy yang masih bersungut-sungut. Lucy mengejarnya hingga langkah mereka berdua terhenti di depan pintu kelas. Pak Ridwan, dosen Phonology mereka yang terkenal disiplin dan killer telah menunggu di dalam. Mereka berjingkat pelan mereka menuju kursi di tengah, menaruh tas, mengeluarkan buku, lalu berpandangan dan tergelak tanpa suara.
*************************************
senja masih kemerahan. Perpaduan merah dan oranye membentuk jingga yang indah. Matahari hampir tenggelam di ujung lautan. Peri-peri senja melukis langit, menghiasinya dengan cahaya keemasan membuat senja semakin hangat. Ada yang berdiri diam menatap senja dari bukit karang di tepi lautan. Banyak tugas yang mesti diselesaikan dan menantinya. Selama ini ia mampu menyelesaikan tugasnya dengan sempurna. Ia diciptakan tanpa emosi dan hati, membuatnya mudah melihat mereka yang mencinta dan dicinta berpisah. Sudah banyak yang ia lihat selama ini. Tak ada satu pun yang mampu menggugah perasaannya.
Namun, hari ini sesuatu yang berbeda terjadi. Saat ia tengah mengamati seorang anak yang mesti ditemaninya, sepasang mata bening dengan manik cokelat di tengahnya menatapnya lekat, menyihirnya, dan membuatnya seakan beku. Sosok manis dengan mata bening dan keriangan jiwanya. Ada yang perlahan mengisi ruang yang sebelumnya kosong tepat di rongga dadanya. Sesuatu yang ganjil, namun hangat. Tanpa disadari, tiba-tiba bibirnya membentuk lengkungan. Sebuah senyuman. Ia terkesiap. "Tidak. Ini tak boleh terjadi," desisnya pada diri sendiri. Ia lantas berdiri tegak, merentangkan kedua tangannya, menatap langit dan mengangguk. Ada yang harus diselesaikannya sekarang. Ia pun melesat pergi.
************************************
Kiera tengah menelusuri sebuah web untuk mencari tugas kuliahnya. Ia tidak menyadari ada sosok yang memperhatikanya sejak tadi. Sosok itu kini tengah duduk di kursi belajar Kiera, memperhatikan setiap detail yang dilakukan Kiera. Memperhatikan binar mata Kiera saat ia tengah tertarik dengan sesuatu. Juga senyumnya yang terlihat menawan dan keningnya yang bertaut saat sedang memikirkan sesuatu. Tanpa berkedip ia memperhatikan setiap gerak Kiera. Ia tidak menyangka saat tiba-tiba Kiera duduk, berbalik, dan dengan cepat mengambil buku catatan dan pulpen di atas meja kecil tepat di depannya. Wajah Kiera hanya berjarak beberapa senti di depannya. Sosok itu mematung.
Saat itulah Kiera merasa tiba-tiba membeku. Ada yang hangat mengusap pipinya. Seperti helaan angin lembut. Mata Kiera terbelalak menatap ke suatu titik yang seakan-akan menjelma menjadi sesuatu yang nyata, namun tak bisa ia sentuh atau ia lihat. Kiera terpaku di situ seakan ada kekuatan yang membuatnya tak bisa bergerak. Sosok itu pelahan berdiri, menatap lekat ke mata Kiera, lalu bergerak menjauh. Kiera terduduk lemas di atas kasurnya, mencoba memahami apa yang barus saja terjadi. Jantungnya masih berdetak kencang. Ia pun menghela napas dalam, mencoba tenang.
Di sebuah puncak gedung pencakar langit sesosok bayangan hitam berdiri, menyilangkan kedua tanganya di depan dada dan menatap lurus ke depan. Raut mukanya yang biasanya tanpa ekspresi kini terlihat berbeda. Ada emosi yang perlahan membentuk semburat merah di pipi yang biasanya pucat. Tatapan matanya juga terlihat hangat. Ada yang bergejolak di dalam dadanya. Ia menatap ke sekeliling. Dari puncak gedung tempat ia berdiri semua terlihat. Gedung-gedung tinggi yang seakan ingin menantang langit di malam hari terlihat seperti raksasa hitam yang mendekam hampir memenuhi seluruh kota. Lampu jalanan yang berderet di sepanjang jalan terlihat indah dari puncak gedung. Juga lampu mobil yang tak berhenti begerak, seperti ribuan kunang-kunang. Namun bukan itu yang ada di pikirannya sekarang, melainkan sepasang mata cokelat yang menatapnya tajam. Tatapan yang tak bisa ia enyahkan dari kepalanya sekuat apa pun ia mencoba. Setiap kali ia mencoba untuk menyingkirkan tatapan itu, semakin ia ingin menatapnya sekali lagi dan lagi. Akhirnya, ke mana pun pemilik sepasang mata cokelat nan indah itu berada, ia akan selalu di situ. Lekat menatapnya tanpa ada seorang pun menyadari. Sesuatu itu baru dirasakannya kali ini. Sesuatu yang berbeda dan indah.
**********************************
"Kak Kie! Kakak inget Ratih nggak?" Baru saja Kiera sampai di ujung gang, anak-anak telah menyambutnya, menarik tangannya. Rara langsung bertanya dengan antusias.
"Iya, Kakak inget. Yang rambutnya panjang kan? Yang ada lesung pipit di pipinya?" Kiera ingat sosok Ratih. Dulu ia sering ikut belajar bersama mereka di sini. Tapi akhir-akhir ini tak pernah dilihatnya lagi.
"Kenapa Ratih, Ra?"
"Ratih meninggal, Kak! Kemarin. Ia sakit demam berdarah." Pelan nada suara Rara menyampaikanya.
"Oh! Maaf, Kakak nggak tahu, Ra. Kok nggak cerita ama Kakak sih waktu sakit? Harusnya Kakak bisa jengukin."
"Rara juga nggak denger, Kak. Kirain sakit biasa aja,"
Mata Kiera menerawang. Ia teringat sosok Ratih yang manis namun pendiam. Lalu ia menunduk, menggumankan beberapa doa dalam hatinya untuk Ratih. Suasana hening sejenak. Anak-anak juga menunduk diam.
"Wah! Sori gue telat! Udah mulai dari tadi ya?" Keheningan itu pecah dengan suara ceria Lucy. Sambil setengah berteriak dan berlari kecil Lucy mendatangi mereka.
"Kakak bawa gitar?? Keren! Rara mau lihat, Kak!" Rara berteriak girang melihat Lucy datang membawa gitarnya. Anak-anak yang lain juga ikut merubung Lucy. Suasana kembali ceria dengan celotehan mereka.
"Kakak nyanyi dong!" Ria memberikan sebuah bangku untuk Lucy. Lucy duduk memegang gitarnya, memainkan beberapa kunci dan mengalirlah suara lembutnya lewat lagu You Are The Reason milik Calum Scott, lagu manis kesukaannya. Anak-anak bersorak dan menatap Lucy dengan kagum. Kiera tersenyum memandang mereka. Hari ini mereka akan belajar musik. Rara pasti akan menjadi seeorang yang paling antusias. Ada bakat seni yang mengalir di dirinya. Lucy mengajari dia sebuah lagu dan dengan cepat ia bisa menyanyikannya dengan bagus. Kiera masih memperhatikan mereka saat tiba-tiba ia merasakan desiran angin lembut meniup beberapa helai rambutnya. Jantungnya kembali berdetak kencang. Dengan tajam pandanganya menyapu ke berbagai arah. Tapi tak ada yang ditemukannya. Hanya seperti biasa, sinar matahari di sela-sela dedaunan yang melambai ditiup angin dan juga rumah-rumah kardus yang teronggok diam. Kiera menggigit bibirnya. Masih dirasakannya keberadaan sesuatu di dekatnya seperti semalam. Sesuatu yang dekat namun tak bisa dilihatnya. Kiera beranjak dan segera bergabung dengan anak-anak untuk melupakan apa yang barusan terjadi. Segera ia larut ke dalam keceriaan mereka.
"Kie, Rara bener-bener berbakat deh. Suara dia bagus banget! Trus cepet banget dia ngapalin kunci-kunci yang gue ajarin. Dia bisa jadi penyanyi berbakat, Kie!" Dengan antusias Lucy berceloteh tentang bakat bernyanyi Rara. Setiap kali ia tertarik dengan sesuatu, mata Lucy yang bulat selalu berbinar. Kiera menyukai hal itu. Pelajaran selesai dan mereka berdua kembali menyusuri gang kumuh itu, ada kuliah siang ini di kampus.
"Sumpah, Rara bagus banget suaranya, Kie"
"Gue tahu, Cy. Gue tadi juga lihat. Keren nyanyinya. Bagusan dia daripada elu, Cy." Kiera terbahak saat Lucy menarik rambutnya sambil melotot kesal.
"Gue yang ngajarin, Kie! Pasti gara-gara yang ngajarin hebat jadinya dia hebat!"
"Sebelum lu ajarin, dia juga udah keren."
"Tapi sekarang jadi lebih keren!"
"Emang iya?" Kiera mengerutkan keningnya setengah meragukan perkataan Lucy.
"Nggak percaya??"
"Nggak!"
"Oke!" Kiera tahu ada ide jahil di kepala Lucy tiap kali dia mengangkat dagu dan kedua alisnya. Benar saja, tiba-tiba tangannya menyibak rok pendek Kiera sampai terlihat setengah paha putih Kiera, kebiasaan yang ia lakukan saat menggoda Kiera. Kiera memekik.
"Lucy! You're crazy! Awas lu yaaa!!" Kiera dongkol setengah mati tiap kali Lucy melakukan kebiasaanya itu. Ditariknya rambut Lucy kencang. Lucy meringis, mendorong Kiera dan berlari menjauh.
"Lucy!!" Kiera berteriak kesal. Setengah berlari ia mengejar Lucy. Pedagang ketoprak yang tengah melintas tertawa kecil melihat kedua sahabat yang tengah bercanda itu.
"Hai!" Lucy yang telah sampai di ujung gang tiba-tiba berhenti. Sebuah sapaan mengagetkan dirinya. Ia lebih terkejut lagi saat mengetahui siapa sosok yang menyapanya. Kiera yang berhenti tepat di belakangnya juga terlihat kaget melihat cowok yang tengah bersandar di belakang mobil merah yang semua anak di kampus tahu milik siapa. Rey.
"Hai..." Setengah ragu Lucy menjawab sapaan Rey.
"Tadi gue lewat sini, trus gue lihat kalian kejar-kejaran kayak biasanya. Gue tahu kalian pada mau langsung ke kampus. Yuk, bareng gue sekalian?" Rey berdiri tegak, melirik Kiera dengan ujung matanya dan beranjak membukakan pintu mobil untuk mereka. Mereka berdua masih terpaku diam, berpandangan. Lucy mengangkat alisnya, menyembunyikan senyum kecilnya. Kiera membulatkan matanya dan menggeleng pelan.
"Makasih, tapi kita naik angkot aja deh." Kiera menatap Rey dan menjawab dengan ragu. Ia masih merasa aneh kenapa tiba-tiba cowok itu ada di sini dan mengajak mereka naik mobilnya.
"Hey, come on! Kita sekampus, girls. Gue nggak bakal apa-apain kalian. Tenang aja." Rey tersenyum geli melihat ekspresi ragu Kiera. Ia tak terbiasa dengan hal itu. Tak pernah ada cewek yang menolak ajakannya ke mobil.
"Tapi..." Kiera menatap Lucy, meminta bantuannya untuk menolak ajakan Rey.
Tapi tak seperti yang diharapkan, mata Lucy berbinar dan dengan segera ia menarik tangan Kiera, menyeretnya masuk ke mobil. "Yuk, Kie! Kita bareng aja, nggak perlu nunggu angkot. Lama ntar."
Kiera mendelik kesal melihat respons Lucy yang tak membantunya sama sekali, malah menariknya ke mobil. "Lucy! Bentar!" Kiera berusaha melepaskan tangan Lucy, tapi Lucy malah menariknya kencang. Mau tak mau Kiera akhirnya masuk ke dalam mobil. Rey tersenyum lebar, menutup pintu mobil, dan segera masuk menyalakan mesinnya. Mobil pun melaju pelan di jalanan.
"Thanks ya udah mau bareng gue. Perjalanan gue jadi lebih seru ditemenin cewek-cewek cantik kayak kalian." Rey melirik Kiera dari spion mobilnya.
Kiera masih cemberut menatap Lucy yang terlihat sangat ceria.
"Iya, kita yang makasih. Jadi nggak perlu nunggu angkot deh." Lucy tak memedulikan tatapan Kiera yang penuh ancaman. Matanya tak berhenti berbinar. Ia sangat senang bisa naik mobil ini. Sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hanya ada beberapa cewek yang pernah ia lihat keluar dari mobil ini; Sheila, Meyra dan Risty, cewek-cewek populer di kampus. Akhirnya ia bisa juga ada di mobil ini. Lucy tersenyum sangat senang.
"Oh iya, kita belum kenalan. Gue Rey." Lampu lalu lintas berubah merah dan mobil Rey pun berhenti. Rey memutar tubuhnya menatap mereka dan mengangsurkan tangannya.
"Gue Lucy." Dengan penuh semangat Lucy menyambut uluran tangan Rey.
"Kiera." Kiera megulurkan tangannya saat siku Lucy menyodoknya. Ia masih kesal karena Lucy memaksanya masuk ke mobil ini. Sambil bersalaman, ia menatap mata Rey yang hangat dan tersenyum. Pelahan kekesalannya hilang. Apalagi saat dilihatnya Rey yang langsung membuka kaca mobil dan mengangsurkan selembar dua ribuan ke anak kecil yang mengetok kacanya sembari menyanyikan lagu yang tak jelas.
"Gue sering lihat kalian di sekitar sini pas gue lewat. Rumah kalian di sekitar sini?" Rey kembali menoleh dan menatap Kiera.
"Nggak kok. Kita..."
"Kebetulan ada yang mesti kita lakuin di sini." Kiera memotong ucapan Lucy cepat.
"Ooh. Oke. Kalian anak Sastra Inggris kan? Gue lihat kalian di kampus 2. Kampus kita deketan." Kata-kata Rey membuat Lucy mengangkat kedua alisnya dan menatap Kiera. Dia heran kenapa Rey bisa tahu tentang mereka. Tak pernah terpikir seorang Rey bisa tahu hal itu.
"Emmm... iya..." Lucy menjawab cepat. Ia tersenyum lebar. Ia senang Rey memperhatikan mereka. Kiera tersenyum geli memperhatikan ekspresi Lucy. Rey yang menjalankan mobilnya dengan pelan melirik dari kaca spion, matanya meredup melihat senyum Kiera. Senyum dari pemilik mata cokelat yang diam-diam ia kagumi, yang sekarang namanya ia tahu. Kiera.
Rey juga tersenyum mengingat Kiera dan Lucy tidak tahu kalau ia telah merencanakan hal ini. Rey sering mengamati Kiera diam-diam dan ia tahu mereka sering keluar dari gang itu. Ia memarkirkan mobilnya tepat di depan ruko sebelah gang, menunggu Kiera muncul dari situ dan mengajaknya ke kampus bersama. Semua sesuai yang direncanakan karena ada Lucy di sana. Lucy yang terlihat menganguminya. Rey tersenyum. Ia tak bisa mengalihkan pandangan matanya dari Kiera melalui kaca spion. Kiera yang tergelak setiap Lucy menceritakan sesuatu yang lucu, yang mata cokelatnya terbelalak lebar saat Lucy menggodanya. Dada Rey berdesir tiap kali melirik mata cokelat itu. Sesekali ia menimpali obrolan mereka berdua. Lucy terlihat antusias dengannya, namun Kiera masih terlihat dingin dan cuek. Hanya sesekali menimpali dan tersenyum kecil.
"Here we come." Rey berbelok ke gerbang kampus ke arah parkiran lalu menghentikan mobilnya tepat di sebelah jalan utama masuk ke kampus fakultas hukum. Benar saja, beberapa pasang mata terpana melihat Kiera dan Lucy turun dari mobil sport keren Rey.
Kiera Aelesha dan Lucy Dyvetta, dua cewek yang biasa-biasa saja jika dibandingkan dengan Meyra atau Risty. Tidak terlalu biasa saja sebetulnya. Mereka berdua juga cantik. Kiera dengan mata cokelat indah di bawah alis berbentuk bulan sabit yang sempurna, juga rambut hitam lebat sebahu yang dibiarkan terurai atau kadang diikat ke belakang, terlihat sangat manis. Namun, ia tidak terlalu tinggi. Banyak orang menyangka ia masih SMA karena perawakannya yang mungil dan matanya yang selalu berbinar saat tertawa seperti mata kanak-kanak.
Berbeda dengan sahabatnya, Lucy, ia tinggi, putih dan berambut pirang. Mamanya asli dari Australia. Sewaktu Papanya kuliah di sana, mereka bertemu, saling jatuh cinta dan akhirnya menikah. Sekarang Mamanya menetap di sini, di Indonesia. Lucy bermata bulat namun hitam, seperti Papanya. Ia sangat periang, juga antusias terhadap segala hal. Satu lagi, ia sangat iseng dan selalu punya ide jail di mana pun ia berada. Kiera sering menjadi korban keisengannya itu.
Di mana pun mereka berada, selalu saja mereka bercanda dan tertawa. Di kampus pun mereka berdua sering menjadi pusat perhatian karena tergolong mahasiswa yang pintar dan aktif. Mereka berdua bergabung di UKM Teater dan Jurnalistik. Namun, akhir-akhir ini mereka berdua disibukkan dengan urusan mengajar anak-anak, jadi jarang-jarang mereka ikut kegiatan kampus. Namun sepopulernya mereka berdua, tidak ada apa-apanya dibandingkan kepopuleran Sheila, Meyra atau Risty. Kampus mereka termasuk kampus elite, kampus untuk mereka yang berotak cerdas atau yang berkantong tebal. Banyak artis dan anak pejabat yang kuliah di sini. Tiga gadis tercantik itu sangat populer dan semuanya terlihat lengket dengan Rey. Jadi wajar saat Kiera dan Lucy turun dari mobil Rey semua mata memandang mereka dengan heran. Apalagi saat Rey berjalan beriringan dengan mereka.
"Kita ke kampus dulu ya. Thanks atas tumpanganya." Kiera tersenyum menatap Rey. Ia ingin segera berlalu dari situ, risi dengan tatapan beberapa pasang mata yang terlihat sinis.
"Iya. Makasih ya? Jadi cepet deh nyampainya." Lucy menimpali sambil mengapit lengan Kiera.
"Tunggu, kita bisa jalan bareng. Gue mau beli minum dulu ke kantin." Rey beralasan. Ia masih ingin bersama Kiera sedikit lebih lama lagi dan menikmati senyum dan mata cokelat yang memabukkan itu.
"Mmm... tapi... kita buru-buru nih." Kiera menjawab ragu.
"Ya elah, gue cuma bareng sampai kantin doang kok. Habis itu kalian bisa lari deh ke kelas." Rey tersenyum jail dan melangkah di samping Kiera.
"Sebenernya gue jarang masuk kuliah. Males. Tapi kayaknya sekarang gue bakal lebih rajin deh. Sepertinya jadwal kuliah kita samaan." Rey melirik Kiera.
"Waaaa! Jadi sering ketemu dong, asik!" Lucy mencubit lengan Kiera dan Kiera hanya menarik ujung bibirnya, membentuk senyuman kecil. Lucy melihat sekeliling dan ia menikmati menjadi pusat perhatian. Kiera dan Rey melangkah dengan cuek.
"Rey!" Sebuah teriakan menghentikan langkah Rey. Kiera ingin terus berjalan, tapi Lucy menarik tangannya lagi sehingga membuatnya ikut berhenti. Sesosok tubuh tinggi langsing dengan rok pendek dan high heels berjalan tergesa menghampiri Rey.
"Where have you been? Gue cari-cari elu dari tadi. Who are they?" Sheila dengan gaya selebritasnya menarik tangan Rey dan mengamati Kiera dan Lucy bergantian.
"Hey! I remember you! Lu yang nabrak gue kemarin itu kan? Nggak tahu diri banget deh." Ia menatap Kiera seperti ingin menelannya. Ia kesal melihat Rey berjalan bersama mereka berdua dan Rey yang terlihat menikmati kebersamaan itu.
"So what? Gue udah bilang sorry kan." Kiera menjawab setengah tak peduli. Lucy terbelalak mendengar jawaban Kiera. Ia tak menduga Kiera bakal menjawab sedingin itu.
"Apaan sih, Sheil. Udahlah, lu masuk kelas sana. Gue mau ke kantin dulu. Yuk, guys!" Rey mengibaskan tangan Sheila dan pandangan matanya seperti perintah yang membuat Kiera dan Lucy mengikutinya. Sheila terpana melihat reaksi Rey. Rey tak pernah sedingin itu sebelumnya. Biarpun ia tak pernah bersikap hangat, namun ia tak pernah tak mengacuhkannya.
"Shit!" Ia berguman kesal dan dengan langkah lebar segera berlalu. Lucy tampak menahan tawa melirik Sheila sekilas. Kiera terlihat cuek membulatkan matanya saat Lucy menatapnya dengan tawa di matanya.
"Kita langsung ke kelas ya, bentar lagi masuk nih." Kiera menatap ke kelasnya. Kantin fakultas hukum berdekatan dengan pintu masuk fakultas sastra bagian belakang. Dari situ terlihat kelas-kelas fakultas sastra.
"Okay, see you girls." Setengah tak rela Rey menjawab. Seperti ada magnet di diri Kiera yang membuatnya ingin terus bersamanya. Ada perasaan hangat tiap kali menatap mata cokelatnya.
"See you too..." Belum selesai Lucy berbicara, Kiera langsung menarik tangannya sambil berlari kecil ke arah kelas. Rey hanya bisa memandang mereka berdua.
"Gila! Rey, cowok terpopuler di kampus kita, Kiera! Kita bareng ama dia! Semobil ama dia!" Lucy berseru dan melompat. Kiera menarik kursi dan menaruh tasnya di situ.
"Emang kenapa sih? Nggak usah heboh-heboh amat gitu kenapa?" Kiera membuka ritsleting tasnya dan mengeluarkan sebuah novel. Black Feminsm karya Alice Walker. Kuliah hari ini adalah telaah novel.
"Kiera! He is Rey! Wake up!" Lucy melotot sebal.
"Dan tadi lu lihat nggak gimana ekspresi Sheila ngelihat kita jalan bareng Rey? Mampus gila!" Tawa Lucy meledak. Kiera melirik geli melihat tawa Lucy.
"Cewek tengil gitu. Gayanya aja selangit." Kiera menjawab tak peduli.
"Lu keren banget sumpah, Kie! Gue nggak sangka temen gue bisa segokil itu di depan Sheila!" Lucy masih terkekeh geli.
"Sheila doang. Apanya sih yang mesti disungkanin?"
"Tapi doi model, Kie! Cantik banget! Nggak ada yang nggak tahu dia!"
"Bukan berarti gue mesti segen ama dia kan?"
"At least lu basa-basi kek, say hi kek."
"For what, Usil?? Nggak guna tahu nggak. Cantik tuh mesti dari dalem juga. Gue nggak lihat itu sama sekali."
"Gue tahu, Kie. Tapi gimana ntar kalau lu dikeselin ama geng mereka gara-gara kelakuan elu?"
"I don't care. Gue nggak ada masalah ama mereka."
"Wait! Lu ada masalah Kie ama mereka!"
"Apa??"
"Rey suka ama elu! Gue bisa lihat, Kie! Dia nggak bisa berhenti lihatin elu!"
"Jangan becanda deh, please."
"It's true, Kie! Taruhan lu makan bakso sambelnya 5 sendok kalau gue menang??"
"Fine! Trus apa hubungannya ama Sheila and the gang?"
"Rey itu milik mereka. Mereka bakal habisin elu kalau Rey suka ama elu."
"Lah! Emang gue suka ama Rey? Helloo... please deh."
"What?? Lu nggak suka Rey??"
"Nggak!"
"You're weird!"
"So??"
"Lu cewek paling ngeselin sedunia tahu nggak! Kenapa bisa nggak suka a perfect Rey sih??"
"Karena..."
"Gue tahu! Karena lu nggak suka cowok kan?? Lu sukanya ama cewek kan?? Haha!!"
Semua mata menatap ke arah mereka berdua. Kelas sudah lumayan ramai dan tawa Lucy memenuhi seluruh ruangan. Kiera menatap Lucy kesal. Diambilnya kamus Oxford di atas meja dan dipukulkannya ke lengan Lucy. Lucy sontak menghentikan tawanya dan mengaduh pelan. Saat ia meloncat ingin membalas Kiera, saat itulah Mrs. Meilani, dosen mereka, datang. Lucy segera duduk manis di kursinya sambil melirik Kiera penuh dendam. Kiera menjulurkan lidahnya.
Rara, Diki dan Jalanan Berdebu "Rara! Cepet!" Teriakan Ria seperti hilang ditelan gemuruh suara klakson dan raungan berbagai macam kendaraan di perempatan di tengah kota yang selalu ramai. Lampu berubah hijau dan Rara masih berdiri di samping mobil-mobil yang melaju pelan. Ia terlalu asyik menyanyi hingga tak sempat memperhatikan lampu yang berubah hijau. Pagi tadi Lucy mengajarinya bernyanyi, ia langsung hafal beberapa lagu yang diajarkan. Jadilah ia membuat para pengendara mobil dan motor yang mendengarkan nyanyiannya sampai terpesona dengan suara emas Rara sehingga mereka tak segan mengangsurkan beberapa lembar uang yang kini memenuhi kantong plastik bekas bungkus permen di tangan Rara. "Makasih." Rara tersenyum dan mengangguk saat pengendara mobil itu membuka kaca mobilnya dan mengangsurkan satu lembar dua ribuan. Lalu mobil itu melaju pelan, juga mobil-mobil di belakangnya. Sayup didengarnya teriakan Ria. Dengan melompat-lompat kecil Rara setengah berlari menghampiri Ria. "Wah! Lumayan juga lu dapet duit, Ra. Sampai penuh gitu. Baru juga sejam." Ria melirik kantong plastik di tangan Rara dengan takjub. "Iya nih, beruntung banget gue. Tadi gue nyanyiin lagu yang Kak Lucy ajarin. Kayaknya orang-orang pada suka." Rara tertawa lebar. Ia pun menaruh gitar kecilnya di atas trotoar, duduk di samping Ria, dan bersiap menghitung uang yang diperolehnya sesaat tadi. "Woi!! Kalian berdua, sini!!!" Teriakan menggelegar mengagetkan mereka berdua. Rara dan Ria menoleh cepat ke arah teriakan itu. Ternyata Bang Somad, preman yang menguasai daerah sini. Semua yang mengamen di sekitar sini harus menyetor sejumlah uang ke Bang Somad atau ia akan menghajar mereka dan tak memperbolehkanya mengamen di daerah kekuasaannya ini. Tak seperti gambaran preman biasanya dengan badan besar, jambang dan brewok serta tato di seluruh tubuh, Bang Somad berperawakan kecil, tinggi kurus, rambut gondrong awut-awutan, mata cekung dan tato di lengan kiri dan kanannya. Tato yang tak jelas gambarnya apa. Sebatang rokok tak pernah absen dari selipan di bibirnya. Sering kali bau alkohol keluar dari mulutnya saat ia berbicara. Ia termasuk preman yang ditakuti di daerah sini karena ia akan melibas siapa saja yang berani melawannya. "Siniii!!!!" Sekali lagi ia berteriak sambil melambaikan tangannya ke mereka berdua. Ria dan Rara segera bangkit dari duduknya dan berjalan cepat ke arah Bang Somad. "Pintar! Banyak sekali hari ini kau dapat. Sini! Bagi Abang buat beli rokok." Baru saja Rara hendak mengambil beberapa lembar dari kantong uangnya, Bang Somad dengan cepat mengambil kantong itu dari tangannya dan mengambil setengahnya. "Nih! Sono cari lagi yang banyak. Kalian bener-bener andalan gue. Ngamen lagi sana." Dengan kasar diangsurkanya kantong uang itu kembali ke Rara. Rara menggigit ujung bibirnya, menerima kantong itu, dan kembali ke trotoar tempat ia tadi menaruh gitar kecilnya. Ria menggamit lengannya. Mereka berdua duduk merenung, menunggu lampu kembali merah. "Gue kesel ama Bang Somad. Kenapa mesti ambil uang gue semaunya sendiri. Kan harusnya nggak mesti sebanyak itu. Gue kan pengin kasih Ibu buat beli beras." Rara menggerutu saat menyusuri jalanan sepulang dari mengamen. Matahari telah beranjak ke arah barat. Mereka berdua merasa letih dan lapar sehingga memutuskan untuk pulang. "Gimana lagi, Ra? Bisa habis kita kalau nggak nurut." Ria menjawab dengan lesu. Ia tahu kondisi Rara. Buat makan sehari-hari saja kadang mereka tidak ada uang. "Iya, gue tahu Ri. Enak banget ya tapi, nggak pernah ngapa-ngapain, tinggal teriak dapet duit deh. Kita yang capek panas-panasan mesti nyetor ke dia." Bibir Rara cemberut. "Udahlah, Ra, ikhlasin aja. Toh hari ini kamu dapet lumayan kan? Masih cukup buat kasih Ibu sama buat nabung dikit." Ria kadang terdengar lebih dewasa dari umurnya. Meskipun ia kasar, tapi kadang ia lebih bijak dari mereka semua karena ia termasuk anak yang cerdas. "Iya, Ri." Rara mengangguk lemah. Matanya menatap ke seberang jalan. "Ri! Lihat deh! Jangan sampai kita kayak mereka ya, Ri?" Pandangan keduanya terpaku pada segerombol anak di seberang jalan. Beberapa anak seusia mereka yang sebagian duduk di halte dan sebagian lagi berdiri dan ada juga yang duduk di trotoar. Ada dua anak perempuan juga bersama mereka. Mereka tengah berbincang dengan suara berisik. Dari bibir mereka mengepul asap rokok. Ada beberapa kaleng minuman berserakan di dekat mereka. Mereka berbincang, tertawa keras, mengumpat tanpa memedulikan orang-orang di sekitar. Mereka itulah anak-anak jalanan yang mengamen atau menjadi joki yang hasilnya hanya untuk bersenang-senang, membeli rokok, minuman atau apa pun yang mereka mau. Kadang mereka juga merampas hasil mengamen anak-anak lain seperti Rara. Rara menatap mereka tidak suka. Merekalah yang membuat pandangan masyarakat tentang anak jalanan menjadi negatif. Seolah-olah semua anak jalanan berengsek seperti mereka. Yang tak mau sekolah dan hanya ingin bersenang-senang. "Seberengsek-berengseknya gue, nggak akan gue jadi kayak mereka, Ra." Ria tersenyum kecut. Ia ingat ia sering memaki dan mengumpat, bahkan bersikap kasar. Tapi melihat anak-anak di seberang membuatnya sedikit malu dengan sifatnya itu. "Gue tahu elu, Ri. Yuk!" Rara kembali berjalan cepat. Sebentar lagi mereka memasuki gang kecil ke arah rumah petak mereka. "Tunggu!" Dari balik ruko terlihat Diki berlari kecil ke arah mereka. Rara dan Ria menghentikan langkah mereka menunggu Diki. "Hei! Tu muka napa kusut amat sih?" Diki melotot memandangi muka adiknya yang ditekuk dan letih. "Capek, Kak. Tadi Rara dapet duit lumayan banyak, tapi Bang Somad ambil setengahnya. Padahal kan Rara mau ngasih buat Ibu, Kak." Rara menunduk dan menggigit bibirnya. "Bang Somad lagi?" Mata Diki berkilat mendengar ucapan Rara. Ia tahu Bang Somad si preman pembuat onar. "Tenang aja, Ra. Ntar Kakak mau ngomomg ama Bang Somad atau cari cara biar Bang Somad nggak terlalu semena-mena ama kita." Diki mengangkat dagu Rara dan memandangnya. Diki anak yang pemberani. Ia akan melakukan apa pun yang menurutnya benar. Pernah ia berteriak memegang sepotong balok kayu dan menyuruh Bapak pergi saat Bapak yang setengah mabuk mencaci maki Ibu dan hampir menamparnya. Melihat Ibu yang hanya bisa menangis setelah bekerja terlalu keras diperlakukan seperti itu, Diki segera berlari dan berusaha melindunginya. Diki anak yang kuat. Ia terbiasa bekerja keras. Pandangan matanya setajam elang. Ia akan berkelahi dengan siapa pun yang mengganggu Rara atau teman-temannya. Ia pernah memukuli seorang anak sampai babak belur saat ia melihat anak itu menghadang Rara, menggodanya dan mengatakan sesuatu yang tak sopan. Diki sangat menyayangi Rara, adiknya yang manis dan berhati lembut. "Jangan, Kak! Rara nggak apa-apa kok. Kak Diki jangan pernah cari masalah ama Bang Somad. Rara nggak mau Kakak kenapa-napa." Rara berkata tegas. Ia tahu sifat Diki. Diki akan membelanya. "Rara nggak mau denger Kakak cari gara-gara ama Bang Somad. Janji, Kak, ya?" Rara menatap Diki tajam. Diki menghela napas. Ia masih belum terima melihat kesedihan di mata adiknya. Rara sudah cukup menderita. Hati Diki sakit tiap kali melihat Rara memandang anak-anak berseragam merah putih yang tertawa dan bercanda dengan teman-temannya berangkat ke sekolah. Ia tahu Rara sangat ingin bersekolah. Namun, keadaan memaksa mereka tak pernah bisa mencicipi bangku sekolah. Sungguh beruntung ada Kiera yang datang seperti malaikat dan mengajari mereka banyak hal bak cahaya lilin yang menerangi kegelapan di jiwa mereka. "Iya, Ra. Tapi kamu jangan sedih ya?" Diki mengusap rambut adiknya penuh rasa sayang. "Nggak, Kak. Rara nggak sedih kok. Nih senyum kan?" Rara meringis lucu. "Yuk ah! Laper nih gue." Ria tertawa melihat mereka berdua, menyambar lengan Kiera dan mengajaknya berjalan cepat memasuki gang. Diki mengikuti di belakang. "Siniii!!! Kasih nggak!!!" Baru saja mereka bertiga sampai di halaman rumah, teriakan menggelegar sampai di telinga mereka. Suara Bapak. Mereka tertegun sejenak di situ. Setengah ragu untuk meneruskan langkah mereka. Diki dan Rara tahu apa yang terjadi. Pasti Bapak sedang marah. Bapak jarang pulang. Saat sedang dalam kondisi senang Bapak kadang memberi Ibu sejumlah uang. Namun saat suasana hatinya sedang buruk, Bapak datang hanya untuk marah-marah dan meminta uang ke Ibu. Pasti ia kalah judi dan uangnya habis. Rara menggigit bibirnya dan memandang Diki. Mata Diki berkilat. Rara tahu Diki menahan marah. Dipegangnya lengan kakaknya pelan. "Sudah nggak ada lagi, Pak! Tinggal cukup buat beli beras hari ini. Anak-anak butuh makan." Suara Ibu meyayat hati Diki dan Rara. Ria tak tahan mendengarnya. Ia beranjak dan duduk di bangku kecil dekat pohon pisang sambil memainkan kukunya. "Peduli setan! Kalau nggak lu kasih, gue bakal obrak-abrik ini rumah!" Lalu terdengar beberapa barang dibanting ke lantai. Rara tiba-tiba mendengar tangisan Vina. Mungkin ia ketakutan melihat kemarahan Bapaknya. Rara dan Diki segera melompat lari masuk ke rumah. Bapak berdiri di samping lemari lusuh kecil tempat mereka menyimpan baju seadanya, matanya merah dan nyalang. Teko dan beberapa gelas plastik berserakan di lantai. Ibu duduk di pinggir tempat tidur, memeluk Vina dan terisak. "Bapak apa-apaan sih! Datang cuma marah-marah!" Diki tak tahan melihat kelakuan Bapaknya. "Diam! Pada goblok semua! Bukannya pada nyari duit malah dengerin ocehan konyol siapa itu yang ngajarin kalian! Tak perlu lagi besok ikut! Ngamen dari pagi, cari uang yang banyak! Pada tolol!!" Bapak melotot memandang mereka berdua. Napas Diki memburu, tangannya terkepal. Ia tidak suka tiap kali Bapak berbicara seperti itu tentang Kiera dan pelajarannya karena itu merupakan satu-satunya kesenangan yang ia dapatkan. Belajar. Rara melengos menatap ke arah lain. Ia menahan marah juga. Namun, ia takut melihat kondisi Bapaknya yang seperti itu. "Diam!! Sialan!!" Bapak membentak Vina yang masih menangis. Berjalan ke arah meja kecil yang ada lacinya, tempat Ibu menyimpan sedikit uang hasil dari jualan. Ditariknya laci itu dengan kasar dan diambilnya beberapa ribuan dari situ. "Jangan, Pak...." Ibu menarik ujung kaus Bapak dan dengan kasar Bapak menepis tangannya. "Bapak! Jangan! Kasihan Ibu udah kerja keras! Bapak harusnya ngasih uang, bukannya malah minta!" Diki berteriak keras. Ia tak bisa lagi menahan marahnya. "Apa kamu bilang bocah ingusan?? Berani-beraninya neriakin gue?!" Bapak menghampiri Diki dan plak! Ia menampar pipi Diki keras. Ibu dan Rara menjerit. "Kenapa beraninya cuma ama kita?? Tampar lagi, Pak!!" Diki mengangkat wajahnya, menatap Bapaknya. Matanya berkilat penuh amarah. Tanganya terkepal. Gigi Bapak bergemeletuk. Napasnya memburu. Bapak menatap Diki dengan mata merah dan amarah yang membuncah. Tanganya terangkat. "Cukup!!!" Rara berteriak. "Ini! Ambil uang Rara, Pak! Ambil! Pergi dari sini!" Dengan sisa keberanian yang ia miliki Rara mengangsurkan beberapa lembar sisa uangnya ke Bapak. Bapak mendengus kesal sambal menerima uang Rara, memelototi Diki, kemudian beranjak keluar dengan masih menyimpan amarah. Ibu tersedu di pinggir tempat tidur masih sambil memeluk Vina. "Berengsek!" Diki berteriak marah, kepalan tangannya mengenai tembok. Sakit, namun tak dirasakannya. Hatinya lebih sakit dengan kelakuan Bapaknya. Rara menghampiri Ibu. Mengusap bahunya dan memeluknya dari belakang. Ibu mereka adalah wanita yang lembut namun kuat. Ia tak pernah marah terhadap mereka. Ibu suka bilang kalau ia menyesal tak mampu menyekolahkan mereka. Ibu ingin suatu hari nanti melihat anak-anaknya bisa sekolah dan memiliki masa depan yang berbeda dengannya. Ibu berusaha mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk mereka. Namun, yang terjadi justru seperti ini. Bapak dengan kebiasaan buruknya selalu datang dan mengacaukan semuanya. Ibu mengusap rambut Rara. Air mata mengalir dari pipi mereka berdua. "Diki mau keluar dulu, Bu. Diki mau cari uang lagi." Dada Diki tersengal. Ia tak tahan melihat Ibu dan Rara seperti itu. "Kak! Tunggu, Kakak makan dulu." Rara bangkit dan berjalan ke meja makan kecil di pojok ruangan. "Tak perlu, Ra. Kakak nggak laper." Diki melesat pergi setelah menatap Rara sekilas. Ia menyesal Rara mesti mengorbankan sisa uang yang dimilikinya untuk Bapak. Diki menendang kaleng bekas minuman ringan yang dilempar orang sembarangan di pinggir jalan dengan kasar. Kaleng itu mengenai tiang listrik dan mengeluarkan bunyi yang berisik. Seekor kucing yang tengah melingkar pulas di bawah tong sampah meloncat kaget dan lari terbirit-birit mendengarnya. Seorang pengemis yang duduk di trotoar memaki kesal dan melotot ke arah Diki. Diki menatapnya dingin. Ia terus melangkah tanpa memedulikan sekitarnya. Napasnya masih tersengal menahan marah. Ia tak ingat lagi kapan terakhir kalinya merasakan kasih sayang seorang ayah. Ayah buatnya sekarang seperti monster yang hanya memberikan kepedihan dan amarah. Ia tak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi Ibu dan Rara membuatnya tersiksa. "Woi, Diki! Sini!" Tiba-tiba dari seberang jalan terdengar sebuah teriakan memanggil namanya. Diki menoleh. Roni dan teman-temannya ada di sana. Duduk di emperan sebuah toko, ada yang bernyanyi sambil bercanda. Asap rokok mengepul dari mulut mereka. Hampir saja Diki melangkahkan kaki ke arah mereka sesaat sebelum tiba-tiba ia ingat derai air mata di wajah Ibu dan Rara. Diki mematung sejenak. Lalu setelah melambaikan tangan ke arah mereka, ia segera berlalu dan menuju sebuah perempatan yang lumayan ramai. Tanpa memedulikan lelah dan perih yang melilit perutnya, ia segera berteriak dan mengatur laju kendaraan di situ. Ia ingin pulang dengan membawa sedikit uang untuk Ibu. Diki mengusap peluh di keningnya dan ia terbatuk saat asap tebal dari kontainer yang melintas masuk ke hidungnya. Dadanya tiba-tiba terasa nyeri. Ia terhuyung sejenak. Namun, ia segera tegak berdiri. Ia tak boleh lemah demi keluarganya.
Mimpi-mimpi "Hai semua! Maaf ya kita telat. Tadi ada kuliah pagi di kampus. Apa kabar kalian?" Lucy menyapa riang anak-anak yang duduk manis menunggu mereka. Kiera mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasnya dan saat pandangan matanya melihat ke arah Rara dan Diki ia tertegun sejenak. Kedua bocah itu terlihat berbeda. Rara duduk setengah melamun sambil menggigit bibirnya. Pandanganya kosong entah ke mana, sedangkan Diki menundukkan kepalanya dalam dengan kedua tangan terkepal. Kiera menutup tasnya dan melangkah pelan menghampiri mereka. Ia jongkok di depan Rara. "Hei, kalian berdua kenapa?" Kiera memegang lengan Rara lembut dan manatap Diki yang masih menunduk. "Diki?" Diki mendongak pelan. Namun, ia tidak melihat wajah Kiera. Sementara Rara menatap Kiera setengah ragu untuk menjawab. Kiera melihat kedua mata Rara yang diselimuti kesedihan. Diusapnya rambut Rara. "Rara, ada apa?" "Kemarin Bapak datang." Diki menoleh ke arah Kiera dan menjawab pelan dengan masih ada nada geram dalam ucapannya. "Lalu?" Kiera merasa ada sesuatu setiap kali mendengar kata bapak diucapkan mereka. Ia sudah mendengar banyak tentang kelakuan ayah mereka. "Bapak marah-marah, Kak. Uang Ibu yang dikumpulin ama uang Rara diambil." Rara menjawab dengan mata berkaca. "Nggak pantes ia disebut bapak. Bukanya ngasih kami uang malah ngerampas sedikit uang kami." Kiera melihat kegeraman di mata dan kepalan tangan Diki. Kiera berdiri, memeluk bahu mereka berdua. "Kakak tahu. Nggak sepantasnya ia berbuat seperti itu ke kalian. Tapi kalian mesti kuat. Kalian kakak beradik terhebat yang Kakak pernah temui. Jangan biarin keadaan ngalahin kalian. Tetep semangat. Suatu hari nanti keadaan pasti akan berubah lebih baik. Kakak bisa lihat itu dari semangat kalian. Berhenti bersedih, waktunya belajar lagi, okay?" Kiera tersenyum dan meremas bahu mereka berdua. Rara dan Diki menatap Kiera. Melihat senyum dan tatapan Kiera, seperti kekuatan yang mengalir ke dada mereka dan memaksa mereka untuk mengangguk dan tersenyum. Ada energi di sepasang mata Kiera yang membuat mereka kembali bersemangat. "Oke, Kak!" Mereka berdua menjawab kompak. "Bagus! Ini baru semangat yang Kakak suka." Kiera mengedipkan salah satu matanya dan beranjak mengambil beberapa buku yang tadi ditaruhnya. Rara dan Diki tersenyum lebar. Mereka tidak melihat sudut mata Kiera yang berkaca saat ia berbalik tadi. Ia tidak tega melihat nasib mereka berdua yang dipaksa menanggung beban seberat itu di usia mereka yang masih belia. Lucy yang melirik Kiera sekilas sempat melihat kesedihan itu. Ia ingin bertanya. Namun, disimpannya dalam hati karena anak-anak yang lain memperhatikanya dan ia ingin selalu ceria dan bersemangat di depan mereka. Ia merasa lega setelah beberapa saat Kiera kembali dengan senyum di bibir dan matanya. Pun demikian sesosok bayangan hitam yang sedari tadi memperhatikan Kiera. Ia bediri di sana lama sambil terus menatap Kiera lekat, memperhatikan setiap gerak Kiera dan juga kesedihan di sudut matanya sejenak tadi. "Kali ini kita akan ngomongin tentang mimpi. Kakak pengin tahu apa mimpi kalian. Semua hal besar dimulai dari mimpi. Mulailah bermimpi, pikirkan apa yang kalian sungguh-sungguh inginkan. Mimpi itu akan membawa kalian melampaui batasan yang ada ke dunia lain yang mengasyikkan dan penuh tantangan, yang pada akhirnya akan terasa manis saat kalian bisa menggapainya. Jangan pernah takut untuk bermimpi. Ayo! Buka pikiran kalian, katakan apa mimpi kalian, come on!" Kiera menatap anak-anak penuh semangat. Lucy tersenyum lebar. "Iya! Ayo jangan malu. Semua orang punya mimpi. Pikirin deh sesuatu yang pengin banget kalian capai suatu hari nanti. Kalau Kakak pengin jadi duta besar untuk negara di Eropa karena Kakak suka pelajarin budaya negeri lain. Coba kalian, apa mimpi kalian?" Anak-anak saling berpandangan dan tersipu malu. "Jangan malu! Kayak Kak Kie tuh, mimpinya pengin jadi badut Ancol dia." "Hahaha!" Anak-anak terbahak mendengar gurauan Lucy. Lucy meringis lucu dan membentuk isyarat peace dengan tangan kanannya saat Kiera memelototinya. "Kak Lucy ngaco! Kak Kie pengin suatu hari nanti Kakak bisa bikin bangga semua orang yang kenal Kakak. Kak Kie juga pengin jalan-jalan keliling dunia. Ntar Kakak bisa nyamperin Kak Lucy di Eropa." Kiera mengedipkan matanya ke arah Lucy. Anak-anak mulai saling berbisik. Tak pernah ada yang memikirkan tentang mimpi sebelumnya. Hari ini bisa makan saja sudah cukup buat mereka. Yang mereka inginkan hanyalah mempunyai uang yang banyak sehingga mereka tak perlu lagi mencari sedikit uang di bawah terik matahari. Sungguh beruntung ada Kiera dan Lucy yang membuka pikiran mereka tantang banyak hal menyenangkan yang sebelumnya tak pernah mereka tahu. Juga tentang mimpi. Mimpi merupakan sesuatu yang mewah buat mereka. Saat mendengar kata mimpi, banyak hal yang berkecamuk dalam pikiran mereka. Mereka mulai membayangkan hal-hal yang terlintas saat menjelang tidur, hal-hal menyenangkan yang mereka inginkan. Seperti Rara, tiap kali ia menonton acara musik di televisi ia membayangkan ia menjadi salah satu dari penyanyi-penyanyi bersuara merdu itu. Ia sangat suka bernyanyi. Jadi ia yang pertama kali berdiri menatap Kiera dan Lucy dan mengutarakan mimpinya. "Aku pengin jadi penyanyi, Kak," katanya sambil tersenyum malu. Anak-anak menatapnya dengan mata berbinar, mungkin mereka telah menemukan mimpinya. "Wah! Keren! Suara kamu bagus, Ra. Kakak yakin dengan banyak latihan kamu bakal jadi penyanyi keren suatu hari nanti." Lucy menatap Rara penuh semangat. "Iya! Terus berlatih yaaa." Kiera menimpali. "Oke, makasih, Kak." Rara kembali duduk. "Siapa lagi?" Anak-anak saling senggol. "Aku, Kak!" Ria berdiri. Ia anak yang selalu penuh semangat. Ia sering melihat wanita-wanita dengan baju rapi di belakang kemudi dengan mobil keren dan tangannya selalu memegang handphone berbicara dengan seseorang seperti memerintah. Mereka pasti seseorang yang berpengaruh di perusahaan atau tempat kerjanya. "Ria pengin jadi bussiness woman yang sukses, punya perusahaan sendiri dan juga mobil keren," katanya sambil meleletkan lidah. Ia tahu istilah itu karena Kiera dan Lucy pernah mengajarkan mereka tentang pekerjaan dalam bahasa Inggris. Ria sangat suka pelajaran itu. "Bussiness woman! Mimpi yang luar biasa. Mesti tekun ya dan jangan takut untuk mengambil risiko. Belajar untuk merencanakan sesuatu, nanti Ria bisa memulai dari hal kecil." Kiera menatap Ria dan mengedipkan matanya. "Sip, Kak!" Ria kembali duduk. Matanya menerawang dan berbinar membayangkan ia yang menjadi seorang yang sukses. "Kak..." Tiba-tiba Diki berdiri. Semua mata memandangnya. "Aku tahu mimpi aku. Aku pengin jadi polisi. Aku bakal kasih pelajaran ke preman-preman yang kerjanya cuma mabuk dan meras kita. Aku bakal masukin mereka ke penjara. Mereka cuma bisa bikin susah kita." Mata Diki menyipit tajam. Ia ingat Bapaknya, Bang Somad dan beberapa preman yang selalu bikin onar. Anak-anak mengangguk-anggukkan kepala. Kiera dan Lucy sejenak terdiam. Kiera pernah menemui Rara dan Ria saat mereka tengah duduk istirahat sehabis mengamen di taman kecil di tengah perempatan lampu merah. Ia sempat melihat beberapa orang bertato yang menatapnya dengan pandangan mengancam. Kiera tahu benar dengan situasi mereka. "Polisi... hmm, bagus, Diki! Kakak bisa lihat jiwa pelindung di dalam diri kamu. Sekarang kamu cuma mesti jadi pelindung buat Ibu, Rara dan Vina. Jagain mereka. Kakak harap suatu hari nanti kamu bisa pelindung buat semua orang." Kiera tersenyum menatap Diki. Diki mengangguk lalu beranjak duduk. "Bagus, Diki! Ntar kalau Kak Kie berulah borgol aja ya!" Lucy tertawa kocak. Anak-anak tersenyum geli. Kiera menjulurkan lidahnya. "Mmm..." Hardi berdiri dan menunduk malu sebelum melanjutkan perkataanya. Semua menatapnya dan tertawa melihat Hardi yang berdiri malu-malu. "Jangan malu, ceritain apa mimpi kamu, Hardi." Lucy mengangkat alisnya. Hardi mengangkat kepalanya. "Suatu hari nanti aku pengin bisa lihat bumi dari bulan. Lihatin kalian dari atas sana dan terbang menyapa bintang-bintang," katanya sambil tersenyum malu. "Wow! Astronot atau ilmuwan! Kamu bisa jadi salah satu dari mereka, Hardi. Dan kamu bakal bisa jalan-jalan ke luar angkasa," seru Lucy. Mata Hardi berbinar. Ia ingat malam-malam saat ia lelah dan merasa sumpek di dalam rumahnya yang kecil dan pengap ia akan berbaring di luar, di bangku panjang di halaman rumahnya dan ia bisa langsung menatap langit yang kadang cerah dihias purnama dan ribuan bintang. Ia membayangkan berada di atas sana, tepat di bulan, mengamati teman-temannya di bumi dan berloncatan dari satu bintang ke bintang yang lain. Ia sebenarnya tahu tentang teori alam semesta saat Kiera memberi pelajaran Science dan ia tak mungkin bisa berloncatan dari satu bintang ke bintang yang lain, tapi ia merasa senang saat membayangkannya, jadi ia tetap menyimpan keinginanya itu. "Siapa lagi nih sekarang?" Kiera kembali menatap mereka. Aldi berdiri. "Aku pengin jadi pelaut, Kak. Aku pengin jelajahin semua lautan. Aku bakal cari Bapak dan ajak dia pulang. Aku pengin punya kapal besar, berlayar ke negeri-negeri yang jauh dan menyampaikan cerita ke orang-orang asing tentang negeri kita." Aldi selalu merindukan adanya sosok seorang ayah di sisinya. Ia iri tiap kali melihat anak-anak yang asyik bercengkerama dengan ayahnya, sementara ia sama sekali tidak ingat sedikit pun bagaimana rupa sang ayah. Lucy melirik Kiera yang termangu. "Bagus, Aldi! Ntar kalau ketemu Jack Sparrow dan Black Pearl-nya jangan lupa selfie ya, trus kirim ke Kak Kie. Dia ngefans banget tuh ama Captain Jack!" Kiera tertawa lebar mendengar celotehan konyol Lucy. Lucy selalu bisa mengubah suasana apa pun menjadi ceria. Dan ia tahu film favorit Kiera karena mereka selalu menonton berdua. Anak-anak menatap mereka tak mengerti, membuat mereka berdua semakin terbahak. Topik kali ini sungguh menyenangkan buat mereka. Anak-anak jadi merasa bersemangat. Masih ada Wiwit yang ingin membuka restoran karena ia suka makan. Ada Oban yang ingin jadi dokter karena adiknya yang paling kecil meninggal saat terkena diare akut dan tidak ada biaya untuk pergi ke dokter. Kiera merasa senang dengan antusias mereka dan anak-anak pun mulai menyimpan harapan, siapa tahu suatu hari nanti mimpi mereka akan menjadi nyata. "Kakak bangga ama kalian semua. Percaya deh, suatu hari nanti mimpi kalian akan bisa tercapai asal kalian punya tekad yang kuat untuk mewujudkanya. Mulai dari sekarang, mulai dari hal kecil. Seperti kata Larispique Philidor, jangan pernah ragu dengan potensi yang ada dalam diri kamu. Coba lihatlah kupu-kupu, seandainya saja ia memiliki sedikit keraguan, maka ia akan hidup dan mati sebagai seekor ulat bulu yang hanya bisa merangkak. Tony Gaskin juga bilang, jika kamu tidak bergerak untuk membangun mimpimu, seseorang akan mempekerjakanmu untuk membangun mimpi mereka. Jadi mulai sekarang jangan pernah ragu untuk bermimpi." Kiera menatap mata mereka satu per satu untuk memberikan semangat. Anak-anak mengangguk setuju. Degup di dada mereka berbeda kali ini. Ada semangat yang lain di sana. "Jangan lupa, semesta selalu mendengar apa pun yang kalian inginkan dan ia bakal membantu kalian untuk menggapainya asalkan kalian percaya dengan apa pun yang kalian inginkan." Lucy mengakhiri pelajaran hari ini dengan kutipan Paul, ahli kimia yang terkemuka. Mereka semua saling menatap dan tersenyum lebar.
Sebuah Pilihan Ombak bergulung berkejar-kejaran di sepanjang pantai, memecah batu karang dengan suara gemuruhnya. Purnama tepat di atas lautan. Kilau keperakan permukaan air laut yang tertimpa sinar purnama terlihat memukau. Di atas batu karang besar di tengah lautan sesosok bayangan tengah duduk sambil memandangi lautan keperakan dan seakan tak bertepi. Kepalanya dipenuhi berbagai macam pikiran yang seakan tak masuk akal baginya. Perasaan aneh yang baru dirasakanya akhir-akhir ini. Perasaan yang seharusnya tak boleh ada di hatinya. "Dia Maha Tahu. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Selalu ada alasan di balik semua kejadian." Tiba-tiba sesosok bayangan hitam lainnya telah berdiri di sampingnya dan menggumamkan beberapa kalimat tanpa membuka mulutnya. Sesosok bayangan hitam itu berbeda dengan dirinya. Ia berambut panjang berwarna keemasan dan ia adalah seorang teman. "Apa yang kamu tahu?" Tanpa menoleh ia bertanya. "Aku pernah mengalaminya. Aku tahu apa yang kamu rasakan." "Benarkah? Lalu apa yang kamu lakukan?" "Saat itu merupakan saat terindah dalam hidupku. Perasaan yang tiba-tiba dan tak pernah aku duga sebelumnya. Aku merasa asing. Aku merasa seperti berada di sebuah dunia dengan taman indah dan bunga-bunga yang bermekaran setiap harinya. Aku ingin menatap wajahnya setiap hari, bersamanya, berbincang dan memeluknya saat pendar matanya mulai suram. Saat itu hal yang aku inginkan hanya bersamanya." Sosok berambut panjang itu menghela napas panjang, mengingat masa lalunya. Ia yang sedari tadi menatap lautan seketika berdiri. Apa yang dikatakan temannya membuatnya sedikit terpana. Ia tak pernah menyangka tentang hal itu. Ia pikir hanya ia yang merasakan perasaaan asing itu. Semua yang dikatakannya tepat seperti yang ia alami. "Kamu memutuskan untuk bersamanya?" Ia mengerutkan keningnya meminta penjelasan. "Aku terlalu bingung waktu itu. Aku tak mampu melakukannya. Aku bisa melihat dan menyentuhnya, dan aku juga bisa menampakkan diriku di depannya, tapi aku takut." "Aku tahu. Kita tak akan bisa bersama manusia." "Kamu salah. Kita ternyata punya pilihan. Aku tahu tentang hal itu setelah ada salah seorang di antara kita yang melakukannya." "Benarkah?? Apa yang bisa kita lakukan? Aku sangat ingin bisa berbincang dengannya. Aku ingin ia bisa menatap mataku dan menghabiskan seluruh waktunya bersamaku." Ia terlihat sangat antusias. Matanya berbinar terang. "Datanglah pada seseorang yang mempunyai sebuah rumah putih berpagar bambu di kaki bukit dekat cagar alam di Ujung Kulon. Aku ingin kau melakukanya. Aku tak ingin kau menjadi sepertiku. Hanya bisa menyesal sekarang" "Kau meninggalkanya begitu saja?" "Aku tak tahu apa yang bisa kulakukan saat itu. Aku pikir dengan meninggalkanya aku dapat melupakannya dan menjalankan tugasku dengan baik. Namun tidak. Perasaan itu adalah yang terindah, tak bisa kudapatkan lagi biarpun aku di tengah surga. Indah dan sakitnya membuatku ingin menjadi seperti mereka, bisa mencinta dan menangis." "Maafkan aku, aku tak pernah tahu tentangmu." "Tak ada yang perlu disesali. Aku beruntung bisa merasakannya. Itu hal paling nyata yang pernah aku alami. Sekarang, ikuti kata hatimu. Lakukan apa yang hatimu katakan. Semoga beruntung, teman." Sosok itu menatapnya sekilas sebelum berkelebat terbang dengan sayap putihnya. "Terima kasih!" Ia berseru sambil menatap sosok itu sampai ia pelahan hilang di balik awan putih berkilauan. Ia pun berjalan pelan ke tepian batu karang dan berdiri lama memikirkan perkataan temannya. Sebuah senyum pun akhirnya menghiasi bibirnya. Kemudian ia melesat pergi. Matahari pagi masih terasa hangat. Sinarnya yang keemasan menimpa genteng rumah mungil berpagar bambu di kaki bukit dengan pohon-pohon cemara rindang di sekelilingnya. Hanya ada beberapa rumah di kaki bukit itu. Suasana terlihat tenang dan jauh dari bising kota. Udara pun masih segar karena banyak pohon di sekitar. Dia terus memandangi rumah berpagar bambu itu lama. "Hei!" Sebuah tepukan di pundak mengagetkannya. Seorang laki-laki setengah baya yang masih terlihat gagah di usianya. Celana pendek navy dan kaus putih dengan rambut sebahu dan rahang yang kokoh membuatnya terlihat tampan. "Kau bisa melihatku??" Sosok itu menatap laki-laki di depannya dengan sedikit bingung. "Ya, aku tahu siapa kamu" Laki-laki itu tertawa lebar. Ia terlihat ramah dan jenaka. "Benarkah? Bagaimana kau bisa tahu?" "Dulu aku salah satu dari kalian. Para malaikat utusan Tuhan." Senyumnya seperti hangat matahari. Ia menatap sosok di depannya dalam-dalam. "Masuklah. Akan kuceritakan semua yang kamu ingin tahu. Tapi tunggu, perlihatkan dulu sosokmu. Aku tak ingin anak istriku melihatku seperti orang gila yang berbicara sendiri." Laki-laki itu terkekeh geli. Sosok itu tersenyum, memejamkan matanya sebentar dan saat membuka matanya ia melihat laki-laki itu tengah menatapnya lekat. Tinggi, rambut ikal sebahu dengan rahang kokoh, dan alis mata tebal, mata yang berbeda dengan mata yang dimiliki malaikat lainnya. Ada harapan dan sesuatu yang bergolak di sana seperti miliknya dulu kala. "Panggil aku Tom. Mari, masuklah." Disambutnya uluran tangan hangat laki-laki itu, Tom. Mereka berdua melangkah melewati jalan setapak dengan batu-batu putih kecil di sekelilingnya. Terdengar tawa canda dari samping rumah. Dua orang anak perempuan kecil tengah bermain dengan selang air. Tawa mereka saat terciprat air terdengar riang. Tanpa sadar ia tersenyum melihat keriangan mereka. Tidak jauh dari mereka seorang perempuan setengah baya tengah menjemur beberapa helai baju. Ia menatap perempuan itu. Wajahnya terlihat sederhana dan tulus. Perempuan itu tiba-tiba menoleh ke arahnya tersenyum dan mengangguk. Dan tahulah ia kenapa Tom itu bisa jatuh cinta kepadanya. Senyumnya semanis mawar. Ia balas mengangguk kecil. Lalu keduanya sampai di sebuah balai yang kursinya terbuat dari kayu jati dengan pernis mengilap. "Duduklah." Mereka lalu duduk berhadapan. "Siapa wanita beruntung yang membuatmu jatuh cinta?" Ia tersentak medengar pertanyaan tiba-tiba itu. "Jatuh cinta?" tanyanya setengah ragu. "Iya. Kamu tengah jatuh cinta." Tom tergelak melihat ekspresi ragu di wajahnya. "Tapi tidak. Aku tidak tahu apa itu jatuh cinta." "Aku tahu. Aku pernah sepertimu. Jangan takut dan ragu. Selalu ada pilihan untuk kita. Dia Maha Segalanya. Manusia diberkahi dengan alam semesta beserta isinya, juga kebebasan berkehendak. Jangan berpikir malaikat tidak. Dia akan mengizinkanmu membuat pilihan. Seperti aku dulu." "Ceritakan padaku tentang hal itu." "Dulu aku tak punya hati yang bisa merasakan apa yang manusia rasakan. Aku hanya melakukan tugasku dengan sebaik-baiknya. Semua berubah setelah aku bertemu dengannya. Tiba-tiba semuanya menjadi seperti nyata. Indah. Aku ingin selalu melihat dan menemuinya. Tak pernah aku merasakan seperti itu sebelumnya. Lalu aku putuskan untuk bisa bersamanya dan meninggalkan kemalaikatanku. Sang Maha memberiku pilihan. Abadi dengan menjadi malaikat atau bisa mati sewaktu-waktu sebagai manusia. Tentu aku memilih menjadi manusia. Inilah kebahagiaan terindah yang pernah kurasakan. Biarpun kadang aku masih belum terbiasa dengan berbagai macam perasaan yang datang, namun aku menyukainya." "Lalu kau menemuinya?" "Tentu saja. Bahkan ia seperti menungguku. Seperti tahu kalau aku akan datang untuknya." "Hmmm... apa yang harus aku lakukan sekarang?" "Lihatlah ke dalam hatimu. Tetap rasakan apa pun itu. Jangan menolak. Ikuti saja dan kamu akan tahu jawabanya. Setelah itu, kamu akan tahu apa yang harus kamu lakukan." "Apa yang harus aku lakukan?" "Yakinlah, mohonlah dengan sungguh-sungguh untuk pilihan yang akan kamu pilih dan semesta akan menunjukkan jalannya." Tom menatapnya lurus dan tanpa senyum. Ada keyakinan yang tak terbantahkan dalam nada suaranya. "Aku akan berusaha." Dia mengangguk. Matanya bekerjab tajam. Kini ia tahu apa yang harus ia lakukan. "Datanglah kemari kapan pun kau membutuhkanku. Pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu." Tom memegang pundaknya hangat. "Aku sangat berterima kasih atas semua ini. Kau membuka mataku. Aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang." "Sudah menjadi tugasku untuk membantu apa pun yang berhubungan dengan cinta. Karena hanya cinta yang sanggup membuat padang yang tandus tumbuh sejuta mawar dan kau akan menari bersama pelangi selepas hujan. Aku tahu indahnya. Aku harap kau merasakannya juga." "Aku akan datang ke sini kelak, mengabarkanmu tentang pilihanku." Ia tersenyum, berdiri dan menjabat tangan Tom erat. Tom mengangguk, tersenyum lebar. Sosok itu kemudian melangkah keluar berjalan pelan melewati taman dan menghilang di balik pohon mahoni rindang.
*********************************
Kiera berjalan pelan di koridor kampusnya sambil mendekap kamus Oxford tebal. Lucy tak bersamanya hari ini. Ia tidak mengambil mata kuliah yang sama dengannya pagi ini. Kepalanya dipenuhi tentang wajah-wajah lugu Rara, Diki dan lainnya. Ia memikirkan apa yang nanti akan ia ajarkan pada mereka. Saat ia berbelok ke arah kelasnya, tiba-tiba sebuah benda mengenai lengannya. Dingin menyentuh kulitnya dan dari lengan kemeja sampai dadanya menjadi basah. "Opppssss! Sorry!" Saat Kiera mengangkat kepalanya tampaklah wajah cantik nan angkuh Sheila tengah menatapnya puas dengan kaleng soda di tangannya. Sheila sengaja menyiramnya dengan air soda itu. Terdengar tawa cekikikan di belakang Sheila. Meyra dan Risty tertawa dan menatapnya sinis. Kiera menatap Sheila tajam. "Apa??? Mau sok berani ngelawan gua? Ngaca dong lu! Nih rasain karena lu udah berani-beraninya jalan ama Rey. Sekali lagi gue lihat lu deket-dekat ama Rey, abis lu!" Sisa air soda yang masih sedikit ditumpahkannya lagi ke kemeja sebelah kanan Kiera yang masih kering. Lalu sambil mengacungkan jari tengahnya ke arah Kiera ia melangkah menjauh bersama teman-temannya. "Emang enak!" Risty mengangkat dagu sambil mengikuti Sheila. Kiera mengepalkan tangannya. Matanya melebar. Ia merasa sangat marah. Ingin rasanya ia menonjok muka mereka satu per satu. Namun, ia tidak ingin membuat keributan di sini. Kampus mulai ramai. Beberapa pasang mata menatapnya. Ada yang kasihan, namun ada juga yang menganggapnya lucu. Sesosok bayangan yang sedari tadi menatapnya dari dereta bangku kayu di taman depan masing-masing kelas mengalihkan pandangannya. Dengan matanya ia menggeser batu bata dekat sebuah pot. Sheila yang tengah tertawa puas memandang lagi ke arah Kiera yang masih mematung dengan marah. "Awwwww!!!" Tiba-tiba tanpa disadarinya ada sebongkah batu tepat di kakinya, membuatnya tersandung dan jatuh dengan lutut membentur lantai keras. Sheila memekik kesakitan. Meyra dan Risty terbelalak kaget. Mereka tidak melihat apa pun di situ sebelumnya. Dengan segera mereka membantu Sheila yang masih merintih kesakitan. Sheila berdiri dengan tertatih. Matanya berkaca menahan sakit di lututnya. Sosok itu tersenyum menatap mereka bertiga. Lalu ia melangkah dan menampakkan sosoknya di balik pohon cemara kecil. Ia berjalan ke arah Kiera yang tengah mengaduk-aduk isi tasnya mencari tisu untuk mengeringkan kemejanya yang basah. "Pakailah ini." Sebuah saputangan putih yang wanginya seperti ia kenali diangsurkan ke tangannya. Kiera menatap ke arah pemilik tangan dengan saputangan putih itu. Deg! Tiba-tiba jantungnya serasa berhenti berdegup. Sepasang mata yang dinaungi alis tebal dengan rahang kokoh dan hidung tinggi khas timur tengah menatapnya lembut. Pemilik tangan itu sangat tampan. Namun bukan itu yang membuat jantungnya berhenti berdegup, tatapan matanya. Lembut dan hangat seperti mata malaikat. Seakan bisa membuatnya meleleh dalam sekejap. Mata Kiera menatap tepat di manik mata menawan itu dan Kiera pun membeku. Ia seperti mengenal tatapan mata itu. Namun, ia tak tahu di mana. Mata itu menghipnotisnya. "Ambillah." Sekali lagi pemilik saputangan itu berkata sambil tersenyum. "Mmm... makasih...." Kiera tergagap. Ia masih merasa seperti déjà vu. Diambilnya saputangan itu dan dengan sedikit gugup ia mulai mengelap lengan kemejanya yang basah. "Kamu nggak apa-apa?" Demi Tuhan, Kiera rasanya seperti melayang mendengar nada suara penuh perhatian dan tatapan selembut itu. "Nggak apa-apa kok." Belum pernah Kiera mengalami hal seperti ini. Dan hal itu membuatnya semakin gugup. Kamus tebal yang dipegangnya dengan tangan kiri terjatuh. Shit! Kiera merasa tolol. Wajahnya memerah. "Aku taruh di sini ya?" Cowok itu dengan sigap mengambil kamus Kiera yang terjatuh dan meletakkanya di kursi depan kelas. Kiera mengangguk. Ia menunduk dan berpura-pura sibuk mengelap kemejanya. "Oke, kalau kamu nggak apa-apa aku tinggal dulu. Next time hati-hati ya?" Sesaat setelah menundukkan wajahnya untuk menatap Kiera ia melangkah pergi dengan meninggalkan senyum yang mampu membuat kaki Kiera lemas. Sekali lagi Kiera hanya bisa mengangguk seperti orang tolol. Tapi sesaat ia seperti tersadar saat melihat langkah cowok itu yang semakin menjauh. "Hey! Tu..." Kiera tak meneruskan panggilannya. Ia merasa malu. Dengan gontai ia lalu meraih kamusnya di atas kursi dan duduk di situ. Sekali lagi ia menoleh ke arah cowok yang sekarang sudah tak terlihat saat berbelok di ujung kelas sastra. Kiera menggigit bibirnya dan meremas saputangan putih di tangannya. Lalu ia mengembuskan napas dengan kesal. Ia bahkan tidak tahu siapa nama cowok itu. Cowok yang untuk pertama kalinya bisa membuat pipinya memerah dan jantungnya seakan berhenti berdetak. Kiera tidak tahu bahwa sosok yang memenuhi pikirannya itu ada tepat di sampingnya. Memandangnya lekat dan tersenyum melihat ia yang masih memainkan saputangan putih itu di tangannya. Ada kehangatan yang mengalir di dadanya. Senyum sosok terkembang semakin lebar. Ia merasa yakin dengan pilihannya kali ini.
Peluklah Mimpimu "Kie! Lihat deh!" Sambil terengah karena mengejar langkah Kiera yang lebih dulu sampai di gang, Lucy melambaikan selembar kertas ke muka Kiera. "Apaan sih? Lu dari tadi gue tungguin nggak nongol-nongol. Sorry gue duluan tadi." Kiera melirik tak acuh. Ia masih memikirkan senyum pemilik saputangan yang ia simpan di tasnya. "Baca dulu!" Lucy mengangsurkan selembar kertas itu di tangan Kiera. "Wow! Lu dapet dari mana??" Mata Kiera terbelalak dan berbinar setelah membaca kertas itu. Ia menatap Lucy penuh antusias. "Gue gitu loh. Apa sih yang nggak bisa gue dapetin?" Lucy meringis memamerkan deretan gigi bagusnya. "Serius, Cy!" Kiera menarik rambut Lucy. Lucy tergelak. "Bokap gue abis ngisi acara di sebuah stasiun TV dan lihat brosur ini. Dia bawa pulang deh, dikasih ke gue." "Keren, Cy! Kita masukin Rara yuk?!" "That's the plan, Kie. Kita kasih tahu Rara abis ini. Moga dia mau ya?" Lucy tersenyum manis. "Iya. Ini bakal jadi langkah besar buat dia." Kiera mengangguk setuju. Ia memandangi kertas itu penuh semangat. Tentang audisi ajang pencarian bakat menyanyi anak-anak di sebuah stasiun televisi. Raralah yang melintas di pikiran mereka setelah membaca itu. Mereka berdua akan mendaftarkan Rara seandainya Rara setuju. Suara emas Rara membuat mereka yakin Rara bisa mengikuti ajang pencarian bakat itu. "Siang semua..." Lucy menyapa riang anak-anak yang telah duduk manis menunggu mereka. "Siang Kak..." Binar di mata anak-anak menyiratkan semangat dalam diri mereka. "Wah, sepertinya hari ini kalian terlihat segar. Udah pada sarapan ya??" Kiera tersenyum lebar sambil menatap mereka satu per satu. "Udah Kak..." Mereka menjawab serempak. Pembahasan tentang mimpi kemarin membuat mereka lebih bersemangat. Mereka ingin suatu saat nanti nasib akan berubah dan mungkin mereka akan bisa menggapai mimpi mereka. "Kak, aku mau nanya..." Aldi mengangkat tangannya setengah ragu. "Iya, boleh. Ada apa, Aldi?" Kiera menatap Aldi penuh perhatian. Anak-anak yang lain mentapnya penuh rasa ingin tahu. "Gini Kak?. Kalau misalnya aku mau sekolah lagi di sekolah formal bisa nggak, Kak?" Aldi meringis malu. Dulu ia sempat sekolah sampai kelas dua. Namun, ia tidak tega melihat Ibunya yang bekerja keras untuk membiayai sekolahnya. Ia pun memutuskan untuk berhenti dan mengamen untuk sedikit meringankan beban Ibunya. Kiera dan Lucy berpandangan. Lucy mengangkat kedua alis matanya. "Bisa kok. Kalau Aldi mau nanti Kakak bakal cari info ke sekolah dekat sini. Sekarang sekolah nggak mahal kok, gratis malahan. Kakak seneng kalau kalian bisa sekolah lagi di sekolah formal." Kiera menjawab penuh semangat. "Kami semua pengin sih Kak sekolah lagi. Tapi..." Rara tidak meneruskan perkataannya. Ia mengatupkan bibirnya dan mulai cemberut. "Tapi kenapa? Ceritain deh ke Kakak ada apa?" Lucy menatap mereka semua. "Itu, Kak, anak-anak suka mengolok-olok kita. Mereka bilang kita dekil dan bau." Hardi ingat saat ia dulu pernah sekolah sebentar. Ia memang kadang tidak mandi saat sekolah karena tidak ada yang mengurusnya. Anak-anak mengangguk setuju mendengar perkataan Aldi. Dibesarkan di lingkungan seperti ini membuat mereka kurang percaya diri di lingkungan yang baru. Apalagi di sekolah yang semua serbarapi dan teratur. "Iya, Kak. Kadang kita nggak punya cukup uang buat beli seragam ama peralatan sekolah. Jadi mereka ngetawain kita." Oban menambahkan. "Hmmm..." Kiera terdiam sejenak seperti berpikir, sementara Lucy menatap mereka penuh haru. Mereka berdua tak pernah tahu tentang hal-hal seperti itu karena mereka hidup di keluarga yang berkecukupan dan sedari kecil mereka sekolah di sekolah keren dan ternama. Lucy memikirkan jumlah uang di tabungannya. Mungkin cukup untuk membantu mereka. Sementara Kiera lebih memikirkan bagaimana cara mereka agar bisa sekolah lagi dan membuat mereka berpenampilan bersih dan rapi. Kiera memandang Lucy. "Gue ada tabungan lumayan buat bantu mereka beli seragam atau peralatan sekolah Kie..." Lucy berguman pelan. Kiera menatapnya penuh haru. Ia mengenal Lucy lama, sejak kecil mereka selalu bersama. Ia tahu Lucy memiliki hati seindah malaikat. Lucy-lah orang pertama yang selalu bisa ia andalkan dalam situasi apa pun. Demikian juga Lucy berpikir tentang Kiera. Sahabat terbaik yang ia punya. Yang kadang keras kepala, namun berhati lembut. Yang membuatnya mengenal kehidupan anak-anak di sini, kehidupan yang sangat berbeda dengan yang ia jalani. "Oke. Kalian sungguh-sungguh ingin bersekolah lagi?" Sekali lagi Kiera menatap mereka satu per satu. Namun, ada nada serius dalam suaranya kali ini. "Iya, Kak!" Anak-anak menjawab serempak. Rupanya mereka telah berbicara satu sama lain tentang ide sekolah kembali. "Baiklah. Kakak berdua bakal bantu kalian. Tapi kalian mesti ikutan apa kata Kakak. Pertama, kalian mesti bersih dan rapi. Tak perlu baju baru, baju lama asalkan kalian cuci bersih dan simpan di tempat bersih itu tak apa-apa. Kalian mesti mandi sehari dua kali, gosok gigi dan biasakan cuci tangan setiap saat. Juga keramas. Usahakan tiap hari keramas soalnya kalian tiap hari kena asap dan debu. Yang pasti kalian harus perhatiin kebersihan badan kalian sebelum berangkat sekolah. Masalah sekolah nanti Kakak bakal tanyain ke sekolah deket sini. Dan masalah seragam..." "Haiiii!" Belum sempat Kiera menyelesaikan perkataanya tiba-tiba sebuah suara bariton menyela. Semua mata memandang ke arah sumber suara penuh tanda tanya. Kiera dan Lucy terbelalak tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Lucy menutup mulutnya. Dengan takjub ia memandang sosok yang berdiri dengan tangan di kantong celana jeans dan tersenyum penuh percaya diri. Sosok tampan dan penuh pesona. Rey. Kiera memandang Lucy melotot, meminta penjelasan. Namun, Lucy hanya mengedikkan bahunya dan kembali menatap Rey dengan takjub. Anak-anak saling berpandangan. Mereka semua seperti Lucy, tak berkedip menatap Rey yang terlihat sempurna. "Hai Kiera, Lucy... Haiii semuaaa... Kok pada bengong? Ayo dong bilang hai..." Dengan penuh percaya diri Rey melangkah ke arah mereka sambil tertawa memamerkan deretan gigi putihnya. Tanpa canggung ia lalu duduk di bangku kecil kosong dekat Kiera. "Kenalin, aku Rey, temen Kiera and Lucy. Kalian bisa panggil aku Kak Rey. Mulai sekarang aku bakal sering-sering ke sini." Rey menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mengedipkan mata dan menatap mereka masih dengan senyum tampannya. "Oh iya, kalian semua, ini Kak Rey, temen kita, say hi dong..." Lucy segera berdiri dan meringis lucu mengenalkan Rey ke anak-anak. Meskipun ia masih sedikit bingung, namun ia tak peduli. Ia senang sekaligus masih merasa takjub melihat Rey di dini. "Hai, Kak Rey..." Anak-anak menyapa Rey serempak. Senyum mereka menyembul malu-malu. Terlihat sekali kekaguman di mata mereka melihat Rey. Rey melambaikan tangannya ke arah mereka dan tertawa lebar. Ia melirik Kiera yang mengangkat alisnya meminta penjelasan. "Tadi kebetulan aja pas gue di mobil lihat elu berdua jalan ke sini. Gue ngeri kalian berdua nyasar trus gue turun deh ngikutin kalian berdua." Rey meringis lucu melihat Kiera yang mengerutkan keningnya setengah tak percaya mendengar penjelasan itu. Tentu saja Kiera tak percaya karena Rey memang sengaja datang ke sini. Beberapa hari yang lalu ia berdiri di seberang jalan, menunggu Kiera lewat di gang depan. Lalu saat ia melihat Kiera dan Lucy turun dari angkot ia mengikuti mereka diam-diam. Dan dari tempat yang tak terlihat oleh mereka ia memperhatikan Kiera, Lucy dan anak-anak yang tengah asyik belajar. Hari ini ia mendengar tentang Kiera yang di siram air soda oleh Sheila, tanpa berpikir panjang ia langsung melesat ke sini karena tahu Kiera pasti akan ke sini. Benar saja, saat sampai di sini ia melihat Kiera dan Lucy tengah berbincang asyik dengan anak-anak. Sebenarnya Rey hanya ingin mengamati saja dari kejauhan, namun apa yang anak-anak dan Kiera serta Lucy bicarakan membuat hatinya sungguh tersentuh. Mata polos anak-anak dan keinginan mereka untuk sekolah, juga ejekan yang mereka terima membuatnya ingin melakukan sesuatu. Ia termangu dan merasa sangat malu dengan kelakuannya selama ini yang tak pernah berhenti bersenang-senang dengan uang melimpah yang dimilikinya. Hatinya teriris mendengar keinginan sederhana anak-anak untuk bisa kembali bersekolah. Lalu tanpa pikir panjang, ia yang sedari tadi hanya bersandar di balik kios kecil memberanikan diri melangkah dan menyapa mereka. Rey tak peduli kalau nanti Kiera akan memarahinya. Ia hanya ingin berbuat sesuatu untuk anak-anak itu. "Nggak apa-apa kok, Rey. Kita seneng lihat lu di sini. Here we are, kita di sini pengin bagi sedikit ilmu kita buat mereka. Mereka anak-anak yang luar biasa." Seperti biasa, Lucy tak memedulikan tatapan kesal Kiera. Ia menyambut Rey dengan segala keriangannya. "Thanks, Cy. Baru pertama kali gue ada di tempat kayak gini. Gue seneng. Kalau kalian ngebolehin, gue pengin ikutan bantuin kalian di sini." Ada ketulusan dan juga keharuan di sorot mata Rey saat pandangannya menyapa anak-anak. Kiera bisa melihat semua itu. "Oke, jadi lu dah tahu kan kita ngapain di sini? Kalau lu mau ikutan bareng-bareng kita di sini, it's oke. Kita juga seneng. Jadi nambah lagi seseorang yang bakal berbagi ilmu ama mereka. Lu anak hukum kan? Lu bisa ajarin mereka tentang hukum, asal jangan lu ajarin aja mereka tentang pesta kaum jetset lu." Kiera menatap Rey sambil tersenyum geli. Rey mengedipkan matanya, tertawa dan mengalihkan pandangan ke arah anak-anak. Ia berusaha menyembunyikan detak di dadanya melihat senyum indah Kiera. Ia juga sangat senang Kiera, Lucy dan anak-anak menerimanya dengan baik. "Bener Kie??! Asyikkk! Kalian! Kita ada Kak Rey sekarang yang bakal ikutan ngajarin kalian di sini!" Lucy bertepuk tangan dan matanya berbinar senang. Anak-anak saling berbisik dan tertawa lebar. "Oh iya, tadi sempet nguping nih, denger-denger kalian pengin sekolah lagi ya?" Rey menatap mereka penuh semangat. "Iya, Kak!" "Good! Bagus banget. Kalian nggak usah khawatir, masalah seragam sekolah dan segala peralatannya Kakak bakal beliin buat kalian semua. Kalian tulis aja apa yang kalian perluin dan kasih ke Kak Kiera, nanti Kak Rey yang bakal beliin." Rey mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan tersenyum. Lucy terpana melihat pesona Rey. Dengan senyum tulus dan bahasa tubuhnya, ia terlihat sungguh memesona. Anak-anak juga menatapnya penuh kagum. Bukan hanya pesona Rey saja yang membuat mereka terkesima, namun juga perkataan Rey. Hanya Kiera yang terlihat biasa karena di pikirannya telah terisi dengan pemilik saputangan putih yang sanggup meruntuhkan dunianya pagi tadi. "Beneran, Kak??" Penuh harap semua mata menatap Rey. "Iya. Asal kalian mau belajar dan sekolah sungguh-sungguh, semua kebutuhan kalian bakal Kakak beliin." "Asyikkk! Kita bakal sungguh-sungguh, Kak!" Mereka berseru senang. Lucy menoleh ke arah Kiera dan mengedipkan matanya. Kiera tersenyum. Keceriaan anak-anak mendengar tawaran Rey membuatnya luluh. "Oke, thanks Rey atas tawarannya. Kalian boleh tulis apa aja kebutuhan kalian buat sekolah dan nanti kasih tahu Kakak ya. Tapi pertama-tama kalian mesti minta izin orang tua kalian dulu." "Oke, Kak!" "Sekarang kita lanjutin pelajaran kita kemarin. Ada yang masih ingat?" "Tunggu, Rara sini dulu. Kak Lucy pengin ngomong." Lucy menyela dan melambaikan tangannya ke arah Rara. Rara yang sejak tadi terlihat antusias dengan ide tentang sekolah lagi segera beranjak dan menghampiri Lucy. Ia lalu duduk di antara Lucy dan Rey. Sementara Kiera melanjutkan pelajarannya dengan yang lainnya. "Rara, kakak mau kasih tahu kamu sesuatu. Kakak kemarin dapet brosur tentang ajang pencarian bakat di sebuah stasiun televisi. Kira-kira Rara mau nggak kalau Kakak daftarin? Suara kamu kan bagus banget." Rara sedikit terkejut mendengar kata Lucy. Ia terdiam, seperti berpikir. "Maksudnya Rara nyanyi, Kak?" Tanyanya setengah ragu. "Iya, kamu ikut audisinya. Kakak yakin kamu bakal masuk. Suara kamu bagus, Ra." "Tapi... gimana caranya, Kak? Emang Rara bisa?" Ia mengerutkan keningnya. "Kalau kamu mau, ntar Kakak yang bakal atur semua. Kamu tinggal dateng aja. Mau ya?" "Wait, aku mau denger dong suara kamu. Coba nyanyi satu lagu deh." Rey yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua menyela. "Tuh, Kak Rey pengin denger kamu nyanyi." Lucy tertawa dan meraih gitarnya yang dari tadi tergeletak di situ. Tanpa ragu Rara menerima gitar Lucy, duduk dan memainkan sebuah lagu diiringi petikan gitarnya yang belum terlalu sempurna. Suaranya mengalir indah. Rey menatapnya setengah terpukau. "Wah! Keren! Suara kamu bagus banget. Nggak sangka kamu bisa nyanyi sehebat itu. Lucy bener, Ra. Kamu mesti ikut audisi itu." Rey berseru dan menatap Rara penuh kagum. "Makasih, Kak. Kak Lucy yang ngajarin." Rara tersenyum malu. "Lu bisa main gitar?" "Kalau nggak bisa napa gue bawa-bawa gitar ke sini?" Lucy meringis lucu mendengar pertanyaan konyol Rey. Lalu ia meraih gitar di pangkuan Rara dan tangannya dengan lincah memainkan nada indah lagu Selena Gomes 'Only You'. Rey tertegun takjub mendengar suara Lucy. Sangat indah. Ia menatap Lucy yang terlihat berbeda saat bernyanyi. Tak dilihatnya sosok konyol yang tak pernah bisa serius itu. Ia terlihat manis dan menawan. Ada sesuatu yang berbeda yang dirasakannya saat melihat Lucy seperti itu. Sungguh dua sahabat yang luar biasa. Rey merasa beruntung bisa mengenal mereka. "Keren, Cy! Suara lu oke banget. Pantesan aja Rara nyanyinya bagus, yang ngajarin sekeren elu." Lucy tersipu malu mendengar pujian Rey. Ia melirik di ujung sana Kiera mengedipkan matanya. "Thanks, biasa aja kok." Lucy menunduk malu-malu. "Kalian berdua keren nyanyinya. Jadinya gimana? Rara mau kan?" "Tapi Kak... Rara malu." Suara Rara masih terdengar ragu. "Kenapa mesti malu? Dengan suara seindah itu kamu bakal jadi penyanyi keren Ra." "Tapi kan..." "Diki! Sini deh!" Lucy memotong ucapan Rara. Diki yang tengah memperhatikan pelajaran dari Kiera beranjak dan bergabung dengan mereka. "Kita mau ikutin Rara audisi pencarian bakat di televisi. Menurut kamu gimana, Diki?" "Beneran, Kak?? Boleh! Diki setuju banget, Kak! Kapan??" Diki terlihat kaget dan semangat sekali mendengar apa yang dikatakan Lucy. Matanya berbinar senang dan penuh semangat. "Tapi, Kak, ntar kalau Bapak marah gimana? Trus kan mesti perlu persiapan..." Melihat Diki yang terlalu bersemangat mendengar tawaran Lucy, Rara mulai tertarik. Menjadi penyanyi berbakat memang impian Rara. Sebenarnya hatinya sudah berdetak tak keruan sejak mendengar tawaran Lucy sedari tadi, namun ia berusaha menutupinya karena ia tahu diri dan merasa malu untuk merespons Lucy. "Tenang aja, urusan Bapak Kak Diki yang bakal hadepin. Kamu cuma perlu belajar lagi dari Kak Lucy cara nyanyi yang bener. Percaya deh ama Kakak. Kita semua bakal dukung kamu." Diki berusaha meyakinkan Rara. "Dan masalah audisi, nanti Kak Rey ama Kak Lucy yang bakal urusin. Kebetulan Kakak sering main ke stasiun TV situ. Temen Kakak sering shooting di situ dan Kakak kenal dengan beberapa orang di situ. Isi aja formulir ama persyaratannya, ntar Kakak yang serahin ke sana." "Wah! Kebetulan banget. Jadi enak nih kita. Gimana, Ra? Siap?" Lucy menganggukkan kepalanya senang dan kembali menatap Rara yang mulai tersenyum "Oke, Kak, Rara mau." Rara menjawab dengan mata berkerjab penuh semangat. "Gitu dong, itu baru namanya adik gue." Diki mengacak rambut Rara tersayang. "Iya! Ini nih calon penyanyi kita." Lucy berdiri dan memeluk Rara hangat. Rey tersenyum menatap mereka semua. Ia merasa terharu. Sesuatu yang tak pernah ia lihat dan rasakan sebelumnya. Berkumpul dan berbincang dengan mereka tak pernah ada dalam bayangan sebelumnya. "Seru banget? Ada yang Kak Kiera lewatin nih kayaknya?" Kiera berjalan ke arah mereka dan duduk bergabung sementara anak-anak yang lain sibuk menulis di buku masing-masing. "Rara setuju buat ikutan audisi, Kie. Ntar Rey yang mau bawa formulirnya ke sana, Rey kenal ama orang-orang TV sana." Lucy tersenyum senang menatap Kiera. "Wow! Bener-bener keren! Kakak yakin kamu pasti bisa, Ra. Semangat! Terus belajar ama Kak Lucy ya. Lu mesti ajarin yang bener, Cy! Bikin Rara jadi the winner ntar." Kiera membungkuk dan menyentuh dagu Rara lembut. "Makasih Kakak-kakak semua, kalian memang malaikat yang dikirim Tuhan untuk kita." Diki menatap semua penuh haru. Matanya berkaca. Ia senang melihat Rara yang begitu bersemangat dengan binar penuh harap di matanya. Baru kali ini ia melihat adiknya sebahagia itu. Namun, tiba-tiba dadanya terasa sesak. "Uhukkk!" Diki terbatuk. Dadanya terasa sakit. Ia lalu berdiri dan terhuyung ke arah belakang. "Diki kenapa?" Kiera dengan cepat menyusul Diki dan memegang lengannya. Ia menatap Diki penuh khawatir. "Nggak apa-apa, Kak, batuk aja. Bentar ya, Kak, Diki mau minum." Setengah berlari Diki masuk ke dalam rumah sambil menutup mulutnya. Kiera masih menatap ke arah Diki, seperti ada sesuatu yang aneh yang dirasakanya. "Kie, kita butuh foto Rara nih!" Teriakan Lucy membawanya kembali melangkah ke arah mereka. "Oke, Cy, kita foto Rara abis ini." "Gue aja yang ngurusin." Rey menawarkan diri. Mereka berdua mengangguk. "Kamu sisiran dulu yang rapi, Ra." "Oke, Kak." Rara lalu berlari masuk ke dalam rumahnya. Sementara Diki yang sudah ada di dalam rumah membuka tangan yang sedari tadi menutupi mulutnya. Ia tertegun. Tangannya gemetar. Ada bercak darah di situ. Ia terhuyung dan bersandar di tembok yang hanya berlapis batu bata. Dingin merambat ke punggungnya. Dadanya kembali terasa sakit. Ia memegang dadanya dengan tangan sebelah kiri. "Kak! Sisir di mana?" Teriakan Rara yang tiba-tiba muncul di depan pintu mengagetkannya. Diki berdiri tegak, menyembunyikan tangan kanannya di belakang punggung. "Kenapa lu, Kak?" Langkah Rara terhenti tepat di depan Diki. Ia merasa aneh melihat Diki yang berdiri dengan gugup. Wajahnya terlihat pucat. Pelahan Rara menghampiri Diki dan menatapnya lekat. Kening Rara berkerut. "Kak..." "Kakak nggak apa-apa, Ra. Cuma batuk aja kok. Lu tadi nyari sisir? Tuh deket kaca kecil." Diki menepis tangan Rara yang hendak menyentuh lengannya. Lalu ia menunjuk sisir di dinding dengan kaca kecil yang menempel di situ. "Kakak yakin nggak apa-apa? Tapi Kak Diki kelihatan pucat." Rara menatap Kakaknya khawatir. Ia tak percaya Diki baik-baik saja. Belakangan ini ia sering melihat Diki batuk-batuk. Ibu sudah membelikannya obat batuk saset pasaran namun obat-obatan itu tak meredakan batuknya sama sekali. "Ya elah, batuk doang, Ra. Gue nggak bakal kenapa-napa. Bentar ya gue ke kamar mandi dulu. Lu kenapa tumben mau nyisir?" Diki tersenyum geli sambil berjalan ke kamar mandi. Ia memasukkan tangan kanannya ke kantong celana. "Idih! Tiap hari juga Rara nyisir abis mandi. Emang Kak Diki, nggak pernah nyisir!" Rara menjulurkan lidahnya dan mengambil sisir lalu mulai merapikan rambutnya. Ia lega melihat Diki yang mulai tersenyum seperti biasa. Di kamar mandi Diki membasuh tangan kanannya perlahan. Lalu ia kembali bersandar di tembok, termangu lama di situ. Dadanya kembali terasa sakit. Tanpa ia sadari ada sosok yang berdiri tepat di depannya. Memandangnya yang tengah memegang dada menahan sakit. Sosok itu terus mengawasi Diki yang perlahan menarik napas dan mengembuskan pelan lalu membasuh wajah dan berjalan keluar kembali berkumpul bersama teman-temannya. Sosok itu berhenti dan mengalihkan pandanganya ke arah gadis bermata cokelat yang tengah bersemangat membahas sesuatu dengan temannya. Kiera. Ia tersentak ketika tiba-tiba Kiera seperti menatap ke arahnya. Kembali dirasakannya sesuatu yang aneh yang bergetar di dada. Ada sesuatu yang membuatnya ragu sekarang. Ia tahu apa yang akan dilakukannya akan membuat mata cokelat indah itu mengalirkan air mata. Namun, ia juga tahu ini adalah tugasnya. Tugas yang mesti ia selesaikan.
Panggil Aku Arrash Kiera tampak serius duduk dengan laptop di atas meja belajarnya. Ia membuka website stasiun TV swasta yang mengadakan audisi pencarian bakat. Ia harus tahu apa saja yang mesti Rara persiapkan untuk bisa ikut audisi. Meskipun ada Lucy dan Rey yang akan membantunya, namun ia tetap ingin ikut mempersiapkan juga. Sama seperti di brosur yang dibawa Lucy, di website itu dijelaskan juga persyaratan dan juga pengisian data diri calon peserta. Namun di website ini lebih lengkap karena Kiera bisa melihat audisi yang pernah diadakan sebelumnya sehingga ia bisa mengira-ngira apa saja yang nantinya akan diperlukan oleh Rara. Kiera terpaku menatap laptopnya. Lama ia menelusuri website itu sambil mencatat beberapa hal. Ia adalah orang yang perfeksionis, semua harus ia perhatikan secara detail. Setelah beberapa saat ia mengusap matanya yang mulai terasa lelah. Ia berdiri, mengambil segelas air dingin dari kulkas, meneguknya hingga habis. Lalu menyambar syal biru di gantungan baju, memasangnya di leher dan keluar pelan dari kamarnya. Tak lupa handphone ia kantongi di saku celana pendeknya. Masih pukul 9 malam, namun suasana di perumahan sini telah sepi. Mungkin karena perumahan di sini termasuk perumahan menengah ke atas, jam segini orang-orang beristirahat setelah lelah seharian beraktivitas. Kiera berdiri di beranda rumahnya yang berpagar rendah dengan banyak bunga di halaman kecil kesukaan mamanya. Ia menatap langit. Cahaya keperakan menyapanya. Bulan yang hampir sempurna dengan bintang-bintang yang menemani seperti memanggilnya untuk melangkah keluar. Kiera membuka pintu pagar, menutupnya pelan dan berjalan ke arah taman kecil tak jauh dari rumahnya. Ada sebuah tanah lapang yang ditanami pohon-pohon pinus kecil dan bunga-bunga, juga beberapa bangku dari kayu jati dan kolam kecil berair jernih dengan pancuran di tengahnya. Taman yang kadang ramai saat akhir pekan. Taman itu terlihat sepi malam ini. Lampu kecil di empat sudutnya cukup membuat taman itu terang. Cahaya bulan memantul di sela-sela dedaunan. Kelopak mawar pun terlihat keperakan. Kiera melewati jalan setapak dengan rumput hijau lembut di sekelilingnya, ia menuju bangku kayu di sudut belakang dan duduk di situ. Ia menutup mata dan menghirup aroma wangi mawar, melati dan bunga-bunga lainnya yang terbawa angin sepoi. Saat membuka matanya pelan ia tersentak kaget dan refleks punggungnya menempel ke sandaran bangku. Ada sesosok tubuh berdiri tepat di depannya. Gelap karena punggungnya menghalangi cahaya bulan. Kiera hendak berdiri tapi wangi berbeda dari bunga yang tadi dihirupnya seperti menghipnotisnya untuk tetap duduk di situ, wangi yang dikenalinnya. "Hi, it's me. Masih inget?" Mata Kiera mengerjap saat sosok itu membungkuk di depannya. Detak jantung Kiera seakan berhenti saat mengenali suara dan raut muka sosok yang berada tepat di depannya itu. Pemilik saputangan putih yang kemarin membuatnya seperti tak berpijak di bumi. Kali ini kedatanganya yang tiba-tiba mampu menghentikan detak jantungnya sekali lagi. Sosok itu berdiri dan pelahan duduk tepat di sampingnya. Seakan tak peduli bangku yang masih tersisa lebar, ia duduk sedemikan dekatnya dengan Keira. Bahkan lengan Kiera bersentuhan dengan lengannya. Kiera menggenggam pinggiraan bangku kayu erat. Wajahnya terasa panas dan memerah. Untunglah cahaya di sini temaram. Tak terlihat pipi Kiera yang memerah. "Kok diam? Lupa ya?" Ia menoleh. Senyum dan tatapan matanya membuat Kiera lemas. "Mmm? nggak kok." Kiera menjawab gugup. Ia menggigit bibirnya. "Di sini enak suasananya. Tenang. Kebetulan sekali bulan juga hampir purnama." Sosok itu bersandar dengan santai ke sandaran bangku, tangannya di masukkan ke kantong sweater birunya. Sweater dengan kerah tinggi yang menutupi lehernya. Rambut ikalnya di biarkan tergerai. Ia terlihat sangat tampan. "Kok bisa ada di sini? Emang tinggal di daerah sini juga?" Kiera memberanikan diri menoleh dan menatapnya. Saat pandangan mata mereka bertemu, seperti ada medan magnet dalam kedua mata sosok itu yang membuatnya tak bisa mengalihkan pandangan. Seperti anak panah yang dilesatkan juga, menembus dada tepat di jantung hatinya. Selembar daun mahoni yang tertiup angin jatuh di rambut Kiera dan sebuah tangan terulur, meraihnya. Saat tangan itu mengambil daun di rambutnya pelan, tak sengaja menyentuh pipi Kiera. Kiera tergeragap. Dadanya berdetak kencang. "Nggak kok. Kebetulan aja pas ada di sekitar sini. Tadi lihat kamu jalan aku samperin ke sini." Daun di rambut Kiera masih ada di genggaman tangannya. "Makasih ya kemarin. Saputangan kamu masih ada di aku, belum sempat dicuci." Kiera berusaha tenang. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu dengan bertingkah tolol. Ia mulai menata detak jantungnya. "Nggak apa-apa, buat kamu aja. Nggak kepakai kok. Mereka keterlaluan. Sekali lagi mereka berani ngerjain kamu, aku bakal kasih mereka pelajaran yang nggak bakal mereka lupain." Mata itu mengerjap tajam. Kiera mendengar kepedulian dan perhatian dalam nada suara itu. Rasanya sosok di sampingnya itu telah mengenalnya lama. Kiera merasa sedikit heran, namun ia berusaha untuk tidak memikirkannya. "Mereka emang kayak gitu. Mungkin karena ngerasa lebih dari segalanya." "Harusnya mereka sadar mereka itu udah bukan anak kecil lagi dan nggak bertindak kekanakan." "Tapi lucu juga ngelihat Sheila jatuh. Kayaknya sakit banget deh, jalannya aja ampe pincang gitu." Kiera tertawa geli teringat wajah Sheila saat tersandung. Sosok di sampingnya tersenyum, menatap wajah lucu Kiera saat tertawa. Ingin sekali ia merengkuh tubuh mungil yang penuh pesona di sampingnya itu ke dalam pelukannya. Mata cokelat Kiera yang menyipit saat tertawa membuatnya tak bisa mengalihkan pandangannya. Akan kulakukan segalanya untuk bisa selalu melihat senyum dan tawamu, gumannya dalam hati. "Hei, kita belum kenalan. Aku Kiera." Uluran tangan Kiera menyadarkannya. "Panggil aku Arrash." Ia menerima uluran tangan Kiera. Saat kedua tangan mereka bersentuhan, sekali lagi tubuh mereka seperti dialiri listrik ribuan watt. Mereka saling menatap tepat di manik mata masing-masing. Kiera tak merasa ada di bumi karena mata itu menariknya ke sebuah tempat lain, tempat yang asing namun hangat dan indah. Tok... tok... tok. Ketokan abang nasi goreng yang melintas menyadarkan mereka. Arrash, sosok yang sekarang ia tahu namanya itu tersenyum, menyilangkan kedua tangannya di dada dan menatap lurus ke depan. Kiera menunduk, menyembunyikan pipinya yang kembali merah dan hangat. Entah apa yang dimiliki Arrash hingga mampu membuatnya seperti melayang dan kehilangan kata-kata tiap kali berada di dekatnya. "Mau lihat sesuatu nggak?" Saat tengah menatap langit, tiba-tiba Arrash berdiri. Ia mengangkat alisnya dan senyumnya membuat Kiera spontan mengangguk. "Kemarilah," Arrash mengulurkan tangannya. Kiera yang masih duduk menyambut uluran tangan itu dan berdiri tepat di samping Arrash. Arrash menatap lampu di empat sudut taman dan tiba-tiba saja keempat lampu itu padam. Kiera menatap sekelilingnya kebingungan. Mungkin ada seseorang yang mematikan lampu, pikirnya. Namun, tak ada seorang pun di sekitar situ. Hanya terdengar tawa beberapa orang dari pos satpam di ujung gang. "Ayo sini..." Arrash menarik tangan Kiera yang masih digenggamannya pelan. Mereka berjalan ke sudut taman yang tak tertutupi pepohonan. Hanya cahaya bulan yang menerangi taman itu sekarang. Dari sudut taman ini langit terlihat lebih luas dan terang. "Lihatlah..." Mata Kiera mengikuti jari telunjuk Arrash yang menunjuk ke langit, ke arah bintang-bintang. "Mmm... ada apa di sana?" Kiera memicingkan matanya karena yang terlihat hanya ribuan bintang seperti biasanya. "Mendekatlah ke sini." Arrash meraih kepala Kiera dan menggesernya dekat ke kepalanya. Kepala Kiera menyentuh pundak Arrash. Kiera berusaha keras untuk menahan detak jantungnya yang mendadak tidak keruan. Ia berusaha tenang. Namun, embusan harum napas Arrash yang hanya berjarak beberapa senti dari pipinya membuatnya gugup dan tangannya berkeringat. Kiera memejamkan mata sebentar, mengatur detak jantungnya dan kembali menatap langit. Jari telunjuk Arrash bergerak pelan seperti menggambar sesuatu di langit dengan jarinya. Kiera menatap tak berkedip. Ada sesuatu di langit. Tiba-tiba bintang-bintang seperti membentuk sebuah gambar. "Apa yang kamu lihat?" Tiba-tiba Arrash menoleh, ujung hidungnya yang lancip hampir menyentuh pipi Kiera. "Wow! A princess?" Kiera terbelalak takjub. Di antara ribuan bintang tepat di arah telunjuk Arrash tampak bintang-bintang yang membentuk gambar seperti seorang perempuan berambut panjang dengan mahkota di kepalanya. Kiera sering melihat bintang-bintang yang berbentuk rasi atau binatang seperti yang ia pikirkan, namun ia tak pernah melihat hal seperti itu. Cantik sekali. Kiera menatap langit tak berkedip. "Indah banget..." "Percayalah, aku telah melihat banyak hal, namun kamu yang terindah." Kiera menoleh dan mengerlingkan matanya mendengar jawaban Arrash yang ia pikir bercanda. Lalu Arrash mengarahkan telapak tangannya ke langit, membuat gerakan seperti menghapus dan telunjuknya mulai menggambar sesuatu lagi. "Lihatlah," Ia menatap lurus ke langit. Kiera mengikuti pandangan Arrash. "Teddy Bear!" Kiera memekik takjub. Bintang-bintang itu kini membentuk sebuah boneka beruang besar. "Kok bisa sih?? Gimana caranya?" Kiera berseru dengan pandangan tak lepas dari bintang-bintang di atas sana. Arrash menoleh dan mengamati wajah di sampingnya yang tengah terpukau menatap langit dengan mata bulat berbinar. Wajah yang tak pernah bosan ia pandangi. Saat Kiera tak berkedip menatap langit, ia tak berkedip menatapnya. Tak ada yang lebih indah dari wajah di sampingnya itu. "Hei! Ajarin dong gimana caranya. Keren banget!" Pegangan di tangannya membuatnya sedikit kaget. Kiera yang masih tak berkedip menatap langit tanpa sadar memegang tangan Arrash. "Gimana??" Tiba-tiba Kiera menoleh dan menatap Arrash. Ia pun tersenyum lebar. Sudut matanya melirik tangan kanan yang dipegang Kiera. "Oh! Sorry..." Kiera tersadar, lalu buru-buru ia melepaskan tangan Arrash. Ia menggigit bibirnya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Wajahnya kembali menghangat karena malu. "Rahasianya ada di sini." Arrash mengangkat tangannya, masih tersenyum melihat Kiera yang tersipu malu. Kiera menatap tangan itu. "Kok bisa? Ceritain dong?" Dengan antusias Kiera menoleh menatap Arrash kembali. "Katakanlah aku bisa sedikit sulap." "No way! Ini sih bukan tentang sulap. Ayolah! Ceritain..." Arrash tertawa lebar melihat mata Kiera yang membulat tak percaya mendengar jawabannya. "One day kamu bakal tahu. Sekarang anggep aja ini sulap." Tangan Arrash terulur merapikan rambut panjang Kiera yang menutupi pipi karena tertiup angin sepoi. Sekali lagi napas Kiera seperti berhenti. Semua hal yang dilakukan cowok yang baru dikenalnya kemarin itu membuatnya kehilangan kesadaran. Ia berusaha keras untuk tetap tenang. "Hmm... Nggak percaya kalau ini sulap. Pasti ada sesuatu..." Setengah cemberut Kiera kembali menatap langit. "Mau lihat yang lebih keren lagi?" Arrash mengangkat kedua alisnya masih sambil tersenyum. "Mauuuu..." Kiera menjawab cepat. Matanya kembali berbinar senang. "Baiklah." Lalu telunjuk Arrash kembali mengarah le langit. Membentuk berbagai macam gambar dengan cepat. Kiera berseru takjub setiap kali melihat bintang-bintang yang berubah setiap kali tangan Arrash digerakkan. Mereka berdua menatap langit, lalu saling berpandangan dan tertawa lepas. "...There is nothing holding me back..." Tiba-tiba handphone Kiera di kantong celana pendeknya berbunyi dengan nada dering lagu Shawn Mendez. Kiera merogoh kantongnya dan membukanya. 'Mom calling', begitu tertulis di layer. Kiera menekan tombol hijau. "Kie di mana? Mama ke kamar kamu nggak ada. Udah malem ini." Nada cemas Mama menyapanya. "Kie di taman, Ma, duduk-duduk bentar. Oke, Kie balik sekarang." Kiera menutup telepon. Arrash yang sedari tadi menatap Kiera buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain. "Sorry ya, udah malem, Mama suruh aku pulang." Kiera berkata pelan. Sebenarnya ia masih ingin menghabiskan waktunya malam ini bersama Arrash, namun waktu terus berjalan. "Iya, udah malem. Kamu mesti pulang." Arrash menatapnya. "Mmm? Kapan kita bisa ketemu lagi?" Kiera berkata setengah malu-malu. "Kita bakal sering ketemu, jangan khawatir. Sekarang kamu pulang ya, istirahatlah." "Okay. By the way makasih banyak ya? Malam ini indah banget. Aku seneng bisa ketemu kamu di sini." "Aku yang lebih seneng. Sampai ketemu besok." Arrash menyentuh ujung rambut di dahi Kiera lembut. "See ya," Kiera menatap Arrash, tersenyum lembut dengan pendar mata penuh sejuta bintang, kemudian berbalik dan melangkah pelan ke arah rumahnya. Senyum manis tak lepas dari bibirnya. Arrash membalas senyum Kiera dan melambaikan tangannya. Ia terus memandangi sosok Kiera yang semakin menjauh. Setelah Kiera tak terlihat lagi pelahan ia menghilang. Keempat lampu taman kembali menyala terang. Di kamarnya, Kiera berbaring memeluk boneka Teddy Bear kesayangannya. Ia tak bisa berhenti tersenyum. Setiap senyum dan tatapan mata Arresh tersimpan lekat di ingatannya. Juga sentuhan lembut di rambutnya. Semua itu membuatnya tak bisa memejamkan mata sama sekali. Arrash yang baru dikenalnya kemarin mampu membalikkan dunianya. Belum pernah ia mengalami hal seperti ini. Kiera memegang dadanya. Debar aneh masih terasa saat ia mengingat tatapan lembut Arrash. Kiera memejamkan mata. Namun, tetap saja bayangan wajah tampan itu yang memenuhi angannya. Setelah malam semakin larut, akhirnya Kiera tertidur dengan menyimpan senyum Arrash untuk mimpinya.
Mimpi Akan Menemukan Jalannya "Kie! Buruan!" Baru saja Kiera berbelok ke arah tanah lapang tempat anak-anak berkumpul, teriakan Lucy sudah menyapanya. Kiera memandang ke arah Lucy dengan takjub. Ia merasa heran Lucy datang lebih dulu daripada dia. Ada satu hal lagi yang membuat matanya melebar. Rey sudah ada di situ juga, di tengah anak-anak dan asyik berbincang dengan mereka. Hari ini semua tampak berbeda. Anak-anak yang datang pun terlihat lebih banyak. Mereka yang dulu hanya datang sekali dua kali, kali ini terlihat semua di sini. Kiera memandang mereka dan tersenyum senang. Lalu ia melangkah menghampiri Lucy. "Pagi semua!" sapa Kiera membuat semua mengalihkan pandangan ke arahnya. "Pagi, Kak!" Anak-anak menjawab serempak. Rara di dekat Lucy tertawa lebar. Lucy membisikkan sesuatu padanya. Diki yang duduk agak belakang tersenyum kecil melirik tawa adiknya. Rara terlihat serius mendengarkan Rey yang tengah menceritakan sesuatu ke mereka. Rey melambaikan tangan ke Kiera dan mengedipkan matanya. Kiera tersenyum. "Good news, Kie!" Belum sempat ia menyapa Lucy, Lucy telah menarik tangannya dan mengajaknya duduk di sampingnya. "Ada apaan sih? Tumben lu dateng cepet banget. Ada Rey lagi. Kalian berdua janjian ya??" Kiera tertawa lebar meledek Lucy. "Ih, apaan sih? Tadi gue ketemu doi di gang depan." Lucy menjulurkan lidahnya. "Masyaaa??" "Serius nih. Rey tadi bilang ke gue Mamanya punya yayasan sekolah nggak jauh dari sini. Rey udah bilang ama Mamanya minta anak-anak sini bisa sekolah di sana dan Mamanya oke sih." "Beneran, Cy??" Kiera menatap Lucy setengah tak percaya. "Beneran! Lu tanya Rey deh kalau nggak percaya!" "Wahhh! Keren! Akhirnya mereka bisa sekolah lagi!" Kiera berseru senang. Ia memandang Rey yang kebetulan tengah menatapnya dengan mata berbinar. Rey mengangguk, ia sekilas mendengar omongan mereka berdua. Kiera merasa sangat senang. Ia selalu ingin melihat anak-anak di sini bisa berhasil dan menjadi seperti yang mereka mimpikan suatu saat nanti. "Iya, Kak! Makanya hari ini banyak yang dateng. Mereka pada denger kalau kita bakalan bisa sekolah lagi. Kita pengin bisa sekolah lagi, Kak." Rara yang duduk di dekat Lucy menimpali. "Jangan khawatir. Kalian semua bakal bisa sekolah lagi." Dengan nada penuh kegembiraan Kiera menatap Rara. Lucy di sebelahnya mengacungkan jempolnya. Kedua sahabat itu berpandangan dan tersenyum lebar. Kiera melirik Rey yang masih asyik berbincang dengan anak-anak dengan penuh haru. Rey menjelaskan tentang apa saja yang dibutuhkan agar mereka bisa masuk ke sekolah milik Mamanya, termasuk izin dari orang tua dan data diri. Kiera merasa bersyukur ada Rey di sini. "Oh ya, Kie, Rara juga udah siap nih. Formulir yang kemarin dah ready. Ntar mau dibawa Rey." Lucy mengangsurkan selembar kertas di tangannya. Kiera membacanya sekilas. Semua sudah lengkap. "Sip! Tinggal bentar lagi nih. Yang serius ya, Ra? Lakuin yang terbaik yang bisa kamu lakuin." Kiera menatap Rara sungguh-sungguh. "Siap, Kak! Rara nggak akan ngecewain Kakak semua. Rara udah latihan tiap hari. Kak Lucy juga ngajarin banyak hal yang penting buat Rara. Rara pasti bisa, Kak!" Rara mengepalkan tangannya penuh semangat. "Ntar kalau kamu lolos audisi juga bakal ada karantina dan kamu bakal diajarin ama profesional. Kita fokus dulu ke audisi besok, persiapin aja suara emas kamu." Lucy menambahkan. "Iya, Ra. Sementara kamu nggak usah ngamen dulu. Biar Kakak yang nyari uang. Serahin aja masalah itu ama Kakak. Kamu cuma perlu berlatih sekarang. Bikin kita semua bangga dengan lolos di audisi itu, Ra." Diki yang tiba-tiba berdiri di belakang Rara memegang bahu Rara hangat. Rara menoleh. Menatap Kakaknya dengan mata berkaca. "Rara akan berusaha semaksimal mungkin, Kak." Ia meremas tangan Diki di bahunya. Diki tersenyum mengusap rambut Rara. "Oh iya, Kak, abis ini Diki pergi dulu ya? Soalnya kemarin diajakin Bang Rahman sebelah rumah bantuin ngaduk semen ama ngangkatin pasir di kantor kelurahan yang lagi dibangun. Lumayan upahnya." Diki menoleh ke arah Kiera dan Lucy. "Hmm? Kakak sih nggak apa-apa. Tapi kamunya nggak apa-apa kan? Kamu agak pucat Kakak perhatiin akhir-akhir ini." Kiera menatap Diki sedikit cemas. "Nggak apa-apa, Kak, tenang aja. Diki cuman belum sarapan aja tadi. Nih Diki mau balik dulu sarapan." Diki nyengir menatap Kiera. "Baiklah kalau kamu nggak apa-apa. Tapi bener sarapan dulu ya." Kiera tersenyum. "Kakak makan aja sayur ama lauknya. Ntar Rara beli gorengan di depan." Rara teringat di meja tadi hanya ada semangkuk kecil sayur dan dua biji tahu dan tempe goreng. "Kayak Kak Diki makannya banyak aja, Ra. Ya udah, Kakak siap-siap dulu ya. Duluan ya, Kak Kie, Kak Lucy." Diki tertawa dan berjalan ke dalam rumah sambil melambaikan tangan sekilas ke arah Rey. Rey balas melambaikan tangannya. Lucy menatap Rara dan Diki bergantian. Ia menggigit bibirnya, percakapan mereka membuatnya terharu. Makan saja mereka masih kekurangan. "Diki mau ke mana tuh?" Rey mengambil bangku kecil di belakang Rara dan duduk bersama mereka. "Mau nguli. Diajakin Abang sebelah rumahnya. Lumayan upahnya katanya." Lucy menjawab pelan. Rey menatap ke dalam rumah, namun bayangan Diki sudah tak terlihat. Ia merenung sejenak dan menghela napas. Anak sekecil Diki sudah harus bekerja keras demi sedikit uang. Sesuatu yang tak pernah ada di pikirannya sebelumnya. Rey terdiam. "Makasih ya udah ngasih kesempatan anak-anak bisa sekolah di tempat lo." Sentuhan Kiera di bahunya membuatnya mengalihkan pandangan. "Don't mention it. Kebetulan pas gue pulang kemarin nyokap lagi di rumah, lagi ngomongin soal yayasan ama temennya. Gue inget anak-anak sini. Gue tanya ke nyokap, trus nyokap bilang oke." Rey tersenyum mengingat ekspresi kaget Mamanya saat ia mengatakan ingin membantu anak-anak jalanan biar bisa sekolah lagi. Biasanya Rey yang hanya peduli dengan pesta dan hura-hura. Tapi tiba-tiba ia berubah seratus delapan puluh derajat. Mamanya terheran-heran mendengar nada manis ucapan Rey yang memohon agar ia mengizinkan anak-anak yang dipilihnya untuk bisa sekolah di sana. Rey yang biasa kasar, cuek dan berbicara seperlunya saja kini berubah menjadi manis dan sopan. Tentu saja Mamanya tak perlu berpikir panjang. Ia tersenyum senang dan bilang anak-anak bisa masuk kapan saja mereka siap. Rey melonjak senang, dan pagi-pagi ia sudah datang ke sini, menunggu anak-anak dan mengabarkan ke mereka tentang berita bagus itu. Anak-anak berseru gembira mendengarnya. Mata mereka berbinar dan mereka merubung Rey menanyakan apa saja yang dibutuhkan agar bisa segera bersekolah lagi. Mereka sangat bersemangat. Rey pun sangat antusias melihat semangat mereka. Baru kali ini Rey merasakan kebahagiaan yang mengaliri sudut hatinya melihat senyum dan tawa mereka. "Kita beruntung ada lo di sini. Lo udah bantu kita banyak." Lucy menatap Rey dan menyunggingkan senyum termanisnya. "Come on, stop it guys. Gue yang ngerasa beruntung bisa ada di sini. Kalian semua ngerubah hidup gue. Gue jadi ngerasa sebagian dari hidup gue yang dulu kosong terisi kembali. Gue ngerasa lebih berarti sekarang. Senyum mereka lebih indah dari apa pun." Rey teringat tawa cekikikan gadis-gadis setengah telanjang yang teler dengan bau alkohol dan asap rokok di setiap sudut night club tempat ia berpesta. Ia merasa muak mengingat itu semua-dunia yang berisi kebahagiaan semu. Kiera dan Lucy terdiam melihat ekspresi Rey. "Kak! Tadi pas fotonya ukuran berapa sih?" Ria yang sedari tadi sibuk mencatat sesuatu tiba-tiba berteriak. Mereka semua mengalihkan pandangan ke arah Ria yang dengan cuek sibuk dengan buku catatannya. "Tiga kali empat Ria. Warna ya" Rey menjawab. "Oke, Kak!" Ria membentuk bulatan dengan jari telunjuk dan jempolnya lalu kembali menekuri catatannya. "Oh iya... Formulir Rara gue aja yang bawa. Gue mampir ke studio 2 ntar." Rey meraih formulir yang tadi digeletakkan Kiera di bangku dekatnya. "Sip!" Lucy mengedipkan matanya. "Rara jadi deg-degan nih, Kak. Rara belum pernah tampil di depan orang banyak." Rara mengetuk-ngetukkan jari tangannya dengan gugup. "Tenang aja, Ra. Kamu kan udah biasa nyanyi di depan orang-orang. Anggep aja kayak gitu. Santai aja." Lucy menepuk bahu Rara pelan. "Bayangin aja kamu nyanyi di depan kita. Jangan gugup ama juri-juri yang ngelihatin pokoknya tunjukin aja bakat terbaik kamu." Kiera menambahkan. "Iya, Kak, Rara nggak akan ngecewain Kakak semua." Rara tersenyum simpul. Rey mengacungkan jempolnya dan tertawa lebar. Mereka semua yakin akan kemampuan Rara. Sementara tak begitu jauh dari situ, di sebuah bangunan yang sedang dalam tahap perbaikan, tampak beberapa orang pekerja sibuk melakukan tugasnya masing-masing diawasi seorang mandor. Di dekat gundukan pasir di samping bangunan seorang anak tengah sibuk mondar-mandir mengangkut pasir untuk dicampur dengan semen. Keringat menetes di dahinya. Tiba-tiba ia berhenti, berjalan terhuyung dan bersandar di sebuah tangga. Ia terbatuk beberapa kali, lalu memegangi dadanya yang sakit sambil memejamkan mata menahan sakit. "Pasirnya lagi, Tong!" Teriakan seorang pekerja membuatnya kembali berdiri tegak. Ia menarik napas panjang dan mengambil sorongan dekat kakinya. Tak dihiraukannya sakit di dadanya. Ia membayangkan beberapa lembar uang yang nanti akan dia gunakan untuk membeli perlengkapan buat adik kesayanganya agar bisa tampil lebih baik saat audisi nanti. Ia teringat kemarin Rara yang mematut dirinya di depan cermin dengan baju terbaik yang dibelikan Ibunya lebaran kemarin. Rara yang terdiam sambil memegang sepasang sandal lusuh satu-satunya yang ia miliki. Mereka tak pernah mempunyai sepatu. Sepatu satu-satunya yang ia miliki adalah saat pertama kali ia sekolah dulu, sepatu yang tak pernah ia ganti bahkan sampai robek-robek di sisinya. Ia ingin membelikan Rara sepasang sepatu untuk audisi nanti. Itulah yang membuatnya mampu menahan sakit dan meneruskan pekerjaannya mengangkut pasir. Sesosok bayangan yang sedari tadi mengamatinya dari sisi bangunan yang berbeda perlahan menjauh dan menghilang. Ada perasaan berbeda kali ini melihat beberapa peristiwa di depan matanya
Tak Akan Pernah Menyerah Kuliah pagi ini sedikit membosankan. Lucy menguap beberapa kali dan menaruh kepalanya di atas meja. Kiera menyodok bahunya dengan siku saat Mrs. Diana melirik Lucy yang setengah tertidur. Lucy buru-buru duduk tegak dan kembali menatap lurus ke depan. Kiera memelototinya dan Lucy menjulurkan lidahnya. Untunglah tak lama kemudian bel berbunyi. Lucy berdiri penuh semangat, merapikan bukunya dan menarik lengan Kiera yang masih sibuk memasukkan buku catatanya ke dalam tas. "Huh!" Kiera mengguman kesal. Tarikan Lucy membuat tasnya terjatuh dan isinya sebagian berserakan ke lantai. "What is this??" Lucy mengambil saputangan putih yang melayang ke lantai. Namun, Kiera buru-buru merampasnya dan memasukkan cepat ke dalam tas. "Don't touch it!" Ia melirik Lucy kesal. "Lu kan nggak pernah pakai saputangan, Kie! Napa tiba-tiba lu nyimpen saputangan?" Lucy melotot dan menarik rambut Kiera. "Yang punya bukan gue, tapi makhluk tercakep yang pernah gue temui di planet ini." Kiera memasang tampang imut yang membuat Lucy semakin kesal. "Ya elah gaya lu. Maksud lu abang-abang bakso ama siomay yang lewat depan rumah lu? Sapa lagi cowok yang lu temuin kalau bukan mereka?" Lucy tertawa ngakak. "Crazy! Lu pasti bakal melted abis kalau ngelihat doi. Sumpah cakep banget, Cy!" "Emang kapan lu ketemu doi?" "Ceritanya panjang. Gara-gara si resek Sheila gue ketemu tuh cowok." "Sheila ngapain elu? Napa lu nggak cerita ke gue??" Sekali lagi Lucy menarik rambut Kiera. "Gue pengin cerita dari kemarin, tapi kita sibuk kan mikirin Rara ama anak-anak. Yang pasti, ni cowok udah bikin gue melted banget, Cy! Gue jatuh cinta pada pandangan pertama, Cy!" Kiera menatap Lucy dengan mata berbinar. "Lu ngayal kali. Mana bisa lu jatuh cinta? Mang sapa sih??" "Udah gue bilangin dia itu cowok tercakep di planet ini!" "Kayak gimana orangnya?? Ceritain ke gue!" Lucy duduk di atas meja dan menatap Kiera. "Super cool, super cute and super swee.t" Kiera tersenyum mengingat saat bersama Arrash menatap ribuan bintang. "Anak kampus sini?? Trus apa hubunganya ama Sheila?" "Si resek Sheila numpahin minumannya ke kemeja gue and doi dateng ngasih saputangan ini buat ngebersihin. Sweet banget kan? Kayak di sinetron-sinetron yang suka lu tonton gitu deh." "Apaan! Gue benci sinetron! Gila! Sheila ngerjain elu??" "Iya, tapi dia kena batunya. Kakinya kesandung waktu ngelihat gue sambil jalan. Kayaknya keseleo, kesakitan gitu ekspresinya." "Keren! Sayang banget gue nggak masuk waktu itu ya? Tapi ngeselin banget tuh orang. Apa maunya sih ama elu?" Lucy mengentakkan kakinya kesal. Ia tidak suka Sheila mulai mengganggu Kiera. "Udah biarin aja. Biasa kan cewek-cewek kayak gitu kelakuanya minus. Yuk ah! Kita kan mau ngurusin Rara. Tinggal bentar lagi nih." Gantian Kiera yang menarik lengan Lucy yang masih duduk di atas meja. Lucy melompat turun dan mengikuti langkah Kiera. Diam-diam Kiera menggenggam saputangan di dalam tasnya, dadanya sedikit berdebar. Ia ingin bertemu Arrash sekali lagi. Ia merindukan tatapan hangatnya. Lucy di belakangnya mengerutkan kening. Ia masih belum percaya Kiera jatuh cinta. Sahabat terbaiknya itu termasuk cewek yang tak mudah tertarik sama cowok. Ceritanya tadi membuat Lucy penasaran, seperti apakah cowok yang ditemui Kiera sehingga mampu membuat mata sahabatnya itu berkilau saat bercerita tentangnya. "Hai! Gue udah nungguin kalian dari tadi." Sosok yang tiba-tiba muncul dari balik pintu mengagetkan mereka. "Rey?!" Kiera dan Lucy serempak berteriak. "Iya, gue!" Rey meringis lucu. "Lu ngapain di sini?" Lucy mendorong Kiera dan mendekati Rey sambil tersenyum lebar. Kiera menggerutu kesal. Ia hampir menabrak pintu. "Gue semalem mikirin sesuatu. Temen gue punya band dan ada juga studio musik. Dia sering tampil di TV. Gue udah hubungin dia dan dia mau ngebantuin Rara. Mungkin dia punya trik nyanyi di depan umum buat diajarin ke Rara, biar Rara ntar lebih pede kalau tampil." "Cool! Good idea! Sebenernya gue mau ajakin Rara ketemu Papa, tapi ide lu lebih bagus kayaknya. Kapan nih?" Lucy menjawab penuh semangat. "Sekarang. Kita jemput Rara trus langsung ke studio temen gue. Kuliah lu berdua kelar kan? Gue juga." "Oke, secara audisi kan tinggal bentar lagi. Kita mesti siapin segala sesuatunya cepet." Kiera pikir ide yang bagus untuk melatih Rara. Ia perlu meningkatkan kepercayaan dirinya. Lingkungan tempat ia dibesarkan dan tumbuh membuatnya kadang minder. "Yups. Yuk! Mumpung masih pagi." Rey berjalan mendahului mereka. Kiera dan Lucy mengikuti dari belakang. Beberapa pasang mata menatap mereka dengan iri. Lucy membisikkan sesuatu di telinga Kiera yang membuatnya terbahak. Rey menoleh menatap mereka berdua dan tersenyum. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap mereka dari kejauhan dengan penuh kebencian. Sepasang mata milik Sheila. Ia mendengus kesal, melemparkan tasnya ke bangku dan berdiri dengan tangan disilangkan ke dada. Sudah lama Rey tak menegurnya. Sekarang ia melihat Rey tengah berbincang hangat dengan kedua gadis yang dibencinya. Tatapan Rey yang lembut ke mereka berdua membuatnya marah dan ingin menangis. Sheila mengentakkan kaki saat melihat Rey membukakan pintu mobil untuk Kiera dan Lucy. Tak pernah Rey melakukan itu untuknya atau gadis lain. Ia benar-benar ingin menangis. Ia terlalu menyukai Rey. Ia tak rela Rey bermanis-manis dengan gadis lain. Sheila lalu duduk di bangku, bertopang dagu dan memikirkan sesuatu. Ia tak akan membiarkan Rey bersama mereka. *************************** "Nggak boleh! Bapak nggak bakalan izinin kamu ikut begituan! Buat apa?? Buang-buang waktu! Mending kamu ngamen dapet duit banyak! Lupain aja mimpi kamu itu!" Teriakan Bapak menggelegar saat Rara dengan suara lirih meminta izin untuk ikut audisi menyanyi. "Tapi Rara pengin ikut, Pak. Kak Kiera, Kak Lucy ama Kak Rey udah nyiapin semuanya. Rara juga udah latihan. Kali ini aja, Pak, Rara mohon izinin Rara." Rara berdiri dan menunduk di depan Bapak. Ia meremas kedua tangannya dengan gelisah. Bapak yang duduk di depannya melotot menatapnya. "Biarin Rara nyoba dulu, Pak. Nggak ada salahnya kan?" Ibu menghentikan suapan di mulut Vina. Ia duduk di tepian ranjang lusuh satu-satunya milik mereka. "Jangan pada goblok ya! Kalian semua ditipu sama anak-anak kuliahan itu! Dapet apa kalian ikutan belajar sama mereka?? Dikasih duit?? Nggak kan?? Malah nyuruh ikut acara apaan nggak jelas itu! Nggak usah!" Nada bicara Bapak semakin keras mendengar Ibu yang membela Rara. Rara menggigit bibirnya. Matanya menghangat. Ada air mata yang sejak tadi ditahannya. "Rara bakalan ikut, Pak! Nggak peduli apa kata Bapak, Rara akan ikut." Diki tiba-tiba datang berdiri di depan pintu dan berkata dengan tegas. Pandangan matanya tajam menatap Bapak. Mata Bapak mendelik ke arah Diki. "Kamu lagi! Anak ingusan mau sok-sokan?! Bapak bilang nggak, ya nggak!" "Apa alasan Bapak? Bapak pernah menuhin kebutuhan kita?? Bapak ngasih uang Ibu buat makan kita?? Nggak kan?? Kenapa kita mesti nurutin Bapak??" Diki bergeming. Ia tetap tegak berdiri di situ. "Kurang ajar kamu ya??! Mau ngelawan Bapak?? Berani kamu??!" Bapak berdiri. Tangannya terkepal. Giginya bergemeletuk. "Rara harus ikut audisi itu, Pak. Diki bakal lakuin apa pun untuk itu." Tak ada sedikit pun gentar dalam nada suara Diki. "Termasuk ngelawan Bapak??!" "Apa pun itu." Pandangan Diki lurus ke arah Bapak yang mulai berjalan menghampirinya dengan raut muka geram. "Bapak, udah! Jangan sakitin Kak Diki! Rara nggak jadi ikut acara itu!" Rara yang melihat kepalan tangan Bapak dengan cepat menghalangi langkah Bapak dan tangan kecilnya berusaha menahan tangan Bapak. Air mata membasahi wajahnya. Ibu memeluk Vina dan menahan air mata yang hendak jatuh di sudut matanya. "Nggak, Ra, kamu harus ikut. Itu mimpi kamu. Nggak ada yang bakal ngehalangin kamu selagi masih ada aku." Napas Diki mulai tersengal menahan marah melihat adiknya yang bersimbah air mata. "Minggir! Bapak mau kasih pelajaran buat anak kurang ajar ini!" Bapak menyingkirkan tangan Rara dengan kasar dan mendorongnya. Rara terjerembap ke lantai. "Bapak, jangan!!!" Rara berteriak sambil menangis. Ibu berdiri menghampiri Rara dan berjongkok memeluknya. "Lakuin apa pun yang Bapak mau, tapi Rara akan tetap ikut." Pandangan mata Diki tajam dan berkilat menantang Bapak. Tangannya terkepal. Ia sangat marah melihat Rara yang terjatuh didorong Bapak. "Berengsek!!" Bapak mencengkeram kerah baju Diki, mendorongnya ke dinding keras. Brukkk! Badan kurus Diki menghantam dinding bata. Dadanya terasa sakit. Ia mengatupkan gigi menahan nyeri di dadanya. Pandangan matanya mulai berkunang-kunang. Ia baru saja pulang dari mengangkut pasir di balai desa dan belum sempat istirahat sama sekali. Ibu mendadak berdiri melihat tangan Bapak yang terkepal hendak memukul Diki. "Cukup, Pak! Jangan pukul Diki. Pukul saja saya!" Ibu mendorong Bapak sekuat tenaga hingga Bapak mundur beberapa langkah. Cengekeraman tangannya di leher Diki mengendur dan Diki merosot ke bawah memegang dadanya menahan sakit. Ibu memegang kedua pipi Diki dengan air mata berurai di wajahnya. Wajah Diki terlihat pucat. Ibu merasakan ada sesuatu yang terjadi dengan Diki sejak beberapa hari yang lalu. Batuknya tak kunjung sembuh. Ia sering melihat Diki yang diam-diam memegang dadanya kesakitan. Air matanya sering kali menetes melihat Diki tetap memaksa bekerja dengan batuknya yang semakin parah. Obat-obatan yang ia berikan tak juga mengurangi batuk Diki. Diki berdiri pelan. Ia tak ingin kelihatan sakit di depan mereka semua. Direngkuhnya pundak Ibu yang berdiri di sampingnya. Matanya tak gentar menatap mata nyalang Bapak yang masih merah menahan amarah. Rara yang masih terduduk di lantai berdiri menghampiri Diki dan memeluknya. Air matanya tumpah di pundak Diki. "Goblok semua! Kurang ajar! Bukannya pada nyari duit malah mau seneng-seneng nggak jelas! Bapak nggak bakal biarin kalian semua lakuin yang kalian mau. Inget itu!" Sambil menendang meja kecil di samping tempat tidur, Bapak berdiri dan melangkah keluar dengan langkah lebar. Matanya masih merah dan tangannya terkepal. Pintu depan ditendangnya kasar hingga mengeluarkan suara gedebuk kencang. "Maafin Rara ya, Kak. Gara-gara Rara Kak Diki jadi kayak gini." Rara berurai air mata menatap Diki. Diki memegang kedua pundak Rara, menghapus air mata yang membasahi wajah manisnya. "Nggak, Ra, bukan salah lo kok. Gue nggak apa-apa." "Rara nggak usah ikut aja ya, Kak? Rara ngeri ntar Bapak pukulin Kak Diki lagi." "Stop, Ra, jangan pernah mikir kayak gitu. Nggak bakal ada apa pun yang bisa bikin lo ngebatalin ikut audisi. Gue bakal lakuin apa pun buat ngewujudin mimpi lo. Masalah Bapak nggak usah dipikirin. Gue yang bakal hadepin. Lagian emang pernah Bapak nggak marah-marah tiap kali pulang? Nggak kan? Bapak nggak akan berubah, Ra. Sekarang jangan peduliin Bapak, fokus aja ama persiapan lo." Diki memegang kedua pipi Rara. Rara mengangguk sambil masih terisak. "Maafin Ibu juga ya, Nak, Ibu selama ini nggak bisa ngebela kalian. Ibu cuma bisa ngelihat kalian yang jadi bulan-bulanan Bapak." Ibu yang sedari tadi diam menunduk dan mengusap air matanya. "Kita yang minta maaf, Bu, karena belum bisa bahagiain Ibu dan masih sering bikin Ibu repot." Diki memeluk pundak Ibunya. "Nanti biar Diki yang cari uang gantiin Rara, Bu, biar Rara lebih fokus ke persiapan audisi." "Makasih, Kak..." Sekali lagi Rara memeluk Diki penuh haru. Ia merasa beruntung memiliki seorang kakak yang sangat menyayanginya. Mereka bertiga larut dalam keharuan yang dalam
******************************
"Hei kalian! Berhenti di situ!"
Baru saja Kiera, Lucy dan Rey berbelok ke arah gang setelah Rey memarkir mobilnya di depan sebuah ruko kosong, tiba-tiba teriakan menggelegar menghentikan langkah mereka. Dari arah gang, seorang laki-laki bertampang sangar dengan mata merah melotot dan tangan terkepal menghampiri mereka. Kiera dan Lucy mengenali laki-laki itu. Ayah Diki dan Rara. Lucy beringsut mundur ke belakang Kiera. Ia ngeri melihat ekspresi Ayah Diki dan Rara yang seperti hendak menelan mereka bulat-bulat. Rey maju ke depan, mendorong Kiera sedikit ke belakang punggungnya. Namun, Kiera maju lagi sejajar dengan Rey. Laki-laki itu kini berdiri tepat di depan mereka.
"Ayah Diki dan Rara." Kiera berbisik pelan ke telinga Rey. Rey mengerutkan keningnya.
"Kalian anak-anak kuliahan jangan sok pintar ya! Jangan ngajarin anak-anak ngelawan orang tuanya! Jangan isi otak mereka dengan omong kosong kalian!" Ia membentak sambil menunjuk muka mereka.
"Saya ngga ngerti. Ada apa ini?" Rey menatap laki-laki di depannya itu tajam. Ia terbiasa menghadapi berandalan-berandalan dan berkelahi dengan mereka. Kemampuan karatenya tak ada yang menandingi, jadi ia tidak merasa gentar sama sekali di depan laki-laki bertubuh gempal dan bertampang sangar itu. Kiera menyikut pinggangnya. Laki-laki itu menggeram marah.
"Jangan pura-pura tolol ya!" Mata merahnya semakin membesar.
"Maaf, Pak, maksud Bapak apa?" Kiera bertanya pelan. Ia tahu karakter laki-laki pemarah di depannya itu.
"Kalian kan yang bikin anak-anak gngak mau ngamen cari duit lagi? Apa pula itu nyuruh-nyuruh Rara ikutan acara nggak jelas! Hentikan omong kosong kalian! Jangan ganggu lagi anak-anak gue!" Laki-laki itu maju selangkah, berkacak pinggang dan menatap Kiera marah.
"Kita cuma belajar kok, Pak. Dan Rara punya bakat nyanyi yang unik, makanya kita pengin daftarin dia di ajang menyanyi." Tanpa gentar Kiera menjelaskan.
"Nggak perlu! Simpan mimpi itu buat kalian! Kalian orang-orang kaya yang bisa bermimpi! Biarin Diki dan Rara tetap seperti ini. Inget baik-baik ya, jangan ganggu anak-anak gue!" Sambil menunjuk muka Kiera laki-laki itu beringsut pergi. Kiera memegang tangan Rey yang mengepal dan menahannya saat Rey ingin mengejarnya. Rey terpaksa diam di situ sambil mengembuskan napas kesal.
"Kurang ajar banget sih?? Kayak gitu kelakuan Ayah Rara sama Diki??" Rey mengepalkan tangannya.
"Sumpah, gue ngeri banget lihat dia. Tampangnya udah kayak mau ngabisin kita. Gimana nih, Kie?" Lucy memutar tubuhnya dengan gelisah. Ia bergidik ngeri mengingat wajah seram laki-laki tadi.
"Udah, tenang aja. Gue udah tahu karakternya. Rara ama Diki sering cerita. Mereka berdua bahkan sering dipukulin" Kiera menggigit bibirnya. Ia selalu sedih tiap kali mengingat cerita Rara tentang kelakuan Bapaknya.
"What??!" Mata Rey terbelalak mendengar perkataan Kiera.
"Iya. Kadang uang mereka dirampas ama Bapaknya buat judi. Mereka bakal dipukul kalau nggak ngasih." Kiera menjawab lirih.
"Shit!" Rey menonjok tembok ruko di sebelah ia berdiri dengan kepalan tangannya. Ia mendadak merasa sangat marah. Diki yang pintar dan penuh semangat, yang matanya selalu tersenyum, dan juga Rara yang manis, ceria dengan suaranya yang memukau. Sungguh tega seorang ayah memukul anak-anak menyenangkan seperti mereka. Kiera dan Lucy menatap Rey muram.
"Yuk ah, kita lihat Diki ama Rara, cepetan!" Lucy yang tersadar segera menarik tangan Kiera dan melangkah cepat. Rey mengikuti dari belakang dengan wajah kelam menahan marah.
Sesampainya di depan rumah Rara, mereka bertiga tertegun. Pintu rumah terbuka lebar. Engsel di bagian bawah lepas dan pintu itu tergantung dengan ujung menyentuh lantai yang yang hanya di semen kasar. Tapi bukan itu yang membuat langkah lebar mereka terhenti tepat di depan pintu. Pemandangan yang mereka lihatlah yang menghentikan langkah mereka. Ruangan yang tak seberapa luas itu terlihat berantakan. Meja kecil terguling di sisi sebuah ranjang lusuh dan isinya berserakan di lantai. Beberapa gelas dan piring plastik yang tergeletak di situ dipungut Vina dan dia asyik bermain-main tanpa memedulikan sekitarnya.
Saat pandangan mereka beralih ke dipan lusuh yang hanya satu-satunya di situ, mereka tercekat. Rara duduk di situ di tepian tempat tidur yang berantakan, wajahnya bersimbah air mata dan kedua tangannya memeluk Diki yang tengah memejamkan mata sambil memegang dada seperti menahan sakit. Ibu mengusap punggung Diki sambil mengusap air matanya sendiri yang tak bisa di bendung.
"Permisi..." Lirih suara Kiera memecah keharuan. Ibu, Diki dan Rara menatap ke arah pintu. Seketika Rara berdiri dan berlari ke arah Kiera dan menumpahkan tangisnya di pelukan Kiera.
"Kak..." Rara tersedu. Kiera memeluknya erat. Sudut matanya terasa hangat. Melihat Rara yang biasanya manis, ceria, dan penuh senyum tiba-tiba menangis di pelukannya membuatnya sedih. Lucy menghampiri Rara dan mengusap rambutnya. Rara beralih memeluk Lucy masih dengan sisa tangis yang berusaha ia tahan. Mata Lucy berkaca. Tangannya mengusap kepala Rara hangat. Sementara Rey berjalan menghampiri Diki, mengangguk dan tersenyum ke Ibu. Ibu membalas senyumnya dengan sedikit lengkungan sedih di bibirnya. Rey berjongkok di depan Diki, menonjok lengan kurus Diki pelan.
"Are you okay, buddy?" Mata Rey menatap Diki. Ia tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Nggak apa-apalah, Kak. Cuma didorong dikit gitu dong mah. Diki kan temenan ama Superman." Diki tersenyum lucu dan mengangkat kedua tangan, memamerkan lengan kurusnya.
"Gitu dong. Jagoan mah nggak pernah lemah!" Rey mengepalkan tangannya dan mengulurkan ke tangan Diki. Diki menyambut tos Rey dengan tangan kecilnya dan mereka berdua tertawa lebar. Tingkah mereka berdua berhasil mengalihkan keharuan. Rara yang mengintip dari sela pelukan Lucy tersenyum kecil. Ia melepaskan pelukannya sambil mengusap sisa air mata yang membasahi wajahnya.
"Ayo pada duduk. Maaf rumahnya berantakan. Rara, tolong rapiin, Nak." Ibu tersenyum menatap mereka, berdiri dan membenarkan meja kecil yang tadi terguling ke tempatnya semula.
"Iya bu. Duduk kak" Rara berjongkok dan mengambil beberapa barang di lantai dan menaruhnya di meja dekat.
"Kelakuan bapaknya Rara emang kayak gitu dari dulu. Kalo kalian ketemu trus dia kasar abaikan saja ya, sifatnya ga bisa berubah" Ada mendung di mata Ibu saat menceritakan tentang suaminya.
"Iya, Bu, kita ngerti kok. Tadi kita papasan di ujung gang." Kiera duduk di kursi dekat Ibu dan mengusap lengan Ibu pelan.
"Ngomong sesuatu nggak Kak, Bapak?" Mata Diki berkilat tajam. Ia sudah bisa menebak apa yang dikatakan Bapak ke mereka.
"Iya, tadi sempet ngomong agak kasar. Tapi seperti yang selalu kalian bilang, abaikan saja kalau ketemu Bapak. Jadi kita abaikan tadi." Kiera tersenyum menatap Diki.
"Jangan khawatir, Boy, ada Kak Rey." Rey mengedipkan matanya jenaka. Mereka semua tertawa. Sejenak melupakan kesedihan mereka.
"Sebenernya kita ke sini mau ngajakin Rara latihan di studio temen Rey, kebetulan temen dia punya band dan jago nyanyi. Tapi... nggak apa-apa sih, lain kali aja ya." Lucy menatap Rara ragu.
"Sekarang aja, Kak. Jangan buang-buang waktu. Audisi bentar lagi kan? Siap-siap, Ra." Dengan pandangan matanya Diki memerintah Rara.
"Tapi Kak..." Rara menggigit bibirnya. Ia memandang Ibu dengan ragu.
"Iya, Ra, Diki bener. Kamu siap-siap aja. Nggak usah mikirin apa pun." Ibu tersenyum lembut menatap Rara.
"Udah sana, jangan kelamaan! Siap-siap!" Diki melotot jenaka ke arah Rara.
"Oke, Kak!" Rara tersenyum riang sambil berlari ke kamar mandi dan bersiap-siap.
Mereka semua tersenyum lega. Lalu suasana segera mencair, berganti dengan obrolan penuh canda dari mereka berempat. Ibu pun menatap mereka semua penuh rasa syukur. Sungguh beruntung anak-anaknya bisa bertemu dengan anak-anak muda sebaik mereka.
***************************
"Oh my God! Serius nih, Rey?!" Lucy melongo begitu Rey membuka pintu sebuah studio musik bernuansa hitam elegan di sebuah ruko di kawasan elite. Tampak sebuah poster berukuran besar terpampang di dinding samping pintu masuk. Poster itu bertuliskan nama sebuah band terkenal dengan lima anggotanya yang tampan dan menjadi pujaan para gadis remaja.
"Wow, The Breathtakers!" Mau tak mau Kiera ikutan berdecak kagum. Band itu mempunyai banyak lagu yang menjadi top hits. Rara berlari ke depan poster itu dan berdiri dengan kedua tangan menutup mulut karena takjub. Tentu saja ia tahu band itu karena di jembatan penyeberangan dekat sebuah mall ada baliho besar yang mengiklankan konser mereka beberapa waktu lalu. Rara juga bahkan hafal beberapa lagunya.
"Hai Rey, sini!" Sebuah suara bariton menyapa dari pintu sebuah ruangan kecil bersekat kaca yang terbuka.
Rey yang dari tadi tersenyum geli melihat ekspresi mereka segera berjalan mendahului. "Yuk! Brandon dah nungguin." Ia berjalan cepat.
"Wait, Rey! Brandon?? Vokalis The Breathtakers??" Lucy menarik tangannya.
"Iya. Doi temen SMA gue. Dulu kita deket, sekarang pun masih sering ketemu." Rey menjelaskan tanpa memedulikan Lucy yang menutup mulutnya karena kaget.
"Lu kok nggak bilang-bilang sih kalau mau ketemu mereka?? Gue nervous nih! Tahu gitu gue dandan keren tadi. The Breathtakers! Keren gila!"
"Jangan konyol deh, yuk ah!" Rey mengacak rambut Lucy geli dan menarik tangannya. Kiera tersenyum, menggandeng tangan Rara dan melangkah mengikuti Rey.
"Hi, what's up, Bro." Rey mengulurkan kepalan tangannya ke arah cowok di depannya yang terlihat sangat tampan dan segar dengan kaus body fit hitam dan celana jeans robek-robek di lututnya. Cowok itu berdiri dan menyambut tos Roy. Brandon, vokalis band The Breathtakers.
"Gila! Brandon beneran!" Lucy berbisik di telinga Kiera. Matanya melotot takjub.
"I'm good. Lu ke mana aja, nggak pernah nongol lagi di club?" Cowok itu menepuk lengan Rey hangat.
"Gue sibuk. I have a project."
"A million dollar project?" Brandon mengangkat alisnya.
"Haha! Gimana kabar anak-anak?" Rey tertawa geli.
"Mereka semua nyariin elo. You never come to parties anymore."
"Gue sibuk, Bro" Rey meringis lucu.
"Lu bawa bidadari-bidadari ke sini kok nggak dikenalin sih?" Brandon menatap kedua gadis cantik di depannya dan seorang anak kecil yang manis sambil tersenyum menggoda. Kiera dan Lucy saling menatap. Setahu mereka Brandon terkenal cuek dan jarang ngomong. Mereka tak menyangka ia seramah itu. Mungkin karena mereka teman Rey.
"Oh ya, ini Kiera dan itu Lucy. Guys, ini Brandon, temen gue. Lu pasti dah pada tahu kan?" Rey mengedipkan matanya ke arah Lucy.
"Hai," Kiera mengangsurkan tangannya yang segera disambut hangat oleh Brandon.
"Hai," Lucy menjabat tangan Brandon erat dan lama. Ia melepaskan tangan itu setelah Kiera menginjak kakinya.
"Dan ini project gue, Rara. Yang gue ceritain kemarin. Lu mesti bisa bikin dia lolos audisi dan jadi juara. Gue ngandelin elu, Bro." Rey melambaikan tangannya menyuruh Rara mendekat. Sambil tersenyum malu Rara mengulurkan tangannya.
"Rara," ucapnya pelan.
"Panggil gue Kak Brandon. Oke, let me hear you sing, Rara. Ayo langsung aja ke sana. Kalian tunggu di sini ya, guys." Brandon menyambut uluran tangan Rara dan mengajaknya ke sebuah ruangan lain bersekat kaca, ruang rekaman. Mereka bertiga tersenyum dan mengangguk, tak lupa mengepalkan tangan ke atas untuk memberikan semangat buat Rara yang berjalan mengikuti Brandon dengan gugup sambil terus menatap mereka bertiga.
Mereka bertiga berdiri di depan ruangan bersekat kaca itu dan melihat ke dalam. Brandon tampak sedang memasangkan headphone di kepala Rara, duduk di depan Rara dan memberi isyarat untuk mulai. Sebelum mulai Rara terlihat menghela napas dan kemudian menyenandungkan sebuah lagu dengan tenang. Brandon memejamkan matanya, mendengarkan Rara dengan serius. Kiera, Lucy dan Rey saling berpandangan saat Rara menyelesaikan lagunya dan melihat Brandon yang tersenyum lebar. Brandon duduk mendekati Rara, dengan ekspresi serius ia mengatakan beberapa hal sambil sesekali ia mencontohkan beberapa nada. Rara mengangguk-anggukkan kepalanya lalu mencoba mengikuti nada yang dicontohkam Brandon. Agak lama mereka mengulang hal itu.
Lucy yang merasa sedikit bosan mengambil gitar di sudut ruangan, duduk dan mulai memainkan sebuah lagu diiringi petikan gitarnya. Perfect Two dari Audrey dinyanyikannya dengan sempurna. Kiera dan Rey bersandar di dinding menikmati permainan gitar Lucy. Kiera melirik Rey yang menatap Lucy tak berkedip terpukau dengan suara dan penghayatan Lucy. Saat bernyanyi sambil bermain gitar Lucy menjadi sosok yang berbeda. Ia seperti ada di dunia lain dan semua yang memandangnya akan terpesona.
"Wow! What a beautiful voice!" Tiba-tiba pintu terbuka. Brandon yang melangkah keluar diikuti Rara bersiul takjub mendengar nyanyian Lucy. Lucy menghentikan permainan gitarnya dan tersipu malu.
"Terusin aja." Brandon tertawa lebar. Ia berjalan ke arah Rey.
"You are so lucky, buddy. Your girls have angel's voice. Both of them." Ia menonjok lengan Rey pelan masih sambil tertawa dan menatap Lucy yang menghampiri mereka.
"I know. Trus Rara gimana?" Rey mengangkat kedua alis matanya.
"Rara keren. Suaranya bagus banget. Bakalan jadi penyanyi hebat one day. Tadi udah gue ajarin penggunaan tinggi rendah nada dan dia cepet ngerti. Cuma butuh beberapa kali latihan dan dia bakal bisa. She will rock the audition." Brandon berbicara dengan nada serius. Kiera, Rey dan Lucy menatap Rara bangga. Seorang Brandon bahkan memuji suara Rara.
"Thanks a lot, Bro, lu dah sempetin bantuin kita." Rey menepuk pundak Brandon.
"Anytime. I will tell you if I have spare time. Ntar gue bakal usahain ngajarin dia sekali lagi."
"Makasih banyak ya, Brandon." Lucy menautkan kedua tangannya di depan dada dan tersenyum. Ia terlihat manis dengan pose seperti itu. Kiera meliriknya geli.
"Most welcome. Gue tahu pasti lu yang ngajarin Rara ya? Permainan gitar lu bagus, suara lu juga oke banget." Brandon menatap Lucy.
"Yups. Kalau band lu butuh vokalis gue ready kok." Lucy mengedipkan matanya dengan kocak.
"In your dream, Usil!" Kiera menarik rambut Lucy gemas.
"Who knows, Kie!" Lucy menepis tangan Kiera dan memelototinya dengan cemberut. Rey dan Brandon tertawa geli melihat tingkah mereka berdua.
"It's possible. Ntar kalo gue butuh addition vokalis gue kasih tahu."
"Jangan dengerin dia, Brandon. Nggak jelas dia mah." Kiera membulatkan matanya ke arah Lucy.
"Kalo gue jadi vokalis beken, ntar lu jadi asisten gue, tenang aja." Lucy menyibakkan rambut ikalnya dengan gaya sok seleb. Kiera mengacak-acak rambut Lucy kesal. Dan Lucy menjerit karena rambutnya jadi berantakan. Rara yang duduk manis di sebelah Rey tertawa riang.
"Guys, gue masih ada acara nih abis ini. Sorry ya gue mesti cabut dulu. Kalau lu butuh bantuan gue lu hubungin gue langsung, okay Rey?"
"Sip! Thanks a lot ya, Bro, udah sempetin waktu lu." Rey mengangsurkan kepalan tangannya yang segera disambut oleh Brandon.
"Thanks, Brandon, it means much to us," Kiera dan Lucy menjabat tangan Brandon erat.
"Makasih ya, Kak..." Angsuran tangan Rara disambut pelukan hangat Brandon.
"Good luck ya, Rara. Ntar santai aja jangan grogi waktu audisi. Tetep semangat, kamu pasti bisa." Brandon mengusap rambut Rara.
"Iya, Kak..." Rara tersenyum manis. Matanya sedikit berkaca menerima segala kebaikan dan kehangatan Brandon.
"Brandon, buruan!" Manager band Brandon yang sedari tadi menunggu sambil bolak-balik melirik jam tangannya berseru.
"See you guys," Brandon menyambar jaket hitamnya di atas kursi dan segera berjalan cepat keluar.
"Gue nggak sangka ternyata Brandon baik banget. Hangat, so cute and so sweet," Lucy tak berkedip menatap langkah Brandon yang semakin menjauh.
"Dasar! Nggak bisa lihat cowok cakep dikit!" Kiera melambaikan tangannya tepat di depan muka Lucy. Lucy menepisnya dengan sebal.
"Tapi bener juga sih, cowok setenar dia dan sesibuk dia sempet-sempetin bantuin kita." Kiera mengangguk-angguk kecil.
"Helloooo! Itu karena Brandon temen gue. Coba bukan gue yang minta, nggak bakal dia mau." Rey bersungut kesal melihat kedua gadis cantik di depannya terkesima dengan pesona Brandon. Ia memutar kursi yang tengah ia duduki.
"Yeee! Kak Rey jeles!" Rara bersorak lucu melihat ekspresi kesal Rey. Kiera dan Lucy segera menatap Rey dan mereka berdua terbahak.
"Tenang, hati gue cuma buat elu kok Rey." Lucy mengedipkan matanya ke arah Rey dan Rey menyambutnya dengan juluran lidah.
"Yuk ah, gue masih ada perlu abis ini. Nyokap gue nanyain sapa aja yang mau sekolah, gue disuruh dateng ke sekolah Nyokap buat nge-list anak-anak." Rey berdiri cepat.
"Okay, kita anterin Rara sekalian pastiin anak-anak siapa aja yang jadi ngedaftar. Ntar kita hubungin elu." Kiera menjawab dengan semangat.
"Yuk!" Lucy menarik lengan Rara dan menggandengnya. Mereka berempat melangkah keluar dengan senyum terkembang di wajah.
*********************************
"Huffttt! Lega nih, persiapan Rara udah matang, trus anak-anak juga udah kita list semua sapa aja yang mau daftar sekolah." Lucy mengembangkan kedua tangannya lebar dan menarik napas lega. Lalu ia merangkul pundak Kiera dan membarengi langkahnya. Mereka berdua tengah berjalan di sepanjang gang arah pulang. "Iya nih, ntar lu kirimin list anak-anak ke Rey ya biar cepet kelar semua." Kiera memandang kertas yang ada di genggamanya. Daftar anak-anak yang rencananya akan didaftarkan di sekolah milik Mama Rey. Lumayan, ada sekitar 10 anak yang hari ini menyerahkan persyaratan biarpun masih belum lengkap. "Ohhh... jadi ini yang bikin anak-anak malas nggak mau ngamen lagi? Kalian rupanya?" Sesosok tubuh yang muncul dari kelokan gang dan berdiri tepat di tengah jalan menghalangi jalan mengagetkan mereka. Sontak keduanya berhenti dan menatap sosok itu. Seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus dengan rambut panjang acak-acakan yang diikat ke belakang dan tato di lengan kanan dan kirinya. Kedua tangannya bersidekap di depan dada, sebatang rokok terselip di sela bibir hitamnya dan ia menatap Kiera dengan mata merahnya yang tajam. "Bang Somad..." Lucy mendesis pelan dengan nada ketakutan. Ia menempel erat ke badan Kiera. Rara pernah menunjukkan sekilas sewaktu preman itu tengah duduk di sebuah emperan toko. Kiera tetap berdiri tegak. Dadanya berdesir saat tatapan matanya beradu dengan mata Bang Somad. Ia seperti mengenali wajah di depannya itu. Namun, ia tidak begitu yakin. Bang Somad mengawasinya tajam. Tiba-tiba mata Bang Somad terbelalak. Bibirnya bergetar. Ia terpaku sejenak, terdiam dengan tatapan kosong. Ia seperti kembali ke kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat seorang anak lelaki kecil terbaring tanpa daya di sebuah rumah sakit. Seorang yang sangat disayanginya. "Maaf, Anda mau apa?" Kata-kata yang meluncur tegas dari bibir gadis di depannya itu membuatnya kembali tersadar. Napasnya tiba-tiba tersengal. Matanya nyalang menatap Kiera tak berkedip. Sudah lama ia mencari keberadaan gadis itu. Tanpa disangka ia menemukannya di sini. Tangan Bang Somad terkepal. "Kamu!!" Tangannya terulur. Tak sabar rasanya ia ingin mencekik gadis di depannya itu. Namun, ia sadar ia ada di tempat umum. Ia harus menahan keinginannya itu. Ia menurunkan tangannya. Mengatupkan mulutnya. Bibirnya bergemeletak. Ia akan melakukan sesuatu dengan cara lain. Otaknya berpikir cepat. Lalu ia teringat rencananya semula. "Mau tau mau gue apa?? Stop pengaruhin anak-anak sini buat sok-sokan sekolah yang nggak jelas itu! Biarin anak-anak tetep ngamen atau ngelakuin apa yang mereka mau, ngerti?!" Laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke arah Kiera dan mengembuskan asap rokoknya. Kiera menutup matanya dan terbatuk saat asap rokok itu terhirup masuk ke paru-parunya. Lucy memeluk lengan Kiera erat, ia menatap Kiera dengan cemas. Tapi Kiera tetap tegak. Ia membuka matanya. "Kita nggak pernah maksa anak-anak sini buat belajar ato sekolah. Itu kemauan mereka. Anda jangan pernah menghalang-halangi kemauan mereka untuk belajar." Tatapan tajam Kiera yang tanpa takut membuat preman di depannya itu mendengus marah. Dibantingnya rokok yang tinggal setengah ke tanah dan diinjak-injaknya dengan kasar. "Kamu nggak tahu berhadapan dengan siapa, hah!??" Ia berteriak. Seorang pedagang asongan yang melintas buru-buru berlalu tanpa sedikit pun melirik ke arah mereka. Ia tahu reputasi Bang Somad, preman yang mengusai daerah sini. Orang-orang yang kebetulan melihat pun segera menyingkir karena mereka tak ingin mencari masalah dengan Bang Somad, preman paling mengerikan di sini, yang tega melakukan apa saja pada siapa pun yang berani menentangnya. Ia pernah beberapa kali dipenjara karena perbuatan kriminalnya dan ia tak pernah jera untuk mengulanginya lagi. Lucy semakin ketakutan, ia menarik lengan Kiera mundur. Namun, Kiera sepertinya tak tergoyahkan. "Saya nggak ingin cari masalah di sini." Kiera berkata tegas. "Iya! Lu nggak cari masalah di sini, tapi lu cari mati. Gara-gara kalian anak-anak nggak mau ngamen lagi! Kalau kalian masih sayang ama nyawa kalian, jangan pernah tunjukin muka kalian di sini lagi. Ini peringatan terakhir buat kalian." Ia mendekat ke arah Kiera dan mendorongnya kasar. Kiera terhuyung mundur beberapa langkah. Lucy yang masih memegang lengan Kiera ikut melangkah mundur. Wajahnya ketakutan. "Nggak ada yang bakal menghentikan mereka buat belajar!" Nada Kiera mulai meninggi. Ia tak akan menyerah dengan intimidasi Bang Somad. Ia merasa harus tetap membela semangat anak-anak yang begitu kuat untuk bisa bersekolah lagi. "Kie, udahan ah, yuk..." Lucy menarik lengan Kiera mundur. Ia tahu Kiera akan melawan Bang Somad meskipun ia tak akan bisa menang. Kiera menepis tangan Lucy. Ia tetap berdiri tegak di situ. "Berengsek! Punya nyali juga lu ya!" Bang Somad menggeram marah. Wajah anak kecil yang menahan sakit melintas kembali. Ia juga membayangkan kantongnya yang bakal kosong seandainya semua anak-anak berhenti mengamen. Tak akan ada lagi yang menyetor uang ke dia. Sudah sejak beberapa hari ini pendapatanya menurun. Dengan napas memburu ia maju beberap langkah mendekati Kiera, meraih lengannya dan mencengkeramnya. "Lepasin!" Kiera meringis kesakitan. Cengkeraman tangan laki-laki itu begitu kuat, menyakiti tangannya. Ia berusaha melepaskan lengannya, namun sia-sia. "Gue bakal kasih lu pelajaran karena lu ngelawan!" Mata merah itu nyalang menatap dada Kiera. Tangannya yang satu masih mencengkeram lengan Kiera. Wajah Kiera memucat, ia sadar ia dalam bahaya sekarang. Lucy tak kalah kaget melihat pandangan nyalang laki-laki itu. Ia tahu apa yang akan dilakukan Bang Somad, jadi ia memberanikan diri mendorong laki-laki itu dengan segenap kekuatanya. Namun, Bang Somad itu terlalu kuat. Ia bergeming. Lucy hanya bisa menatap dengan putus asa dan ketakutan. Napas Kiera terhenti saat tangan laki-laki itu terjulur ke arah dadanya. "Hentikan! Jangan sekali-kali berani menyentuhnya!" Sebuah sentakan di tangan laki-laki yang terulur itu membuatnya terjengkang ke belakang beberapa langkah. Sesosok tubuh berdiri tegak membelakangi Kiera. Rambut ikal dan wanginya yang khas membuat detak jantung Kiera tiba-tiba berpacu. Arrash. Kiera mendongak dan menutup mulutnya. Matanya terbelalak kaget. Bagaimana mungkin Arrash tiba-tiba saja muncul di sini? Sungguh mengejutkan. Lucy pun tak kalah terkejut melihat sosok Arrash yang seperti menyihirnya. Ada pesona luar biasa yang memancar dari sosok itu. "Bangsat!" Teriakan marah Bang Somad membuat pandangan mata Kiera dan Lucy beralih ke arahnya. Ia tampak kesakitan sambil memegang tangannya yang tadi disentak Arrash. Dengan ekspresi dingin Arrash berjalan mendekati Bang Somad. Tatapan tajam matanya menghunjam tepat di mata Bang Somad. Tiba-tiba Bang Somad berdiri terpaku. Badannya seperti tak bisa digerakkan dan tulang-tulangnya seperti dilucuti. Ia yang tak pernah takut terhadap apa pun tiba-tiba ingin menangis ketakutan. Ada api yang membakar di pandangan mata pemuda tampan di depannya itu. "Pergi dari sini dan jangan pernah ganggu mereka lagi!" Seperti perintah nada tegas itu membuat lidah Bang Somad mendadak kelu. Tak ada kata yang bisa diucapkannya. Ia hanya bisa mengangguk. Ia menunduk, tak sanggup memandang kedua bola mata bercahaya di depannya itu. Saat tangan Arrash mengibas pelan, ia seperti terdorong menjauh. Setengah berlari Bang Somad menjauh. Namun ia berhenti di kejauhan, kembali menatap Kiera dengan penuh dendam sementara Kiera dan Lucy masih bengong. Mereka berdua seperti belum sadar atas apa yang terjadi. Arrash menghampiri Kiera. "Kamu nggak apa-apa?" Disentuhnya lengan Kiera lembut. Sekilas sentuhan itu semakin membuat Kiera membeku. Darahnya seakan berhenti mengalir. Ia benci kenapa setiap kali Arrash hadir selalu saja itu yang dirasakannya. "Aku... nggak apa-apa..." Kiera menjawab terbata. "Syukurlah. Dia nggak bakal berani ganggu kamu lagi." "Makasih ya? Aku nggak tahu bakal jadi apa kalau nggak ada kamu. Kok bisa ada di sini sih?" Kiera yang mulai tenang menyadari kenapa tiba-tiba Arrash ada di sini. "Seperti detak di nadiku, kamu sedekat itu, Kie. Aku ada di mana pun kamu ada." Ujung telunjuk Arrash menyentuh hidung Kiera lembut. Napas Kiera tertahan. Kata-kata dan tatapan Arrash membuat kakinya lemas. "Kie..." Lucy yang berdiri di sebelahnya menggoyangkan telapak tangan Kiera. Kedua alisnya terangkat meminta penjelasan. "Hai, Lucy, jaga Kiera ya. Kalian berdua pulang dan istirahat. Ada tugas yang mesti aku lakuin sekarang. Kamu bakalan baik-bak aja Kie, panggil namaku kalau ada apa-apa. Kita akan ketemu lagi. Aku pergi dulu." Setelah mengusap rambut Kiera, Arrash berjalan menjauh dengan cepat dan hilang setelah kelokan. Seperti masih belum tersadar, Kiera dan Lucy hanya bisa bengong menatap ke arah perginya Arrash. "Kie!" Tarikan kencang Lucy membuat Kiera tersadar dan menatapnya. "Itu tadi sapa??? Makhluk dari planet mana, Kie??? Gilaaaa... pesonanya bikin gue merinding! Magic banget! Lu kenapa bengong aja?? Kie!" Lucy mengguncang-guncangkan tangan Kiera. "Ohh... itu..." Kiera setengah tersadar. Ia memegangi ujung hidungnya yang tadi disentuh Arrash. Ia masih seperti bermimpi. "Itu sapa? Kie!" Lucy mencubit lengan Kiera. "Awww! Sakit bego!" "Lagian! Wake up! Ceritain ke gue itu sapa!" "Oke... oke... Itu Arrash, cowok yang pernah gue ceritain ke elu. Gue juga nggak tahu kok tiba-tiba dia ada di sini. Dia selalu aja muncul tiba-tiba, kayak hantu." Kiera menautkan kedua alisnya seperti berpikir. "Kayak malaikat kelesss! So perfect. Cara dia natap elu bikin gue so envy, Kie! Kayak lu tuh kesayangannya banget." "Emang?" "Iya dodol! Trus napa dia bisa tahu nama gue? Lu cerita-cerita yaa?" Lucy membulatkan kedua matanya. "Gue nggak tau, Cy. Dia tahu banyak hal tentang gue juga. Kayak dia tuh udah kenal gue lama. Dan gue selalu aja kayak orang tolol di depan dia, gue tuh kayak nggak sadar. Lemes gue, Cy." Kiera menghela napas. "Emang. Lu diem aja bukannya ngomong apa kek. Tapi sapa yang nggak melted di depan doi sih? Gue aja juga cuma bisa bengong." Lucy terkekeh geli. "Iya kan? Bang Somad aja lari kayak dikejar setan cuma dilihatin doang. Gue penasaran siapa sih sebenernya dia. Tapi gue nggak punya waktu banyak buat ngobrol." Mata Kiera menerawang. "Hmmm... yang pasti sih doi keren banget dan sepertinya jatuh cinta ama elu." "Yakin lu? Ada gue yang jatuh cinta ama dia, Cy." Kiera menggigit ujung bibirnya. "Itu mah gue tahu. Untung banget dia dateng, kalau nggak lu udah diapain tahu ama Bang Somad. Lama-lama gue ngeri, Kie. Tadi Bapaknya Rara, sekarang Bang Somad. Trus Bang Somad kayaknya dendam banget gitu ama elu. Ngeri gue lihat tatapannya ke elu, kayak mau bunuh elu. Gimana nih?" Raut muka Lucy terlihat gelisah. "Nggak ada yang bakal hentiin kita, Cy. Lu lihat deh semangat di mata anak-anak. Tega kalau kita berhenti sekarang? Gue bakal tetep lanjut, nggak peduli apa pun yang coba halangin kita." Mata Kiera menyipit tajam. Lucy tahu apa itu artinya. "Oke, gue juga nggak bakal nyerah, Kie. Gue pengin lihat mereka berhasil one day. Dan gue bakal tetep temenin elu. Yuk ah ke kampus bentar? Gue mau ngumpulin tugas. Mr. Farid adanya siang. Abis itu kita ke mall bentar, beliin baju buat Rara." Lucy memeluk pinggang Kiera dan mereka beranjak pelan. Kiera balas memeluk pundak Lucy dan menatapnya haru. Kebaikan hati Lucy dan ketulusannya tak pernah ia ragukan. "Lu tunggu di sini bentar ya, gue mau ke ruangan Mr. Farid." Lucy meninggalkan Kiera di lobi depan bersebelahan dengan kelas fakultas hukum. "Oke," Kiera menarik sebuah kursi dan duduk di situ. Ia termenung. Sebuah bayangan dan tatapan lembut tak bisa berhenti berkelebatan di pikirannya. Arrash yang selalu mengisi lamunanya. Arrash yang selalu datang dan pergi tiba-tiba. Kiera tak menyadari ada sepasang mata yang tengah mengawasinya dari balik gerbang pintu masuk. Sepasang mata merah yang sejak tadi mengikutinya dari ujung gang. Sekarang, pemilik mata merah dengan banyak tato di lengannya itu menatapnya tajam. Bang Somad. "Hey! Mau apa lu di sini?!" Sebuah bentakan mengangetkan Bang Somad. Tampak di belakangnya seorang gadis muda cantik dengan riasan di wajah berkacak pinggang menatapnya. Sheila. Sejak tadi ia mengamati Kiera yang tengah duduk dan memainkan handphone-nya. Ingin rasanya ia menghampiri dan menjambak rambutnya. Ia sangat kesal karena sekarang Rey benar-benar tidak mengacuhkannya. Bahkan Rey tidak menyapannya sama sekali. Ia yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan perhatian Rey tentu saja kesal setengah mati. Kiera yang menurutnya biasa-biasa saja bisa dengan mudah mendapatkan perhatian Rey. Saat ia mengalihkan pandanganya ke arah gerbang kampus, ia melihat seseorang dengan penampilan seperti preman tengah mengamati Kiera lekat. Tentu saja Sheila tak ingin melewatkan kesempatan itu. Ia segera menghampiri lelaki bertampang preman itu. "Huh!" Bang Somad mendengus. Ditatapnya Sheila dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Bukan urusan elu!" Bang Somad mendelik menatap Sheila. Sheila balas memelototinya. "Ngapain lu ngeliatin tu cewek? Lu mau apa ama dia?" "Gue bilang bukan urusan elu. Minggir!" Bang Somad membalikkan badannya dan melangkah pergi setelah menatap ke arah Kiera tajam sekali lagi. Ia merasa sangat marah dengan semua kejadian yang menimpanya. Ia pikir Kiera-lah penyebab dari semua itu. Sheila bisa melihat dendam di mata preman di depannya itu saat matanya melihat ke arah Kiera. "Tunggu! Kalau lu ada masalah ama tu cewek tengil, gue bisa bantu elu." Mata Sheila bersinar tajam. "Oh, bukan gue aja ternyata yang pengin bikin perhitungan ama tu cewek. Mau lu apa?" Bang Somad mendekatkan wajahnya ke arah Sheila. "Jangan banyak bacot. Kalau lu bisa kasih tu cewek pelajaran, gue bakal bayar elu." "Wow, tawaran yang menarik." Bang Somad bersiul pelan. "Gue kasih lu uang muka dulu, kalau lu berhasil gue bakal bayar elu." Sheila mengeluarkan beberapa lembar ratusan ribu dari dalam dompetnya. "Jangan khawatir. Itu kerjaan gue, manis." Bang Somad dengan cepat mengambil uang dari tangan Sheila. "Apa jaminan elu bakal ngelakuin apa yang gue suruh?" Sheila melotot tajam. "Sebenernya tanpa lu suruhpun gue bakal kasih tu cewek pelajaran karena mencoba gangguin urusan gue. Jadi lu tenang aja, tuh cewek bakal ngerasain pembalasan dari gue." Mata merah Bang Somad mendelik menatap Kiera. "Oke, lu bisa temuin gue di sini kalau lu selesai." Tangan Sheila terlipat di depan dada, senyumnya terkembang lebar membayangkan Kiera yang sebentar lagi akan mendapatkan balasanya. "Oke, deal." Bang Somad melambaikan beberapa lembar uang ratusan ribu itu di depan Sheila dan beranjak pergi. Sheila melangkah masuk lagi ke kampus masih dengan senyum di bibirnya.Auditing Day Diki berjalan cepat menyusuri trotoar yang siang ini lumayan ramai dengan lalu lalang orang-orang yang berjalan tergesa. Kantong plastik di tangannya berayun-ayun seiring langkahnya. Terik yang seakan membakar kulit tak dipedulikannya. Senyum tak lepas tersungging di bibirnya. Sesekali ia terbatuk dan memegangi dadanya, namun ia terus melangkah dengan riang. Ia melirik kantong plastik di tangannya. Ia teringat beberapa waktu lalu dari kejauhan ia melihat Rara yang tengah berdiri di depan sebuah toko sepatu dan menatap sepasang sepatu cantik dari balik kaca. Ia melihat Rara yang berdiri lama lalu menghela napas dan melangkah pergi sambil sesekali menatap sepasang sepatu itu. Setelah Rara tak lagi tampak, Diki masuk ke toko sepatu itu dan melihat harga yang menempel di situ. Lumayan mahal untuknya, tapi Diki masih menyimpan uang yang beberapa hari ini dikumpulkan. Ia tahu Rara membutuhkan sepatu untuk audisi nanti. Akhirnya setelah ia menerima uang dari mandor bangunan tempat ia bekerja, hari ini sepasang sepatu itu ada di genggamannya. Diki bersiul kecil. Ia hampir sampai di belokan masuk ke gang rumahnya. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti. Seseorang yang baru keluar dari gang dan berjalan cepat dengan raut muka garang membuat jantungnya berdetak kencang. Bapak. Diki berlari cepat memasuki gang. Napasnya tersengal. Dadanya kembali terasa sakit. Namun, tak dipedulikannya. Ia terus berlari sampai di depan rumahnya. Ia berhenti sejenak mengatur napas di depan pintu rumahnya yang terbuka lebar. Dengan langkah cepat ia masuk. Kantong plastik di genggaman tangannya terlepas saat ia melihat Rara yang duduk bersimpuh di lantai dengan bersimbah air mata di wajahnya. Di pelukannya ada sebuah gaun biru muda berenda yang koyak di bagian lengan. Diki tahu apa itu artinya. Bapak yang melakukan semua itu. Masih teringat jelas ia saat Rara kemarin melonjak senang dan mendekap gaun cantik yang dibelikan Kiera dan Lucy untuk dipakai saat audisi nanti. Sepatu yang dibelikannya hari itu akan melengkapi semua itu. Namun, semua kegembiraan itu kini berganti air mata karena ulah Bapak. Diki menonjok tembok bata di sampingnya tanpa suara. Bibirnya terkatup manahan marah. Dengan langkah berat ia menghampiri Rara. Berjongkok di depannya dan menghapus air mata yang masih meleleh di pipi adiknya yang manis. Diambilnya pelan gaun di dekapan adiknya. Gaun itu kini kusut dan terkoyak. "Nanti biar dijahit Ibu ya, Ra? Masih bisa kok, kan Ibu pinter jahit. Biar dibawa ke tempat Mbak Sum ntar. Udah jangan nangis lagi." Diki mengusap lengan Rara lembut. "Emang masih bisa, Kak?" Rara mendongak menatap Diki. Masih ada sisa air mata di pipinya. "Bisa. Di sini aja kan robeknya? Jangan khawatir. Pasti Ibu bisa benerin. Kakak juga punya sesuatu nih buat kamu." Diki meraih kantong plastik yang tergeletak di lantai. Membukanya pelan dan mengulurkannya ke tangan Rara. Mata Rara terbelalak tak percaya. Sepasang sepatu yang diidamkannya itu kini ada di genggaman tangannya. Rara berdiri cepat dan menimang sepatu itu. "Wow! Buat Rara, Kak?? Ini sepatu yang Rara penginin! Bagus banget!" Rara menatap Diki dengan binar di matanya. "Iya, buat kamu. Tadi pas Kakak lewat di depan toko sepatu Kakak lihat ini trus inget kamu. Makanya Kakak beliin buat kamu." Diki tersenyum. "Makasih banget ya, Kak!" Dengan tersenyum lebar Rara segera mencoba sepasang sepatu itu di kakinya. "Pas banget, Kak! Keren!" Sepasang sepatu itu terlihat pas di kaki mungil Rara. Diki tertawa melihat adiknya yang tak bisa berhenti mengagumi sepatu di kakinya itu. Ia tahu ini pertama kalinya Rara memiliki sepatu. Diki senang melihat Rara melupakan kesedihanya dan berganti dengan binar bahagia di matanya. "Wahh? ada apaan ini? Kayaknya seru banget..." Ibu yang baru saja datang menyapa mereka dengam senyum lembutnya. Rona keletihan di wajahnya ia sembunyikan dengan senyum. "Lihat nih, Bu! Kak Diki beliin Rara sepatu! Keren kan, Bu?" Rara memamerkan sepasang sepatu di kakinya. Vina yang baru saja datang bersama Ibu mencoba melepaskan sepatu di kaki Rara, namun Rara berlari menjauh sambil tertawa. Vina merengek dan menatap Ibu dengan pandangan merajuk. Rupanya ia menginginkan sepatu seperti punya Rara. "Vina sayang, nanti Kakak beliin kalau Kakak udah jadi penyanyi top dan punya duit banyak." Rara terkekeh geli. "Bagus. Buat besok ya?" Ibu duduk di tepi tempat tidur, melihat tingkah kedua putrinya dan tersenyum. Mendadak senyumnya pudar saat melihat gaun di atas tempat tidur yang tadinya rapi ia gantung di gantungan baju di tembok samping tempat tidur. Gaun itu kini kusut. Segera ia meraih gaun itu matanya berkaca melihat bagian lengan gaun itu yang koyak. Ia tahu siapa yang melakukannya. Ibu memejamkan mata berusaha menahan air matanya yang hampir jatuh dan memeluk gaun itu. "Ibu bisa jahitin kan?" Diki menghampiri Ibu dan duduk di sampingnya. "Iya, habis ini ibu bawa ke Mbak Sum, Ibu jahitin di sana." Ibu mengusap sudut matanya, berbalik dan tersenyum menatap Diki. Ia tahu Diki bekerja keras untuk membelikan sepatu buat Rara. "Maaf ya Diki, Rara... Ibu nggak bisa kasih apa-apa buat Rara besok," Ada kesedihan mendalam di mata Ibu. "Ibu... Dukungan Ibu udah cukup buat Rara. Juga doa Ibu. Cuma itu yang Rara butuhin kok." Lengan kurus Diki melingkar di pundak Ibu. "Iya... Ibu yang terbaik buat Rara, selalu." Rara memeluk Ibu manja. Ibu mengusap rambut Diki dan mencium pipi Rara. Kesedihan dan kesulitan yang mereka rasakan seakan menghilang dengan kehangatan seperti seperti ini. Selalu ada kebahagiaan yang mengalir di relung hati mereka saat mereka bersama. "Kie! Gue udah di ujung gang! Lu di mana?? Lama banget deh!" Lucy berteriak dengan handphone menempel di telinganya. "Gue masih di angkot! Bentar lagi nyampai. Sabar napa!" Teriakan Kiera yang tak kalah kencang di ujung telepon membuat Lucy menjauhkan handphone dari telinganya. "Udah gue bilang dateng pagi-pagi! Lu ngapain aja sih?" Lucy mengentakkan kaki dengan kesal. "Macet nih, lagian masi pagi kan?" "Iya! Tapi kan jalannya jauh, belum lagi nyiapin Rara." "Gue bentar lagi nyampai, Usil!" "Ehh... ada Rey tuh..." "Tungguin gue, gue..." Lucy mematikan HP-nya tanpa memedulikan Kiera yang belum selesai bicara di ujung sana. Ia memasukkan HP ke kantong celana dan menunggu Rey yang baru saja keluar dari mobil dan berjalan dengan langkah lebar ke arahnya. "Lu udah nyampai duluan? Kiera mana?" Rey menghentikan langkahnya di depan Lucy. "Masih di angkot. Bentar lagi nyampai." "Okay. Kita tungguin Kiera di sini ato gimana?" Rey memasukkan kedua tangannya ke kantong jaket denimnya dan menatap Lucy. Dengan rambutnya yang disisir rapi ke belakang dan alis kirinya yang terangkat sedikit di atas sepasang mata tajam namun lembut, Rey terlihat sangat tampan. "Mmmm..." Lucy mengalihkan pandanganya dari mata Rey dengan gugup. "Kita tungguin di rumah Rara aja yuk?" Lucy meringis jail. "Okay." Rey tersenyum. Mereka berdua melangkah pelan. "Hei! Tunggu!" Sebuah teriakan menghentikan langkah mereka. Mereka berbalik. Kiera yang baru turun dari angkot berlari kecil menyusul mereka. "Gue bilang tungguin gue udah deket, malah dimatiin! Orang belum selesai ngomong juga," Kiera menarik rambut Lucy kesal saat ia sampai di depan mereka. "Aww! Lagian elunya lama sih." Lucy meringis lucu. "Bilang aja karena ada... awww!" Kiera mengaduh saat tiba-tiba Lucy menginjak kakinya. Rey tertawa geli melihat tingkah mereka. Ia menyukai saat-saat seperti ini. Berada di tengah-tengah mereka membuatnya lebih bersemangat. Seperti ada energi baru yang mengalir di pembuluh darahnya dan membuatnya ingin melakukan segalanya demi bersama mereka. "Yuk! Ntar telat, Rara udah nungguin tuh." Rey mengangkat kedua alis matanya dan berbalik. Berjalan pelan dengan kedua tangan di saku celananya. "Rey cool banget Kie..." Lucy menggamit lengan Kiera dan berbisik di telinganya. Mereka berdua mengikuti langkah Rey. "Huh! Itu mulu di otak lu!" Kiera melirik Lucy sebal. Tapi Lucy memang benar. Kiera mengamati Rey yang tengah berjalan dengan santai. Dari belakang punggung Rey terlihat kokoh dan rambut ikalnya sedikit berantakan tertiup angin. Jaket denimnya pas di badannya yang menjulang tinggi. Rey yang sempurna. Namun, tak ada yang bisa menggantikan sosok Arrash dari pikiran Kiera. Tak ada yang lebih sempurna dari Arrash. Kiera menghela napas pelan. Ia kangen sosok itu. "Kak! Rara udah siap!" Rara berteriak dan berlari kecil ke arah mereka saat ia mereka sampai di depan rumah Rara. Rupanya ia telah menunggu di depan pintu sedari tadi. Ibu dan Diki keluar dan berdiri di tengah-tengah pintu. Mereka tersenyum menyambut Kiera, Lucy dan Rey. Rara berhenti di depan mereka. Ia terlihat berbeda kali ini. Tampak cantik dengan gaun biru muda dan sepasang sepatu putih. Rambutnya disisir rapi dan dijepit dengan pita sebelah kirinya. Seperti bukan Rara yang mereka kenal sehari-hari. "Rara? Kamu beda banget..." Lucy menunduk dan merapikan poni Rara. "Iya nih, sampai nggak kenal kita." Kiera membulatkan matanya. "Kakak bisa aja." Rara tersenyum malu. "Udah nih? Diki ikut kan?" Rey mengangkat kedua alisnya dan menatap ke arah Diki. "Iya, Kak, aku ikut. Bentar ya." Diki melangkah masuk ke rumah. "Pamit dulu ama Ibu, Ra." Kiera mengingatkan Rara sambil mengerling ke arah Ibu yang masih berdiri dan tersenyum di sana. "Oke, Kak." Rara berbalik dan menghampiri Ibu. Ibu mengusap rambut Rara dan mencium keningnya sambil membisikkan sesuatu di telinga Rara. Rara mengangguk dan mencium tangan Ibu lalu berjalan cepat ke arah mereka. "Kak Diki! Buruan!" "Yuk, udah nih." Diki keluar sambil merapikan rambutnya dan berjalan tergesa bergabung bersama mereka. "Udah siap semua?" Rey menatap mereka satu per satu. "Udah. Yuk?" Lucy menggandeng lengan Kiera dan Rara. "Kita berangkat dulu ya, Bu." Kiera menganggukkan kepalanya ke arah Ibu Rara. "Hati-hati ya, Neng, nitip Rara. Ibu cuma bisa doain mudah-mudahan yang terbaik buat Rara." Ibu tersenyum menatap mereka dengan mata sedikit berkaca. Baru kali ini ia melihat Rara dan Diki yang begitu bersemangat. Ibu membalas lambaian tangan mereka dan terus memandangi langkah mereka yang semakin menjauh hingga tak terlihat lagi**************************Studio stasiun TV swasta tempat audisi pencarian bakat itu tampak ramai hari ini. Semua berwajah tegang menunggu giliran dipanggil. Rara memilin rambutnya dengan gugup sambil sesekali membenarkan nomor audisi yang ditempel di dadanya. Diki berusaha membuatnya sedikit santai dengan mengajaknya bercanda. Sementara Rey bersandar di tembok dengan tangan terlipat di depan dada dan tentu saja ia menjadi pusat perhatian semua gadis di situ. Wajah tampan Rey seperti magnet yang menarik perhatian semua kaum hawa. Di sebelahnya Kiera dan Lucy duduk di kursi dan mengamati sekeliling mereka yang mayoritas anak muda. Ada yang merenung, ada yang berlatih bernyanyi dengan suara keras ditemani gengnya, ada yang mondar-mandir dengan gelisah. Kadang Kiera dan Lucy saling berpandangan dan tertawa tanpa suara mengamati tingkah mereka. Seorang host tampak terlihat sibuk mewawancarai beberapa peserta. Wajah Rey terlihat bosan. Sudah hampir 2 jam mereka menunggu. Rey menutup mukanya dengan kedua tangan. Lucy meliriknya. Ia tahu Rey tengah bosan. "Rey! Lihat deh cewek-cewek di ujung sana, pada ngomongin elu. Tuh, ngelihatin elu semua." Lucy menarik ujung kemeja Rey. Rey mengangkat kedua alisnya dan melirik tak peduli. "Rey! Lihat!" Lucy kembali menggoda Rey kali ini dengan menarik tangan Rey. Kiera tersenyum geli melihat ekspresi Rey. "096" Pengeras suara yang memanggil nomor peserta menarik perhatian mereka. Rara melirik nomor di dadanya. 097. Setelah ini giliran Rara. "Kak..." Tangan Rara terasa dingin di lengan Diki. Diki menaruh tangan Rara di genggamannya. Wajah Rara sedikit panik. "Santai Ra, kan kamu udah biasa nyanyi di depan orang banyak. Bakalan sama aja kok." "Tapi Kak... Rara gugup nih. Ntar gimana kalau Rara nyanyinya jelek?" Rara menunduk dan menggigit ujung bibir bawahnya. "Tenang Rara. Kita semua di sini. Nggak usah panik. Ntar malah nggak maksimal hasilnya. Santai aja." Lucy mengusap lengan Rara pelan. "Oke, Kak." Rara mengangkat wajahnya, menghela napas panjang dan mengembuskanya pelan. Kiera dan Rey menghampiri Rara dan memberinya semangat. Wajah Rara kembali tenang. Mereka menunggu giliran Rara dipanggil sambil bercanda untuk membuat Rara tidak lagi gugup. "097" Jantung Rara berdetak kencang. Gilirannya sekarang. Sontak Rara berdiri. Wajahnya sedikit memucat. "Hei, inget kata Kakak, enjoy aja, jangan dianggap beban. Okay?" Kiera memegang tangan dingin Rara. "Udah siap kan? Masuk gih. Semangat!" Rey mengepalkan tangan kanannya ke atas. Rara mengangguk, tersenyum, dan membentuk bulatan dengan jari tangannya tanda setuju. Diki meremas lengan Rara pelan dan mendorongnya masuk. Rara pelahan melangkah masuk dengan tenang. Kiera, Lucy, Rey dan Diki menatap layar televisi berukuran besar yang terpampang di dinding dengan antusias. Acara ini tayangkan live dengan juri para penyanyi dan komposer musik kenamaan. Di layar terlihat Rara yang mengangguk dan tersenyum ke arah juri. Rara memperkenalkan dirinya dengan tenang. Para juri terlihat saling berpandangan dan mengangkat alisnya saat Rara bilang bahwa ia pengamen jalanan dan tak bersekolah. "Wow!" Pembawa acara yang berdiri di tengah-tengah ruangan di antara mereka berdecak kagum. Selalu saja kondisi sosial membuat pertunjukan semakin menarik. Para juri mengangguk dan mempersilakan Rara untuk mulai menunjukkan bakatnya. Rara memejamkan matanya sebentar dan kemudian mengalunlah suara indahnya. Mendadak ruangan menjadi hening. Semua mata menatap ke arah layar televisi. Suara merdu Rara memenuhi ruangan. Dengan penghayatannya yang total Rara menyanyi sangat bagus. Para juri terdiam, tak berkedip menatap Rara. Salah seorang penyanyi wanita yang telah go international terlihat memejamkan mata menikmati alunan suara Rara. Lucy menggenggam tangan Kiera erat. Rey berdiri tegak dan matanya bersinar menatap layar di depannya. Sedangkan Diki, ia terpaku dengan wajah penuh haru menatap adiknya yang tengah bernyanyi dengan penuh penghayatan. Ia tahu Rara berusaha menampilkan yang terbaik untuk bisa lolos di audisi ini. Lengkingan indah suara Rara mengakhiri lagu yang dinyanyikanya. Ia tersenyum dengan sedikit gugup menatap para juri. Tak disangka semua juri berdiri dan bertepuk tangan. Mereka semua tertawa lebar. "Luar biasa! Seorang gadis berumur 10 tahun dengan suara seindah itu! Benar-benar tak disangka. Dan ia seorang penyanyi jalanan!" Pembawa acara di tengah-tengah ruangan berteriak penuh semangat. "Keren! Sekarang kita tunggu komentar dari juri." Pembawa acara itu melanjutkan dengan tatapan lurus ke arah layar televisi. Matanya berbinar penuh semangat. Semua juri berkomentar mengagumi suara indah Rara. Rara tampak mengangguk dan tersenyum bahagia mendengar komentar dari juri. "Impressive! Tampaknya ini bakat yang luar biasa. Kita lihat kartu apa yang bakal dibawa keluar oleh... Rara, peserta nomor 097!" Pembawa acara itu melanjutkan. Di layar tampak iklan ditayangkan. "Inilah dia... Rara! Tunjukin ke kita semua kartu apa yang kamu bawa?!" Pintu terbuka dan kamera langsung menyorot Rara. Rara memegang kartu di belakang punggungnya. Matanya mencari-cari Kiera, Lucy, Rey dan Diki. Semua mata memandang ke arah Rara. Rara berlari cepat ke arah Kiera, menunjukkan kartu di tangannya dan memeluk mereka satu per satu dengan perasaan campur aduk. Kartu gold. Dia lolos audisi kali ini. Kiera dan Lucy berteriak senang. Rey mengangkat tangannya ke atas dan berteriak tanpa suara. Diki memeluk Rara erat dan mencium rambutnya. Matanya berkaca, ia sungguh terharu dan bangga dengan keberhasilan Rara. Kamera menyorot mereka semua. Tangis Rara tumpah di pelukan Diki. Kali ini tangis bahagia. Ada sosok yang mematung diam di sudut ruangan mengembangkan senyumnya melihat binar-binar bahagia di mata mereka, khususnya Kiera. Sementara di tempat lain, di sebuah terminal yang bising dengan suara berbagai macam kendaraan dan teriakan, di sudut toko kecil yang menjual beraneka kue dan minuman seorang laki-laki menatap sebuah layar televisi kecil di sudut toko. Ia menunduk dan memejamkan matanya. Ada segaris penyesalan yang mengalir di hati kecilnya. Rara, anaknya terlihat sangat luar biasa di televisi. Apa yang telah dilakukannya membuatnya merasa menyesal dan malu. Ia memukul meja di depannya pelan dan menunduk dalam. Lalu di sebuah rumah yang tertata rapi, Ibu yang tengah mengelap meja tiba-tiba menghentikan kegiatannya. Ia menatap layar televisi di depannya dan terduduk di kursi dengan air mata mengalir di wajah. Tanpa berkedip ia menatap layar televisi. Dengan ujung bajunya ia mengelap air mata yang tertumpah tanpa bisa ia cegah. Ia tak menyangka bakal menyaksikan Rara yang tampil di televisi dengan memukau. Tiket di tangan Rara serta pujian pembawa acara membuatnya semakin tak bisa membendung air matanya. Ibu tersedu dengan penuh keharuan dan kebanggaan di dadanya. Tapi ada situasi yang berbeda yang terjadi di depan sebuah toko elektronik di dekat perempatan lampu merah. Seorang pria bertampang seram dan bertato berjalan cepat menghampiri anak-anak yang tengah bersorak dan memperbincangkan tentang seorang gadis kecil yang tengah melambaikan sebuah kartu berwarna emas di depan kamera di layar televisi besar di tengah ruangan. Seorang gadis kecil mendesak maju dari tengah kerumunan dan tiba-tiba ia berteriak sambil menutup mulutnya. Ia mengenali gadis kecil di layar televisi itu. "Rara!" "Beneran Rara, Ria??? Beda banget! Luar biasa!" Beberapa anak berseru dengan kekaguman yang tak bisa di tahan. Penuh semangat mata mereka menatap layar televisi tanpa berkedip dengan setengah tak percaya. "Iya Rara!! Keren banget!" Ria menatap layar tanpa berkedip. Senyumnya terkembang lebar. "Woi!!! Ada Rara di TV!" Salah satu dari mereka berlari ke jalan dan berteriak. Sontak beberapa anak berjalan cepat menghampirinya. Akhirnya mereka berjubel di situ, memelototi layar televisi di depan mereka. Untunglah karyawan toko itu tahu mereka semua. Jadi ia membiarkan anak-anak itu berjubel di situ, dan toko juga sedang dalam keadaan sepi. Serempak anak-anak itu bersorak saat pembawa acara mengatakan Rara lolos audisi dan suaranya sungguh indah. Mereka semua menyukai Rara yang manis dan tak banyak tingkah. Semua juga tahu kalau Rara biasa bernyanyi dengan indah. "Rara keren!" Tanpa henti mereka mengagumi sosok Rara di layar televisi yang terlihat sangat berbeda. Ia berbicara dengan tenang di depan kamera dan terus tersenyum. Mereka berdecak kagum melihat Rara. "Apa yang kalian lihat, hahhh??!!!" Sebuah bentakan yang cukup keras mengagetkan mereka. Serentak semua mata mengalihkan pandanganya ke sumber suara itu. Tampak Bang Somad tengah berdiri dengan muka kelam memandang ke layar televisi. "Bubar!!! Cari uang lagi sana! Jangan bermalas-malasan di sini!" Bentakannya yang menggelegar membuat anak-anak seketika beringsut pergi sambil menenteng gitar lusuh mereka. Sesekali mereka menoleh ke belakang ke arah layar televisi dan dengan penuh semangat, membahas tentang Rara. Bang Somad mendengus kesal. Berita tentang Rara pasti akan membuat anak-anak semakin sedikit demi sedikit mulai membangun mimpi mereka dan akan meninggalkan dunia mengamen. Itu berarti tak akan ada lagi uang yang mengalir ke kantongnya. Mata Bang Somad menyipit melihat Kiera yang tengah disorot kamera. Tangannya terkepal. Ada yang harus dilakukanya. Sedikit tergesa ia melangkah menjauh sambil tangannya merogoh kantong celana mengambil handphone dan memencet beberapa nomor. "Halo Bos... Sebentar lagi ada barang baru, tolong siapkan keperluan gue. Agak mahal kali ini karena barang bagus." Ia berhenti sejenak. Mendengarkan jawaban dari ujung telepon di telinganya. "Oke, bakal gue urus secepatnya. Siapkan saja uangnya." Lalu Ia menutup telepon dan memasukkan kembali HP ke kantongnya. Ia mengangguk-angguk puas. Ujung bibirnya ditarik hingga membentuk seringai jahat.Always Be There For You Kiera berjalan santai keluar dari gerbang di perumahannya. Hari ini ada kuliah pengganti di pagi hari karena Kamis yang lalu dosennya tak bisa masuk. Suasana masih terlihat sepi, mungkin karena weekend. Jalanan yang biasanya ramai juga lengang kali ini. Kiera berhenti sejenak dan menoleh ke kanan kiri menunggu tak ada kendaraan yang melintas lalu menyeberang. Ia berdiri di trotoar memandang ke arah angkot biasanya muncul. Namun, belum terlihat satu angkot pun dari kejauhan. Ada sebuah mini van yang melaju agak kencang namun tiba-tiba berhenti tepat di depannya. Kiera menatap tak begitu peduli saat dua orang laki-laki membuka pintu van dan berjalan ke arahnya karena ia merasa tak mengenal mereka. Mungkin saja mereka akan menanyakan alamat. Kedua laki-laki itu mendekatinya. Kiera mulai sedikit curiga saat salah seorang dari mereka mengeluarkan sebuah benda berwarna hitam seperti saputangan. Kiera mundur beberapa langkah dan dengan cepat berjalan ke arah lain. Tapi ia kalah cepat. Salah seorang dari mereka menghadang langkahnya dan menaikkan alis matanya kepada seeorang lainnya yang memegang saputangan. "Siapa kalian??" Kiera berteriak. Tiba-tiba laki-laki yang menghadangnya memegang lengannya dengan kuat. Kiera meronta dan berusaha melepaskan cengkeraman laki-laki itu di pundaknya. Buku tebal yang dibawa Kiera terjatuh. Kiera berteriak panik. "Lepaskan! Mau apa kalian?? To...." Belum sempat ia berteriak minta tolong, laki-laki yang mencengkeram lengannya menariknya dan seseorang yang memegang saputangan dengan cepat menutupkan benda itu ke hidung Kiera. Sekali lagi Kiera meronta, namun tiba-tiba ia merasa lemas dan terkulai tak sadarkan diri. Dengan cepat kedua laki-laki itu memapah tubuh lemas Kiera dan membawanya masuk ke dalam mobil. Lalu mini van itu melaju cepat. Sebuah angkot berhenti sesaat setelah mini van itu melaju. Sopirnya turun dan memungut buku tebal yang tergelatak di trotoar. Dari kejauhan ia melihat kejadian itu, namun kejadian itu terjadi begitu cepat. Ia mengenali siapa gadis yang dihadang dua orang laki-laki tadi karena gadis itu dan temannya sering naik angkotnya pergi atau pulang dari kampus. Sopir angkot itu memikirkan sesuatu sambil menimang buku di tangannya. Lalu ia segera masuk ke dalam angkotnya, ia akan mencari teman gadis itu dan menanyakan apa yang terjadi karena ia tidak tahu pasti. Namun sesaat setelah ia hendak menjalankan angkotnya, tiba-tiba serombongan ibu-ibu berteriak dan menyuruhnya menunggu. Mereka ada acara di suatu tempat dan hendak menyewa angkotnya. Sopir angkot itu setuju, buku yang tadi dipegangnya ia masukkan ke dalam dasbor angkot. Ia akan mengurus itu setelah selesai mengantarkan rombongan ibu-ibu ini, pikirnya. Kiera berusaha membuka matanya yang terasa berat. Kepalanya berputar. Ia merasa sangat pusing. Namun, ia memaksa untuk membuka matanya. Pandangannya masih samar, tak terlihat begitu jelas sekelilingnya. Mata Kiera mengerjap. Pelan-pelan ia melihat sebuah ruangan kecil yang tertutup rapat tanpa jendela. Ia memandang sekeliling dan menyadari dirinya tengah duduk di lantai di pojok ruangan. Tangannya terikat ke belakang. Tas punggungnya teronggok di dekatnya. Ia ingat ada handphone di tasnya itu. "Ughh." Teriakan Kiera tertahan. Ada plester yang menutupi mulutnya. Kiera meronta panik, berusaha melepaskan ikatan di tangannya. Namun sia-sia, ikatan itu terlalu kuat. Ia tak tahu berada di mana. Hal terakhir yang ia ingat ia dihadang oleh dua orang laki-laki. Kiera berusaha berdiri. Ia terhuyung dan kemudian jatuh lagi di lantai. Badannya masih terasa lemas. Kiera terduduk di situ. Air mata mengalir dari kedua pelupuk matanya. Ia takut akan terjadi sesuatu padanya. Tiba-tiba pintu terbuka. Kiera mendongak. Dua orang laki-laki masuk ke dalam ruangan. Salah satu dari mereka menghampirinya. Lalu ia berjongkok di depan Kiera, tangannya terulur ke muka Kiera. Kiera memalingkan wajahnya sambil menutup mata. Tetapi tangan kiri laki-laki itu memegang dagunya dan tangan kanannya melepas plester di mulut Kiera dengan kasar. Kiera mengaduh saat plester itu terlepas dari mulutnya. Ia memejamkan mata menahan sakit. "Kalian siapa?? Apa mau kalian??!" Kiera berteriak seketika plester di mulutnya terlepas. "Husshh... lu bakal tahu sebentar lagi, manis." Telunjuk laki-laki itu menyentuh bibir Kiera. Kiera memalingkan wajahnya dengan jijik. Ia tak ingin jari laki-laki itu menyentuhnya. "Lepasin gue! Gue nggak punya masalah ama kalian!!" Sekali lagi Kiera memekik. Dadanya bergemuruh. Napasnya turun naik menahan marah dan panik. "Ohhh... seperti itu??" Tiba-tiba sesosok tubuh menyembul dari pintu, seorang laki-laki. Mata Kiera terbelalak menatap sosok yang ia kenali itu, laki-laki kurus tinggi dengan banyak tato di lengan kanan dan kirinya. "Bang Somad??" Kiera mendesis ngeri setengah tak percaya. "Kenapa? Kaget?" Bang Somad berjalan pelan mendekati Kiera. Lalu ia berjongkok di depan Kiera dan mengangkat dagu Kiera dengan tangan kanannya. Tatapannya tajam menghunjam ke manik mata Kiera. Wajah Kiera memucat. "Apa salah saya?? Kenapa membawa saya ke tempat seperti ini??" Suara Kiera bergetar menahan marah. "Salah kamu? Masih bertanya salah kamu apa??" Mata Bang Somad mengelam. "Kalau tentang anak-anak yang memilih sekolah, itu bukan salah saya! Mereka punya hak untuk memilih apa yang mereka suka!" Suara Kiera melengking marah. "Gimana kalau bukan itu alasan gue?" Wajah Bang Somad membatu. Rahangnya mengeras. Ia memegang dagu Kiera dengan tangan kanannya dan saat ia teringat kembali kejadian dua tahun yang lalu itu. Ia mendorong Kiera ke arah dinding. Kening Kiera membentur dinding lumayan keras. Kiera memekik kesakitan. Keningnya berdarah. Bang Somad menatapnya dengan seringai puas. "Lu bakal ngerasain sesuatu yang lebih menyakitkan setelah ini." Kepala Kiera berdenyut. Keningnya terasa nyeri. "Kenapa?? Kenapa mesti saya??" Sambil menahan sakit Kiera menatap Bang Somad. "Lu yakin nggak ngenalin gue? Karena hanya wajah elu yang nggak bakal bisa gue lupain seumur hidup gue dan kebetulan sekali gue akhirnya bisa nemuin elu. Lu mesti bayar apa yang lu udah lakuin ke gue." Wajah Bang Somad hanya berjarak beberapa senti dari wajah Kiera. Tercium bau rokok di embusan napas Bang Somad. "Apa yang udah saya lakuin?? Saya nggak pernah ngerasa kenal Bang Somad..." Kiera mendesis pelan. "Benarkah?? Coba lu inget-inget kejadian lima tahun yang lalu di sebuah angkot." Mata Bang Somad menghunjam menatap Kiera. Jantung Kiera berdegup kencang. Pantas saja ia merasa seperti mengenali sosok Bang Somad saat ia pertama kali bertemu kapan hari. Namun, ia tak begitu yakin karena sosok yang ditemuinya lima tahun yang lalu di sebuah angkot itu sungguh berbeda, hanya tinggi kurusnya yang sama. Laki-laki itu berambut pendek dengan tatapan mata setengah bingung dan tidak fokus. "Jadi...???" Kening Kiera mengerenyit. "Benar. Gue laki-laki di dalam angkot itu. Dan gara-gara elu yang berengsek, semua rencana gue berantakan." Dada Bang Somad turun naik menahan marah. Kiera bersandar ke tembok dan memejamkan matanya. Ia mencoba memutar kembali ingatannya lima tahun yang lalu. Waktu itu ia pulang sekolah kesorean karena ada tugas yang mesti ia selesaikan di sekolah. Ia naik angkot dari depan gerbang sekolahnya. Di dalam angkot hanya ada seorang ibu dengan anak kecil di sampingnya. Kiera duduk di belakang sopir dekat dengan pintu, berseberangan dengan ibu itu. Di depan sebuah rumah sakit swasta angkot berhenti, seorang laki-laki naik dan duduk tepat di depan Ibu itu. Mukanya kusut, matanya merah seperti kurang tidur. Berulang kali ia memilin keningnya. Kadang ia mengembuskan napas berat. Tiba-tiba terdengar dering handphone dari dompet ibu itu. Kiera dan laki-laki itu memperhatikan saat ibu itu mengeluarkan handphone dari tas kecil di pangkuannya. Saat ia membuka tas itu terlihat amplop cokelat tebal dengan beberapa lembar uang ratusan ribu menyembul keluar. Tiba-tiba laki-laki di samping Kiera itu menjadi tidak tenang. Ia mengetuk-ngetukkan jari tangannya ke bangku angkot. Matanya melirik ke sekeliling dengan nanar. Kiera meliriknya sekilas, lalu ia kembali memperhatikan jalanan di depannya. Ia menoleh kaget saat tiba-tiba ibu itu berteriak. Kiera terbelalak ngeri saat ia melihat laki-laki itu telah duduk di samping sang ibu dan menodongkan sebuah pisau lipat kecil ke arah pinggang ibu itu. "Kalian semua jangan ada yang macam-macam atau saya tusuk dia." Dengan suara parau ia mengancam mereka. Kiera beringsut menjauh. Anak kecil di sebelah ibu itu mulai menangis ketakutan. Sopir angkot hanya melirik melalui kaca spion dengan panik. "Serahin semua uang yang ada di dompet." Suaranya bergetar saat ia memerintahkan ibu itu untuk memberikan uangnya. "Ta... ta... tapi..." Ibu itu memegang dompetnya erat. Wajahnya memucat. Kiera memutar otak. Sebentar lagi lampu merah. "Serahkan sekarang juga atau pisau ini yang akan berbicara!" Ujung pisau itu menempel di pinggang sang ibu. Ibu itu diam tak bergerak. Lalu dengan tangan bergetar ia membuka dompetnya, mengeluarkan amplop cokelat di tasnya dan menyerahkannya ke tangan laki-laki itu. Angkot mulai melambat. Sesaat sebelum angkot berhenti Kiera melompat keluar dan berteriak. "Copettt!" Laki-laki itu tak menyangka anak sekolah di depannya itu akan bertindak senekat itu. Ia panik. Lalu ia melompat keluar. Namun, sesaat setelah ia keluar beberapa orang dan pengendara sepeda motor berhenti dan menghampirinya. Tanpa pikir panjang mereka menariknya dan menginterogasinya. Ibu itu keluar dari angkot dan menunjuk amplop cokelat di tangan laki-laki itu. "Uang saya..." Katanya terbata. Salah seorang dari mereka merebut amplop itu dan menyerahkannya pada sang ibu. Kiera masih berdiri dengan napas tersengal. Laki-laki itu menatapnya penuh dendam. Tiba-tiba salah seorang dari mereka yang mengerumuni laki-laki itu memukulnya. "Dasar berengsek! Kamu rupanya yang selama ini menjadi maling di sini!" "Hajar!" Beberapa orang yang mulai terpancing amarahnya mulai mengayunkan bogem mentah ke arah laki-laki itu. Seorang polisi yang berdiri di seberang jalan segera berlari menghampiri. Dari kejauhan seorang perempuan yang bersimbah air mata melihat sekilas saat laki-laki itu diseret dan dihakimi warga. Perempuan itu berteriak dan berlari menyeberang tanpa memperhatikan kanan kiri. Sebuah mobil yang melaju kencang menabraknya dan ia terkapar di jalan dengan berlumuran darah. Laki-laki yang kini tergeletak di pinggir jalan dengan luka dan memar akibat pukulan orang-orang di sekitarnya melihat kejadian itu. Ia ingin berteriak, namun kerongkonganya tersumbat. Polisi yang berhasil melerai dan menyuruh bubar orang-orang yang menghajarnya memapahnya untuk berdiri. Ia ingin berlari ke arah perempuan yang terkapar di tengah jalan itu namun tak ada sedikit pun tenaga yang tersisa. Pandangannya masih terpaku ke situ. Air mata menetes membasahi luka di pipinya. "Istri..." Ia jatuh pingsan sebelum sempat menyelesaikan kata-katanya. Kiera masih terduduk di trotoar dan menyaksikan semua itu dengan perasaan campur aduk. Lalu seseorang membantunya berdiri dan ia pelahan berjalan pulang. Ada yang mengamati dalam diam, tanpa ada seorang pun yang menyadarinya. "Jadi... laki-laki itu Bang Somad?" Mata Kiera mengerjap setengah tak percaya. Dengan lemas is bersandar di dinding. "Ya. Dulu gue hanya seorang ayah yang rela ngelakuin apa saja demi kesembuhan anak gue, dan gue terpaksa menodong wanita itu karena anak gue mesti dioperasi secepatnya. Dan elu! Elu yang ngacauin semuanya! Istri gue yang ngelihat gue di hajar masa lari buat ngebela gue, tapi ia malah tertabrak mobil. Semua gara-gara elu!" Bang Somad mencengkeram dagu Kiera sambil mendongakkan wajahnya. Lalu sekali lagi ia mengempaskan Kiera ke dinding. Kiera meringis kesakitan saat kepalanya membentur tembok. "Penjara dan semua ketidakadilan yang terjadi ama gue bikin gue seperti ini sekarang. Gue nggak bakal ampunin siapap un yang berani cari masalah sama gue." Mata bang Somad bersinar kejam. "Gue pengin bunuh elu sekarang juga, tapi lu nggak bakal mati seenak itu. Lu harus kehilangan segalanya karena gara-gara elu gue kehilangan segalanya. Lu bakal ngerasain siksaan dari tiap laki-laki yang makai elu. Gue bakal jadiin elu... pelacur!" Mata Bang Somad menyipit lalu ia tertawa puas. Pelacur? Tubuh Kiera membatu. Dadanya seakan berhenti berdetak. Ia lalu menggeleng panik. "Tolong... jangan lakukan ini pada saya...bukan saya yang mesti bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi ama Bang Somad..." Kiera memohon dengan suara terbata. "Kalo elu nggak loncat keluar trus teriak copet, anak dan istri gue nggak akan mati!" Bang Somad berteriak dengan suara menggelegar. Ditendangnya kursi kecil di tengah ruangan hingga berderak menghantam tembok. Kiera menggigil. Salah satu laki-laki yang tadi menyingkir keluar saat Bang Somad masuk menghampiri dan membisikkan sesuatu di telingannya. Bang Somad mengangguk-angggukkan kepalanya. "Bangun! Berdiri! Bos pengin lihat elu..." Bang Somad menarik lengan Kiera dengan paksa. Kiera memberontak. "Tidak!!! Lepaskan!!!" Kiera berteriak putus asa. Ia berusaha menahan tarikan Bang Somad. Namun, ia terlalu lemah. Dengan gampang Bang Somad berhasil menariknya berdiri. "Satu hal lagi yang elu perlu tahu, nggak semua orang suka ama elu. Gadis cantik di kampus elu yang sedikit binal itu, ia rela bayar gue buat ngerjain elu." Bang Somad mendekatkan jari telunjuknya ke kening Kiera dan mendorongnya dengan tawa mencemooh. "Sheila..." Kiera mendesis tak percaya. "Benar sekali." Bang Somad tertawa lebar. Laki-laki di sebelah Bang Somad menghampiri Kiera dan melepaskan ikatan tangan Kiera. Lalu ia mendorong Kiera untuk mengikuti langkah Bang Somad. Kiera mengepalkan tangannya. Ia tak akan menuruti mereka semudah itu. "Awwww!" Laki-laki itu mengaduh saat tiba-tiba siku Kiera menghantam perutnya. Kiera lalu menendang Bang Somad yang berjalan di depannya dan menubruknya. Bang Somad terhuyung sejenak lalu dengan sigap menangkap tubuh Kiera yang hendak kabur. "Dasar jalang!" Plakkkk! Setelah menarik tubuh Kiera ke arahnya, Bang Somad menampar pipi Kiera keras. Kiera mengaduh. Pipinya panas dan sakit. Air mata mengalir membasahi rambutnya yang tersibak ke depan. Bang Somad lalu menarik lengan Kiera kasar dan memaksanya untuk mengikuti langkahnya. Laki-laki yang satunya berjalan di belakang Kiera dengan sigap. Kiera menyeret langkahnya mengikuti Bang Somad. Mereka berjalan melalui sebuah lorong dengan ruangan-ruangan kecil yang berderet di sisinya. Ruangan-ruangan tanpa jendela, hanya dengan ventilasi kecil di tembok bagian atas. Kiera terkesiap saat mendengar samar jerit seorang gadis dari deretan ruang-ruang itu. Kiera menghentikan langkahnya namun laki-laki di belakangnya segera mendorong bahunya kasar. Ia kembali berjalan dengan detak jantung yang semakin mengeras. Kiera melewati sebuah ruangan bersekat kaca, ia meliriknya. Mata Kiera terbelalak lebar melihat ke dalam ruangan itu. Tampak beberapa orang wanita muda tengah duduk di sebuah sofa panjang dengan pakaian terbuka yang menunjukkan lekuk tubuh mereka. Ada yang tengah merapikan dandanannya, ada pula yang berbincang. Namun, perhatian Kiera tertuju pada seorang perempuan muda yang duduk di pojok sofa. Wajahnya masih terlihat begitu muda, mungkin ia belum berumur 17 tahun. Matanya terlihat panik, dan ia berusaha menutupi pahanya yang setengah terbuka dengan kedua tangannya. Ia menggigit ujung bibirnya lalu menatap keluar. Saat itulah pandangan matanya bertemu dengan mata Kiera. Kiera bisa melihat ketakutan di mata gadis cantik itu. Ada permintaan tolong yang tak terucap di matanya. Ada sesuatu yang mengalir di dada Kiera. Jeritan pilu yang didengarnya dan tatapan gadis itu membuatnya geram. Ia merasa sangat marah. Napas Kiera tersengal. Ia berhenti sejenak. Bang Somad yang memperhatikannya mendekat dan berbisik. "Sabarlah, sebentar lagi lu bakal duduk di situ." Kiera menoleh cepat. Ia menatap Bang Somad dengan penuh kebencian dan amarah. Ia tahu beberapa gadis muda di sini menjadi korban women trafficking atau perdagangan perempuan. Bang Somad tertawa mengejek dan kembali menarik lengannya. Setelah menyusuri lorong itu, mereka tiba di depan sebuah pintu besar dengan dua penjaga berdiri di depannya. Bang Somad menyapa salah seorang penjaga pintu itu dan mengisyaratkanya untuk membuka pintu. Pintu terbuka, Kiera berdiri mematung di situ. Ia tak ingin melangkah masuk. Ia tahu akan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi padanya di dalam sana. Namun, laki-laki yang sejak tadi berjalan di belakangnya mendorongnya sekali lagi. Dengan langkah berat Kiera masuk ke dalam ruangan. Ruangan itu cukup luas, permadani tebal menghiasi lantainya. Ada meja dengan sofa yang mengelilinginya di pojok ruangan. Dan tepat di depan mereka ada sebuah kursi tinggi juga dengan meja kaca besar. Di kursi itu duduk seorang laki-laki berumur sekitar 40 tahun dengan tampang dingin. "Permisi, Bos, ini yang saya ceritakan kemarin" Bang Somad mengangguk dan menunjuk ke arah Kiera. Kiera memalingkan wajahnya dengan penuh kebencian. Laki-laki itu menurunkan sebuah dokumen yang sejak tadi di bacanya. Ia lalu mengamati Kiera lekat. "Good job, Somad. Ini lebih baik dari yang kamu bawa kapan hari." Ia berdiri dari kursinya dan melangkah mendekati Kiera. Lalu ia mengangkat dagu Kiera dan memicingkan matanya meneliti setiap jengkal wajah Kiera. Ia mengangguk-angguk puas. "Muda, cantik, dan segar. Tak kalah dari artis-artis yang ke sini dan menjual tubuhnya demi uang." Ia melambaikan dokumen di tangannya ke muka Kiera. Sekilas Kiera melihat daftar para artis cantik kenamaan dengan foto mereka di situ yang berpose setengah telanjang. Kiera mengembuskan napas panjang, marah dan panik. "Jangan khawatir, manis, kamu akan mendapatkan uang yang banyak dan bisa bersenang-senang seperti yang kamu mau setelah ini." Ia membelai pipi Kiera. Kiera menepisnya dengan kasar. "Tidak! Saya nggak akan sudi mengikuti permainan kotor Anda. Lepaskan saya!" Kiera berteriak lantang. Ia berusaha menutupi ketakutanya. God... please send me your guardian angel... Dalam hatinya ia memohon. "Kamu gadis yang sulit diatur tampaknya. Namun, itu tak ada artinya. Sebentar lagi kamu akan menyerah, dan kamu akan menjadi... pelacur." Laki-laki itu mendesis di telinga Kiera. Kiera bergeming, ia mendorong keras laki-laki di sebelahnya itu dan menamparnya. "Tidak akan pernah!" Kiera menggeram marah. Laki-laki itu mundur sambil memegangi pipinya. "Kurang ajar! Aku akan memberimu pelajaran! Somad, ambil uangmu dan keluarlah. Tugasmu sudah selesai." Laki-laki itu menunjuk ke sebuah amplop cokelat tebal yang tergeletak di atas meja. Bang Somad meraihnya. "Makasih, Bos." Ia mengangguk ke arah laki-laki itu dan menatap Kiera sekali lagi dengan seringai puas lalu melangkah keluar. Rahang Kiera mengatup. Kakinya terasa lemas. "Alex, Ronald! Kemari! Telanjangi gadis ini." Dua orang melangkah masuk dan mata mereka menatap Kiera kejam. Lalu keduanya berjalan mendekati Kiera. Kiera Beringsut ke belakang. "Tolong... jangan lakukan ini..." Ia memohon sambil terus bergerak pelan ke belakang. Air matanya kembali mengalir. Ia tahu ia tak bisa melakukan apa-apa di sini. Wajah Mama dan Papa terbayang tiba-tiba, juga Lucy, Rara, Rey, dan anak-anak yang dengan mereka semua Kiera bisa tertawa dan berbagi. Ia masih ingin bertemu mereka. Kiera mengusap air matanya. Langkahnya terhenti. Ia membentur meja di belakangnya. Dua orang laki-laki itu semakin mendekat. Dan sang Bos tersenyum mengejek duduk di sofa dengan tangan terlipat. Keringat dingin mengalir di punggung Kiera. Napasnya terhenti saat tangan laki-laki itu terulur hendak menyentuhnya. Tangannya terlipat di depan dada, Kiera menunduk sambil menangis. Laki-laki yang satunya mengentakkan tangan Kiera dengan paksa, memegang kerah bajunya dan menariknya keras. "Jangan!!!" Kiera menjerit saat beberapa kancing kemejanya terlepas dan berhamburan di lantai. Dengan sekali hentak kemeja Kiera terlepas. Sambil berurai air mata Kiera mencoba menutupi dadanya, untunglah ia memakai tank top. Namun, tetap saja tank top tipis itu tak mampu menutupi dadanya yang menyembul. Laki-laki itu bersuit, tangannya terulur ke dada Kiera. Mata Kiera terpejam. Arrash... entah kenapa tiba-tiba nama itu menyeruak di pikirannya. Arrash yang selalu datang saat ia membutuhkan. Ia meneriakkan nama Arrash dalam hatinya.****************************Jauh di pinggir pantai indah dengan ombak bergulung-gulung dan pasir putih nan lembut yang sepi dan belum tersentuh manusia, tampak sesosok laki-laki sedang berdiri dengan tangan bersedekap di depan dada. Pandangannya menerawang jauh ke tengah lautan. Masih ada beberapa hal yang mesti ia selesaikan sebelum ia memutuskan untuk mengikuti kata hatinya. Sebuah wajah terbayang di pelupuk matanya. Indah, dan selalu ada sesuatu yang mengalir di dadanya setiap kali mengingat binar di mata cokelat Kiera juga senyumnya yang sehangat mentari pagi. Ia tersenyum dan memejamkan matanya. Tiba-tiba ia tersentak, mukanya menengadah menatap langit. Ada suara yang memanggilnya, suara yang sangat ia kenali. Ia menekan jari telunjuk di keningnya sambil memejamkan mata, sebauh pemandangan yang terpampang jelas membuatnya terbelalak lebar. Segera ia melesat dengan kecepatan cahaya lalu hilang seketika. Mata Kiera terpejam, tubuhnya menggigil. Ia begitu ngeri dan ketakutan saat tangan laki-laki itu sudah seinci di depan dadanya. Sesaat sebelum tangan laki-laki itu sampai di dadanya, tiba-tiba pintu terbuka dengan suara berdebam. Seorang laki-laki tinggi dengan rambut ikalnya yang tertutup jaket hoodie melangkah masuk dengan cepat. Seperti terbang ia menghampiri Kiera lalu tangannya menyentakkan tangan laki-laki yang hendak menyentuh Kiera hingga laki-laki itu terpental ke lantai dengan kepala membentur lantai. Temannya yang hendak mengayunkan bogem mentahnya ia tendang dan jatuh menabrak dinding. Arrash... Mata Kiera terbelalak setengah tak percaya. Benar Arrash, Kiera merosot ke lantai dengan masih menatap Arrash yang membuka jaketnya lalu menutupkan ke badan Kiera. Ia membungkuk dan mengangkat Kiera, memapahnya ke kursi. "Kamu nggak apa-apa?" Kedua tangannya menyibak rambut di wajah Kiera yang basah dengan air mata. Tangannya terkepal saat ia melihat luka di kening Kiera yang masih meneteskan darah, juga pipi dan lengannya yang memerah. Ia memegang pipi Kiera dengan kedua tangannya, lalu menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Kiera hanya bisa menggeleng lemah, lidahnya serasa kelu. Kedatangan Arrash yang tiba-tiba seakan-akan membalikkan segalanya dengan sekejap. Kiera membenamkan wajahnya di dada Arrash dan laki-laki itu melingkarkan tangannya di bahu Kiera, mengecup puncak kepalanya lembut. Ia tahu Kiera baru saja melewati hal yang sulit. "Kurang ajar! Kamu siapa??" Laki-laki yang di panggil bos oleh semua orang di situ menggebrak meja di depannya dengan marah. Ia berdiri cepat dan berteriak memanggil beberapa nama. Beberapa laki-laki berbadan kekar tergopoh memasuki ruangan. Ada sekitar 10 orang. Bang Somad yang masih berbincang dengan seorang penjaga di depan pintu ikut lari ke dalam. Ia tercengang melihat laki-laki yang berdiri di tengah ruangan, laki-laki yang pernah membuatnya lari terbirit-birit. Bang Somad mendengus marah. Kali ini ia tak akan tinggal diam. Ia menggulung lengannya dan mendekati Arrash. "Cepat habisi dia!!!" Bos itu berteriak dengan suara menggelegar. Laki-laki yang terpental ke lantai karena kibasan tangan Arrash mencoba berdiri. Dan salah seorang lagi mengeluarkan sesuatu dari balik kemejanya, sebuah golok. Mereka semua mengepung Arrash. Kiera menatap dari pelukan Arrash dengan ngeri. Namun, dengan tenang Arrash melepaskan pelukan Kiera, mengusap lengannya lalu melangkah ke tengah ruangan. Ia berdiri tegak menatap beberapa orang yang mengelilinginya satu per satu. Tatapan matanya yang menghunjam menggetarkan hati pengawal-pengawal berbadan kekar itu, termasuk Bang Somad. Seperti ada kilatan yang menusuk mata mereka saat mata sosok yang berdiri tenang itu menatap mereka tajam. Serentak mereka memalingkan wajah, tak mampu terlalu lama menatap mata yang bersinar itu. Ada kekuatan yang seakan melemaskan sendi mereka dan membuat mereka hanya mampu mematung. "Habisin cepat! Kenapa dengan kalian???" Teriakan sang Bos yang menggelegar, membuat mereka kembali berdiri tegak dan memasang sikap siap menyerang. Bang Somad menerjang Arrash dengan beringas. Arrash berkelit sedikit dan menangkap pergelangan tangan Bang Somad dan memelintirnya lalu membantingnya ke lantai. Bang Somad jatuh membentur lantai dengan suara berdebum, keningnya berdarah terbentur lantai. Ia mengaduh kesakitan. Melihat hal itu beberapa orang maju dan mengayunkan pukulan juga tendangan ke arah Arrash. Namun, dengan tenang dan hanya dengan sedikit mengibaskan tangan, tak ada satu pun pukulan yang mampu mengenainya. Bahkan sedikit kibasan tangannya itu mampu membuat mereka yang mencoba menyerangnya terpental jatuh. Mereka yang biasa mampu melukai orang hanya dengan satu pukulan terbengong-bengong. Dengan beringas mereka lalu mengeluarkan senjata tajam dari balik baju mereka dan kembali menyerang Arrash. Masih seperti mimpi, Kiera melihat kejadian itu dengan ngeri. Tak terlihat sedikit pun kepanikan di wajah Arrash. Wajah hangatnya saat memeluk Kiera tadi pelahan menghilang berganti dengan tatapan sedingin es yang membuat orang-orang di sekitarnya membeku. Secepat apa pun mereka mencoba menyerang Arrash, tak ada satu pun yang bisa menyentuhnya. Dan dengan gerakan tak terlihat, Arrash membuat semua orang yang menyerangnya kalang kabut. Beberapa terpental menabrak tembok, beberapa ada yang jatuh menimpa meja dan membuatnya pecah berhamburan. Ada juga yang terjerembap ke lantai dengan tubuh membentur tembok. Semua meringis kesakitan. Arrash tetap berdiri tegak memandang mereka yang tergeletak tanpa daya. Sorot matanya dingin, seakan tanpa ampun. "Goblok! Bangun! Cepat habisin dia!" Melihat anak buahnya berjatuhan, sang Bos berteriak kalap. Beberapa orang mencoba berdiri dengan terhuyung. Namun, mereka terlihat gentar. Tak ada yang mampu menatap mata Arrash. Kiera terpaku diam di tempatnya. Ia tak menyangka Arrash sehebat itu. ia terbelalak saat melihat Arrash hanya dengan sekali kibasan tangan sanggup menjatuhkan beberapa orang sekaligus. Beberapa orang yang telah berdiri mencoba menyerang Arrash kembali. Arrash memutar tubuhnya dengan cepat, tendangan kakinya membuat mereka yang mencoba menyerangnya terpental jauh. Tak ada yang sanggup berdiri lagi. "Hentikan! Berlutut di lantai atau kutembak kepala gadis ini!" Arrash berbalik. Boss itu berdiri di belakang Kiera dengan tangan kirinya melingkari leher Kiera dan tangan kanannya menodongkan pistol tepat di dahi Kiera. Mata Kiera terbelalak, ia ketakutan. Mata Arrash berkilat, seperti ada bola api di tengah manik matanya. Tangannya terkepal. Tak ada yang bisa menyakiti Kiera. Ia melangkah mendekati mereka. "Stop! Selangkah lagi kutembak dia!" Laki-laki itu menggeram marah, pistolnya ia dorong kuat ke dahi Kiera. Kiera memekik ketakutan. Wajahnya pucat pasi. Air mata menetes di sisi hidungnya. Namun, Arrash melangkah tanpa ragu. Laki-laki di belakang Kiera menarik pelatuk pistolnya. Mata Kiera terpejam. "Dorrrr!!!" Pistol itu meletus dengan suara yang memekakkan telinga. Kiera menjerit. Tak terjadi apa-apa padanya. Ia meraba dahinya, lalu ia membuka mata pelan. Sontak Kiera mundur beberapa langkah dan menutup matanya. Di depannya Bos itu tergeletak dengan kaki berlumuran darah. Peluru yang ia tembakkan di dahi gadis itu tiba-tiba mengenai berbalik dan mengenai kakinya tanpa ia sadari. Arrash yang berdiri di dekatnya mengangkat kakinya dan menginjaknya tepat di bagian yang tertembak. "Jangan pernah berani menyentuhnya." Dengan tatapan dingin ia berkata pelan. Bos itu mengangguk sambil merintih menahan sakit. Arrash berbalik, menatap Kiera yang masih terlihat shock. Ia menghampiri Kiera dan memegang lengannya. "Jangan takut, semua udah selesai." Ia mengusap sisa air mata di pipi Kiera. Napas Kiera tersengal. Wajahnya masih terlihat pucat. Ia lalu membenamkan wajahnya di dada Arrash dan tiba-tiba ia merasa lemas, lalu ia tak ingat apa-apa lagi. Arrash memeluknya, lalu ia mengangkat tangannya yang bercahaya dan mengarahkannya ke semua orang yang masih menatapnya. Mereka semua tiba-tiba seperti tertidur dan tak sadarkan diri. Kemudian Arrash membawa Kiera yang masih dalam pelukannya menghilang dari situ dalam sekejap. Sesaat setelah keduanya meghilang dari situ, suara sirene meraung-raung semakin mendekat. Beberapa mobil polisi melaju dan mengepung tempat itu dengan segera. Polisi-polisi berloncatan turun dan mendobrak paksa gerbang bangunan megah itu. Tanpa perlawanan yang berarti, sebagian pengawal itu dapat ditaklukkan dengan mudah dan sebagian lainnya tengah terkapar di ruangan utama tempat Bos mereka. Namun, ada salah satu dari mereka yang berhasil melarikan diri. Ia kabur dari pintu belakang saat tersadar dan mendengar raungan sirene dari kejauhan. Ruang-ruang kecil tanpa ventilasi itu didobrak dengan paksa, beberapa perempuan muda berhamburan keluar dengan tangis lega, telah lama mereka disekap di situ dan dipaksa menuruti perintah Boss di sini. Sebagian ada yang diculik dan sebagian lain karena iming-iming uang yang banyak dengan pekerjaan yang enak. Para polisi segera mengamankan tempat ini. Sebuah mobil sport merah menepi dengan cepat dan dua orang meloncat turun, segera berlari memasuki gerbang. Lucy dan Rey. Sejak pagi Lucy panik karena Kiera tak kunjung muncul di mata kuliah tadi pagi, hal yang tak biasa dilakukannya karena kuliah pagi ini termasuk penting. Saat Lucy mencoba menghubungi handphone-nya, ia tak mengangkatnya sama sekali. Line dan WhatsApp-nya off. Lucy yang penasaran mencoba menelepon ke rumahnya, tapi Mama Kiera bilang Kiera sudah berangkat sejak pagi. Lucy yang kebingungan berdiri menunggu Kiera di gerbang depan sambil terus menerus mencoba menghubungi nomor Kiera. Rey yang baru saja datang melihat Lucy yang berkali-kali memencet handphone-nya dan selalu menutupnya dengan kesal. Saat Rey menghampirinya, Lucy menceritakan bahwa Kiera tak datang ke kampus dan tak bisa dihubungi. Rey mencoba menelepon tapi tetap saja sia-sia. Saat mereka mencoba mencari tahu kemungkinan kenapa Kiera tiba-tiba menghilang, saat itulah seorang laki-laki mendekat, mengangsurkan sebuah kamus tebal dengan nama Kiera dan menceritakan kejadian seorang gadis muda yang ditarik paksa masuk ke sebuah van warna putih. Laki-laki itu mengenal Kiera dan Lucy karena mereka berdua sering naik angkotnya saat berangkat atau pulang kuliah. Ia segera mengenali Lucy yang tengah berdiri di depan gerbang kampus bersama Rey dan segera menghampirinya. Lucy menerima kamus itu dengan tangan bergetar. Tanpa bisa dicegah air matanya tumpah dan ia tersedu. Ia tahu telah terjadi sesuatu dengan Kiera dan itu menghancurkan hatinya. Rey tak kalah kaget. Wajahnya seketika mengelam mendengar penjelasan laki-laki di depannya. Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal. Lalu ia menoleh ke arah Lucy yang tengah menutup muka dengan kedua tangannya sambil tergugu. Rey menarik Lucy ke pelukannya dan membiarkan air mata Lucy membasahi kemejanya. Tiba-tiba Laura, teman sekelas Lucy dan Kiera menghampiri mereka, ia ceritakan tentang beberapa hari yang lalu saat ia melihat seorang laki-laki bertampang sangar dengan tato di lengan dan Sheila sedang mengamati Kiera sambil mengobrol dari sini. Sheila? Sontak Rey berdiri dan berlari ke kelasnya, menghampiri Sheila dan gengnya. Rey mencengkeram kerah kemeja Sheila dan memaksanya bercerita tentang laki-laki yang berbicara dengannya di depan gerbang kampus. Dengan ketakutan dan berurai air mata Sheila akhirnya bercerita setelah Rey mengancam akan melaporkanya ke polisi. Saat itulah Rey tahu laki-laki itu adalah Bang Somad. Rey mendorong Sheila hingga terjatuh ke lantai dan mengancam akan membuat perhitungan dengannya kalau sampai terjadi sesuatu dengan Kiera. Dengan cepat Rey menghubungi omnya yang merupakan seorang komisaris polisi. Om Rey segera menerjunkan anak buahnya untuk mencari tahu segala sesuatiu tentang Bang Somad. Tidak terlalu susah karena Bang Somad merupakan preman terkenal dan bekas narapidana yang sering keluar masuk penjara. Seorang anak buah Bang Somad ditangkap dan dipaksa mengaku tentang rencana Bang Somad. Setelah babak belur, ia akhirnya menceritakan tentang bisnis sampingan Bang Somad menjual gadis-gadis muda dari kampung untuk dijadikan pelacur di sebuah tempat hiburan terkenal di ibukota. Rey juga meminta bantuan salah seorang ahli IT untuk melacak handphone Kiera. Itulah yang akhirnya membuat mereka berdua ada di sini. Lucy menatap sekeliling dengan panik. Rey berlari ke dalam. Tiba-tiba seorang polisi keluar dari sebuah ruangan dengan membawa sebuah tas. Lucy berlari dan merebut tas itu. Benar, tas milik Kiera. Lucy membuka tas itu dan menumpahkan semua isinya. Handphone Kiera ada di situ, juga selembar saputangan berwarna putih. Lucy membuka handphone Kiera cepat sambil tangannya menggenggam erat saputangan putih itu. "Lucy..." Lucy menoleh dan ia berteriak sambil menutup mulutnya melihat tatapan kosong Rey dan wajah pucatnya dengan sesuatu di tangan kanannya. Kemeja Kiera yang robek dan tanpa kancing. Lucy berlari mengambil kemeja itu cepat dari tangan Rey, mendekapnya di dada. Ia terduduk di tanah dengan wajah penuh air mata. Tuhan... tolong Kiera. Selamatkan Kiera, Tuhan... tangisnya dalam hati. Ia sangat menyayangi Kiera. Di belakangnya Rey meremas rambut ikalnya dengan gusar. Ia telah menelusuri setiap kamar dan lorong namun tak ditemukannya sosok Kiera. Beberapa pengawal yang babak belur yang sekarang sudah sadar tak bisa menjawab apa-apa seperti orang kebingungan saat diinterogasi polisi. Sang Bos yang sudah tak sadarkan diri karena kehilangan banyak darah segera dibawa ke rumah sakit. "Cari di sekitar sini, jangan sampai ia lolos..." Rey menghampiri seorang kepala polisi yang baru saja memberikan instruksi pada beberapa anak buahnya. "Gimana, Pak? Di mana teman saya?" "Belum ditemukan gadis dengan ciri-ciri seperti teman kamu. Sabarlah, kami akan terus mencari." Kepala polisi itu menepuk pundak Rey lalu kembali masuk. Rey menggeleng dengan putus asa. "Shit!" Ia meremas rambutnya sekali lagi sambil memejamkan mata. Mukanya terlihat kusut. Lalu ia menghampiri Lucy yang masih tergugu sambil memeluk tas dan kemeja Kiera. Ia menariknya ke pelukannya. Tangisan Lucy pecah di dada Rey.*******************************Mata Kiera mengerjap dan terbuka pelahan. Pipinya terasa dingin. Ia meringis karena merasa keningnya berdenyut sakit. Ia meraba keningnya dan melihat sekeliling dengan bingung. Ia terbaring beralaskan selimut tebal dengan rumput hijau halus di bawahnya. Kiera tersentak dan dengan segera ia duduk tegak. Pandangannya menyapu ke sekeliling. Sebuah bukit hijau dengan pepohonan rindang di belakangnya. Dan... Ohhh! Ada sebuah danau di bawah sana dengan airnya yang bening dan tenang yang memantulkan bayangan biru langit dan awan putih berarak. Sungguh indah. Kiera menatap sekelilingnya dengan terkesima. Hal terakhir yang ia ingat ia tiba-tiba merasa lemas dan Arrash memeluknya. Arrash? Kiera menoleh dan ia menemukan sosok Arrash tengah bersandar di sebuah pohon tak jauh dari tempatnya duduk, tersenyum dan menatapnya. Kening Kiera berkerut. Jadi Arrash yang membawanya ke sini? Tapi ini di mana? "Gimana, udah enakan? Tadi kamu pingsan." Arrash beranjak pelan menghampirinya. "I'm okay. Tapi... ini di mana?" Kiera menatap Arrash yang berdiri menjulang di sampingnya. Arrash menunduk dan berjongkok di depan Kiera, menyentuh lembut pipinya yang dingin. Udara di sini terlalu dingin sampai Kiera sedikit menggigil. Arrash menarik ritsleting jaket Kiera sampai ke leher agar Kiera tak terlalu kedinginan. Lalu ia duduk di samping Kiera dan memeluk pundaknya. "Ada sebuah legenda tentang danau ini. Tentang seorang anak laki-laki yang dikutuk. Dengan mendaki gunung ini dan mendapatkan mutiara pelangi, maka kutukannya akan hilang. Keteguhan hatinya mampu membuat ia mendapatkan mutiara itu. Ketika mutiara itu terjatuh di sini, terciptalah danau indah ini dan kutukan itu menghilang saat ia menyelam di dalamnya. Saat kita bersungguh-sungguh dengan apa yang kita mau, semesta akan menunjukkan jalannya dan membantu kita. Percayalah." Arrash mengelus rambut Kiera. Kiera memejamkan mata dan menyandarkan kepala di bahu Arrash. Ia merasa letih setelah semua yang terjadi. Berada di samping Arrash membuat ketenangan mengaliri setiap nadinya. Arrash mencium kening Kiera lembut. "Cerita yang menarik, tapi yang aku mau hanya bersamamu." Kiera berguman sambil membuka matanya. Sinar matahari yang menelusup dari celah dedaunan mengenai mereka berdua, sehangat degup di dada mereka. "Kita akan bersama setelah ini. Akan kulakukan segalanya untuk dapat melihat senyummu di seluruh sisa hidupku." Arrash menoleh, Kiera mengangkat kepalanya dari bahu Arrash dan menatapnya lekat. Arrash mengulurkan tangannya, menyentuh dagu Kiera dan perlahan wajahnya mendekat. Kiera memejamkan matanya. Jantung Kiera seperti berhenti berdetak saat bibir Arrash pelahan menyentuh bibirnya lembut. Cuaca di sekitar seakan tiba-tiba menjadi hangat. Kehangatan itu menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat pipinya memerah. Bibir Arrash terasa hangat dan lembut di bibirnya. Sentuhan yang hanya sesaat namun mampu membuat dadanya berdegup sangat cepat. Arrash mengangkat wajahnya dan tersenyum melihat pipi Kiera yang memerah, ia mengusapnya dan menarik kepala Kiera kembali bersandar di bahunya. Tangannya meraih tangan Kiera dan menggegamnya erat. "Aku ingin seperti ini selamanya." Mata Arrash menerawang jauh. Kiera meremas tangan Arrash. "Aku selalu memikirkanmu. Aku ngerasa kamu bukan manusia biasa. Aku nggak tahu kamu siapa, kamu di mana, tapi selalu ngerasa kamu deket, dan kamu selalu ada saat aku butuhin. Tunggu!" Kiera menegakkan tubuhnya. "Kamukah yang selama ini ngelihatin aku? Trus kayak yang selalu deket banget dan ada di mana pun aku berada? Itu kamu???" Kiera menatap Arrash lekat. "Hmm... Bisa jadi." Arrash menaikkan kedua alis matanya dan menatap Kiera lucu. "Bisa jadi?? Serius?? Trus kamu apa dong??" Mata Kiera membulat sempurna. "Vampir seperti Edward? Tapi nggak mungkin. Kamu nggak takut matahari. My guardian angel? Atau demon yang jatuh cinta padaku? Atau..." "Apa pun itu, aku hanya seseorang yang jatuh cinta padamu. Seandainya aku punya sayap dan bisa mengelilingi semesta mana pun yang aku inginkan atau bahkan bisa tinggal di surga, aku akan dengan rela mematahkannya hanya untuk bisa bersamamu. Percayalah." Arrash memegang kedua pipi Kiera dan menatapnya lekat. Kiera luruh. Kesungguhan dan kelembutan dalam mata Arrash membuatnya meleleh hingga tak sanggup berkata-kata. Rona merah menjalari mukanya dan ia hanya bisa mengangguk kecil. "Tunggulah, aku tak akan pernah meninggalkanmu setelah ini. Ada sesuatu yang mesti aku selesaikan dulu." "Nanti akan aku ajak kamu menikmati senja yang hangat di sebuah pantai yang indah. Juga cantiknya matahari yang terbit dari sebuah puncak gunung dengan lautan awan di bawahnya. Dan akan aku ceritakan semua tentangku dan rencanaku agar bisa bersamamu selamanya." Tangan Arrash membelai rambut Kiera lembut. Kiera memejamkan matanya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan membuka matanya cepat. "Gimana dengan orang-orang jahat tadi? Trus nasib perempuan-perempuan yang menjadi korban di sana?" Kiera duduk tegak dan menatap Arrash. Terlalu banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Ia teringat tempat terkutuk yang hampir membunuhnya. "Jangan khawatir. Saat kita pergi, polisi datang dan menangkap mereka semua. Perempuan-perempuan di sana sekarang aman." "Benarkah?" Mata Kiera berkerjap senang. "Benar. Dan temanmu sekarang di sana mengkhawatirkanmu." "Lucy? Rey?" "Ya, mereka berusaha keras untuk dapat menemukanmu. Ayo kita kembali, jangan buat mereka terlalu lama mencemaskanmu." "Tapi... aku masih ingin bersamamu..." Kiera memalingkan wajahnya, ia tak ingin Arrash melihat matanya. "Aku selalu bersamamu. Aku akan ada di sana tiap kali kamu membutuhkanku." Arrash kembali menyentuh dagunya dan menghadapkan ke arahnya. "Janji ya?" Ada sebuah permohonan yang tak sanggup ditolak di mata Kiera. Arrash tersenyum dan mengangguk. Kiera mengangsurkan jari kelingkingnya yang segera disambut dengan kelingking yang sama oleh Arrash. Jari kelingking mereka bertautan dan mereka saling tersenyum sambil bertatapan. "Kita pergi sekarang, yuk?" Arrash memegang lengan Kiera dan mengangkatnya. Kiera berdiri. Arrash menggenggam tangannya dan tiba-tiba Kiera seperti melayang dan tak ingat apa-apa lagi. "Kiera!!!" Pekikan Lucy mengagetkan Kiera. Tiba-tiba saja Lucy telah memeluknya erat. Wajahnya sembap dan air matanya tumpah membasahi jaket Kiera. "Lu nggak apa-apa, Kie???! Lu ke mana aja?? Gue takut lu kenapa-kenapa, Kie.." Lucy mengguncang-guncangkan tubuh Kiera yang masih belum sepenuhnya sadar pelan. Ia yang tengah terduduk lesu sambil mendekap tas dan kemeja Kiera tiba-tiba melihat Kiera berdiri seperti melamun. Setengah tak percaya dengan yang dilihatnya, Lucy segera berlari, berteriak dan memeluknya. "Lucy?" Segera setelah kesadaranya pulih Kiera balas memeluk Lucy erat. Kedua sahabat itu saling berpelukan. "Kie, lu nggak apa-apa?" Rey yang melihat dari kejauhan berlari dengan langkah lebar menghampiri mereka. "Gue nggak apa-apa, Rey..." Kiera menghapus sisa air mata di pipinya, mencoba tersenyum dan memegang tangan Rey. "Oh God... thanks..." Lucy kembali mendekap Kiera. "Syukurlah... We're worried, Kie..." Rey mengusap puncak kepala Kiera. Ia menghela napas lega. Kiera tersenyum haru menatap dua sahabat terbaiknya yang terlihat kacau. "Arrash... mana Arrash?" Kiera teringat Arrash. Matanya berputar mencari ke sekeliling namun sosok itu tak terlihat di mana pun. "Lu... ama Arrash Kie?" Kening Lucy berkerut melihat Kiera yang kebingungan mencari sosok Arrash. "Siapa Arrash?" Rey di sebelahnya menyipitkan matanya mendengar nama yang baginya asing itu. "Arrash... dia..." Kiera menggigit bibirnya. Ia tahu Arrash telah menghilang dari sini. "Malaikat pelindung Kiera." Lucy meringis lucu. "Ada gitu?" Rey menaikkan alisnya tak percaya. "Arrash lagi yang nyelametin elu, Kie?" Lucy memegang bahu Kiera. "Hmm? sepertinya begitu. Ntar gue ceritain deh." Kiera tersipu sambil kembali memeluk Lucy. Raut muka Rey berubah mendengar percakapan mereka tentang Arrash. Ada kekecewaan di sudut matanya yang tak bisa ia tutupi. Namun, ia berusaha tersenyum. Bagaimanapun juga ia merasa lega Kiera baik-baik saja. "Oh ya, gimana kondisi di sini? Udah diamanin semua ama polisi?" Kiera melihat sekeliling. Para polisi keluar masuk dan melakukan olah TKP. "Udah Kie, semua udah dibekuk, jangan khawatir." Rey menyilangkan tangannya di dada sambil ikut mengamati orang-orang yang lalu lalang. "Termasuk Bang Somad?" "Polisi bilang ada salah seorang yang kabur dan dari ciri-cirinya sepertinya Bang Somad." Rey menjawab ragu. "Ohhh..." Kiera menggeleng dan wajahnya memucat mendengarnya. Ia meraba keningnya yang kini terasa sakit lagi. Semua karena Bang Somad. "Kie... kening kamu kenapa bisa luka kayak gini?" Lucy menyibakkan rambut yang menutupi kening Kiera dan dengan panik ia menatap luka dan lebam di wajah Kiera. "Bang Somad, Cy. Such a monster..." Mata Kiera mengerjap sedih. "Shit!" Rey mengangkat dagu Kiera dan memaki dengan marah melihat kening Kiera yang masih berdarah. "Gue bakal bikin perhitungan kalau ketemu dia." Muka Rey berubah kelam. "Trus Bang Somad di mana sekarang, Rey?" "Dia kabur, Kie. Tapi polisi menembak kakinya, jadi lu nggak perlu khawatir. Dia nggak bakal bisa gangguin elu lagi." "Syukurlah. Ngeri banget Rey, Cy. Dia ternyata punya dendam ama gue gara-gara kejadian beberapa tahun yang lalu." Mata Kiera menerawang. "Dendam apa, Kie?" Lucy menatap Kiera penuh ingin tahu. "Tar abis ini lu ceritain semua ke kita. Sekarang kita obatin dulu luka lu. Ayo..." Rey menggandeng lengan Kiera. "Oke." Kiera menatap Lucy, Lucy mengangguk, menggenggam tangan Kiera. Mereka berjalan perlahan ke mobil Rey. Saat melewati sebuah ruangan, Kiera melihat seorang gadis muda yang tengah menatapnya sambil mengangguk dan tersenyum seperti mengucapkan terima kasih. Wajahnya terlihat lega. Kiera melambaikan tangannya dan balas tersenyum. Ada banyak gadis muda yang terselamatkan dengan terbongkarnya kasus ini. Kiera menarik napas lega, memeluk lengan Rey dan menggenggam tangan Lucy.Akhir Cerita Diki Diki berjalan tergesa. Hari ini cuaca sedikit mendung. Diki memandang langit dan tersenyum. Ia suka cuaca hari ini yang bersahabat, tak sepanas hari-hari sebelumnya. Bukan itu saja yang membuat senyumnya merekah, Rara membuktikan kemampuanya dengan terus melaju ke tahap-tahap selanjutnya dan menyisihkan peserta-peserta yang lain. Suara emasnya ditambah dengan latihan rutin di bawah asuhan penyanyi profesional membuat juri selalu terkesima dengan penampilannya. Namun, semakin ia maju ke babak selanjutnya, semakin ketat persaingan di antara para peserta. Masing-masing dari peserta mempunyai kelebihan masing-masing. Malam ini adalah babak penentuan siapa saja yang bisa masuk ke grand final aman. Pihak stasiun TV kemarin telah menghubungi keluarga para peserta untuk datang dan menyaksikan secara langsung acara yang mendebarkan itu. Mereka memutuskan akan datang, Ibu, Vina dan Diki. Sejak Rara muncul di TV, tetangga berbondong-bondong datang ke rumah. Mereka berkumpul dan menonton bersama saat Rara tampil. Semua orang membicarakan tentang Rara. Rara berhasil membuat bangga keluarga kecil mereka. Diki bersiul kecil. Ia melihat sekeliling dengan raut muka berseri. Perempatan lampu merah yang biasanya ramai sekarang menjadi sedikit sepi. Hanya ada beberapa anak yang berdiri sambil menenteng gitar lusuhnya, itu pun Diki tak begitu mengenalnya. Anak-anak yang Diki kenal sebagian telah masuk sekolah di yayasan milik keluarga Rey. Diki masih ingat saat beberapa dari mereka berangkat sekolah dan saat melewati rumahnya mereka berteriak dan tertawa lebar memamerkan seragam baru serta tas dan sepatu. Mereka tampak sangat bangga dan bahagia, seakan-akan masa depan ada di genggaman mereka. Ria juga tak kalah panik saat hari pertama sekolah. Ia lari ke rumah dan meminta Ibu menyisir dan mengepang rambutnya. Berkali-kali ia mematut dirinya di depan cermin dengan gugup. Ada kebahagiaan dan juga kegugupan di wajahnya. Lalu setelah Diki meyakinkanya berkali-kali juga, ia baru mau berangkat. Ia menginginkan Rara ada saat hari pertama sekolah namun ia tahu itu tak akan mungkin karena Rara ada tempat lain yang akan membawa mimpinya mengarungi sebuah dunia yang tak terbayangkan sebelumnya. Ria selalu bertukar kabar denganya melalui handphone yang Rey berikan untuk Diki. Rara berjanji akan sekolah lagi saat semua urusannya selesai. Dan Diki, ia akan menunggu Rara menyelesaikan kompetisi itu dan akan bersekolah lagi dengannya. Sementara ini ia mesti mengumpulkan uang untuk Ibu menambah dagangan di kios kecilnya. Sekitar sebulan lagi, rumah Rey yang tengah direnovasi selesai. Ibu, Vina serta dirinya akan diajak tinggal di sana. Ibu yang akan membantu mengurus dan membersihkan rumah sementara Diki bisa membantu merapikan kebun atau tanaman. Pernah Diki diajak melihat rumah itu dan Diki tercengang melihat betapa besar dan luas rumah itu. Diki merasa tenang sekarang. Tak ada lagi yang merisaukan hatinya, kecuali batuk dan sakit di dadanya yang semakin sering dirasakan namun tak begitu ia hiraukan. Ia terus berjalan, dan saat ia menengok ke depan sebuah kios rokok dan minuman ringan, ia berhenti sejenak. Di tempat itu Bang Somad biasanya duduk memanggil anak-anak dan meminta paksa uang hasil mereka mengamen. Kali ini tempat itu kosong. Sejak kejadian yang menimpa Kiera, tak terlihat lagi batang hidung Bang Somad. Mungkin ia telah jera dan pergi jauh. Namun, polisi masih memburunya. Diki menghela napas. Kasus yang menimpa Kiera membuatnya sedih. Ia sempat berteriak marah dan hampir memukul tembok saat Kiera menceritakan tentang perlakuan Bang Somad padanya. Kiera-nya yang sangat ia banggakan, yang membuat anak-anak di sini kembali bermimpi, diperlakukan begitu kejam oleh Bang Somad. Untunglah ada seseorang yang menyelamatkanya. Kalau tidak, ia tak peduli akan jadi apa tapi ia akan mendatangi Bang Somad untuk membuat perhitungan. Ia tak pernah takut dengan hal itu. Ia akan membela semua orang yang berharga dalam hidupnya semampu yang ia bisa. Kiera, Lucy, Rey, mereka semua malaikat buat Diki, Rara dan semua anak-anak di sini. Tanpa mereka, mungkin Diki dan anak-anak sini masih berpanas-panasan mengamen demi sedikit uang yang sebagian akan dirampas Bang Somad. Diki memejamkan matanya sejenak dan kembali berjalan. Daerah sini sekarang aman. Saat ia berjalan ia melewati sebuah toko boneka di pinggir jalan, ia berhenti dan melihat dari luar. Ia tersenyum saat meilhat satu yang ia rasa cocok. Ia ingat saat semalam berbincang dengan Rara, ia merengek kesepian karena mesti tidur sendiri di asrama tempat ia dikarantina. Diki akan membelikan sebuah boneka beruang untuk Rara. Dari dulu Rara menginginkan sebuah boneka, seperti gadis-gadis kecil sebayanya, yang bisa ia peluk saat tidur. Ia selalu menjerit gemas tiap kali melewati toko boneka dan melihat boneka kesukaanya di sana. Pernah ia menyeret lengan Diki ke sebuah toko boneka hanya untuk menunjukkan boneka kesukaannya. Waktu itu Diki hanya tertawa sambil meledeknya karena tak mungkin mereka bisa membeli boneka itu. Diki merogoh kantong celananya, ia tersenyum karena ia telah mengumpulkan lumayan banyak untuk boneka itu. Kurang sedikit lagi dan angkanya akan tepat seperti yang tertera di bawah boneka itu. Itulah yang membawa langkah Diki ke pertigaan tanpa lampu merah yang lumayan ramai. Ia akan menggenapi sedkit kekurangan dari situ. Dengan langkah ringan Diki mulai berdiri di tengah-tengah pertigaan, sibuk berteriak dan melambaikan tangannya ke segala arah, berusaha mengatur kendaraan yang melintas padat. Tak dipedulikannya asap dan debu yang masuk ke hidung dan paru-parunya. Tiap kali asap knalpot menyapu wajahnya ia terbatuk, dan segera ia keluarkan saputangan dari kantongnya karena ia tahu akan ada bercak-bercak darah yang keluar saat ia terbatuk. Dadanya serasa terimpit. Namun Diki tak peduli, ia terus berteriak dan tubuh kurusnya tenggelam di antara puluhan kendaraan yang melintas. Diki tersenyum puas. Ia merogoh kantong celananya. Setelah dihitung, uang itu lebih dari cukup untuk harga boneka yang ingin ia beli untuk Rara. Ia ingin membeli boneka itu setelah ia selesai dengan jokiannya. Namun sayang sekali, toko itu telah tutup saat ia ke sana. Ia akan membelinya nanti saat berangkat. Diki berjalan agak terburu-buru. Sebentar lagi Magrib dan sehabis magrib nanti Rey akan menjemput mereka untuk pergi bersama menyaksikan secara langsung pertunjukan Rara. Mereka akan pergi bersama dengan Kiera, Lucy, Ibu dan Vina. Diki merasa sangat bersemangat. Ia berlari kecil memasuki ujung gang ke rumahnya. Namun, tiba-tiba ia berhenti. Dadanya terasa sangat sakit. Ia menunduk dan memegangi dadanya. Lalu ia mengatur napas. Setelah sakit di dadanya agak berkurang, ia melanjutkan langkahnya pelan. Kening Diki mengernyit melihat pintu rumah yang terbuka lebar. Samar ia mendengar suara laki-laki di dalam rumah. Bapak. Diki berjalan cepat masuk ke rumah. Namun, langkahnya terhenti di tengah pintu. Ada pemandangan yang ganjil di dalam rumah. Sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Di kursi satu-satunya di tengah ruangan Bapak duduk terpekur, menunduk memandang lantai dengan bahu merosot. Dan wajahnya, ohhh... Tak terlihat sama sekali kegarangan yang selalu ia tunjukkan di depan mereka. Wajah itu terlihat sayu dengan raut penyesalan. Ibu yang duduk di depannya tampak memperhatikan Vina yang tengah bermain dengan mainannya di dekat Bapak. "Aku tahu aku selama ini keterlaluan, cuma bisa nyusahin kalian. Aku minta maaf untuk itu." Bapak berkata lirih sambil mengangkat wajahnya menatap Ibu. Diki terpaku setengah tak percaya dengan pendengarannya. Bapak yang biasa membentak dengan suara menggelegar, yang matanya selalu melotot merah, kini berbicara dengan pelan dan menatap Ibu dengan pandangan sayu. "Sudahlah, Pak, tak perlu minta maaf sama Ibu. Cobalah bicara dengan Diki dan Rara, mereka yang kecewa dengan sikap Bapak." "Iya, aku tahu telah ngecewain mereka." Mata Bapak menerawang mengingat tingkah kasarnya saat menempeleng Diki dan merobek baju Rara. Rara kini telah menjadi bintang, dibicarakan semua orang. Bahkan orang-orang di terminal dan di pasar tempat Bapak biasa mangkal pun semua membicarakannya. Seorang anak kecil tanpa latar belakang pendidikan yang bersuara emas. Bapak hanya bisa termenung dan menyesali perbuatannya mendengar segala pujian untuk Rara. "Bu..." Diki melangkah masuk dengan ragu. "Diki... sini, Nak..." Ibu berdiri dan menyuruh Diki duduk di bangku yang tadi di dudukinya. "Diki... Kamu udah pulang?" Bapak menegur Diki lembut. "Udah, Pak." Diki menjawab kaku tanpa menatap Bapak. "Diki... Bapak mau minta maaf atas semua tingkah buruk Bapak ke kamu dan Rara. Bapak hanya menuruti nafsu saja. Bapak salah. Maafin Bapak ya, Nak?" Bapak berdiri dan menghampiri Diki, memegang bahunya. Diki menghela napas. "Iya, Pak. Tapi Bapak harus janji untuk berubah, Pak. Kasihan Ibu, Rara dan Vina." "Bapak janji untuk jadi seseorang yang layak kalian panggil Bapak. Bapak nggak akan ngecewain kalian lagi." Bapak meremas bahu Diki lembut. "Makasih, Pak, Diki bakal pegang kata-kata Bapak." Diki mendongak menatap Bapak dan memegang tangan Bapak di bahunya sambil tersenyum. Di sebelahnya Ibu tampak menyeka air mata dengan ujung jari. Tampak kelegaan di wajah letihnya. "Makasih, Nak, sayang Rara nggak di sini. Bapak berutang maaf padanya." Mata Bapak menerawang penuh penyesalan. "Oh ya, Pak, malam ini kita diundang buat dateng ke studio 4 tempat Rara tampil. Bapak ikut ya?? Pasti Rara bakalan seneng lihat kita semua ngumpul. Ya kan, Bu??" Diki menatap Ibu dengan mata berbinar. "Ohh.. iya, kita bisa dateng sama-sama. Ayo siap-siap," Ibu tersenyum. Menghampiri Vina dan menggendongnya. "Bapak boleh dateng?" Bapak tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. "Iya ,Pak! Kita semua bakal dateng, Rara pasti seneng banget." Diki mencubit pipi Vina di gendongan Ibu. Vina cemberut kesal. Diki tertawa lebar. "Wah, Bapak nggak bakal sia-siain kesempatan ini. Bapak pengin ketemu Rara." Bapak mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyum menghiasi bibir. "Tapi Bapak mesti nyari baju dulu buat ke sana. Acaranya jam 8 kan? Bapak tahu studio 4. Nggak begitu jauh dari sini. Nanti Bapak nyusul kalian di sana ya? Ada nomor yang nanti Bapak bisa hubungin, Diki?" "Ada, Pak, ini nomor Diki." Diki mengangsurkan handphone dan Bapak segera mencatat nomor yang tertera di layar dengan handphone-nya. "Baiklah, kalau gitu Bapak pergi dulu. Nanti kita ketemu di sana." Bapak berdiri dan menepuk pundak Diki, mencium pipi Vina yang segera melengos dan tersenyum menatap Ibu. "Iya, Pak, sampai ketemu di sana." Ibu balas tersenyum menatap Bapak. Lalu bapak melangkah keluar diiringi senyum lega Diki dan Ibu. "Diki mau mandi dulu ya, Bu? Soalnya ada yang mesti Diki beli habis ini. Kalau misalnya Diki belum balik trus Kak Rey udah jemput, Ibu berangkat aja ya bareng mereka. Diki bisa naik angkot nanti ke sana." "Emang nggak apa-apa Diki ke sana sendiri?" Ibu menatap Diki setengah khawatir. "Kan Diki udah pernah, Bu, ke sana. Ya nggak apa-apalah." Diki menyeringai lucu. "Baiklah kalau gitu. Tapi hati-hati ya?" Ibu mengusap kepala Diki sayang. "Iya, Bu. Diki mandi dulu ya." Diki beranjak dan masuk ke kamar mandi. Saat menutup pintu kamar mandi ia terbatuk dan sakit di dadanya kembali terasa. Diki bersandar di pintu kamar mandi sambil menyeka bercak merah di bibirnya. Ia menunduk, memegang dadanya. Saat mendongak ia seperti melihat sesuatu yang seperti mengawasinya. Namun ia berusaha tak memedulikanya. Setelah sakitnya berkurang, ia mengambil gayung dan menyiram tubuhnya. Dingin air yang merambat ke pori-pori kulitnya membuatnya kembali segar.**************************** Diki mendekap boneka beruang yang lumayan besar itu erat di dadanya. Tadi saat ia masih menunggu toko boneka itu buka Rey meneleponya dan bilang ia ada di rumah bersama Kiera dan Lucy. Rey menanyakan di mana ia berada dan ingin menjemputnya biar bisa berangkat bersama. Tapi Diki menolak, ia meminta Rey berangkat duluan bersama Ibu dan Vina dan nanti ia akan menyusul karena masih ada sesuatu yang mesti ia kerjakan. Untunglah mereka memperbolehkan. Setelah toko itu buka, Diki langsung menghampiri boneka yang ia cari dan membayarnya. Ia segera menyetop metromini ke arah studio 4 dan duduk sambil memeluk boneka di dadanya. Diki merogoh handphone di kantongnya dan melihat jam di situ. Ia mengembuskan napas kesal. Metromini yang ditumpanginya berjalan sangat lambat, bahkan berhenti cukup lama di depan sebuah mall menunggu penumpang sampai penuh. Sudah hampir jam 8 dan ia masih di metromini yang tak kunjung berangkat. Diki hanya bisa memeluk boneka beruang itu dan membayangkan Rara yang akan melompat gembira menerima hadiah itu darinya. Bibirnya tersenyum membayangkan mata bulat Rara yang akan berbinar melihat boneka yang diimpikanya. Ia menarik napas lega karena akhirnya metromini itu berjalan pelan. Pasti Ibu dan rombongan mereka sudah sampai, pikirnya. Lalu lintas tidak terlalu ramai, namun metromini itu dirasakan Diki berjalan sangat lambat. Mesinnya yang sepertinya tua meraung dan mengeluarkan suara berisik disertai dengan asap pekat yang keluar dari knalpot. Tiba-tiba saja setelah keluar bunyi seperti tersedak, metromini itu berhenti berjalan. Sopirnya berusaha menghidupkan mesinnya berkali-kali namun gagal. "Wah, bentar ya gue periksa dulu." Sopir dan kenek metromini itu membuka papan di sebelah kursi penumpang di bagian depan. Handphone Diki bergetar. 'Diki di mana? Acara udah mulai. Ada Bapak juga nih.' 'Bentar, Kak, metromininya lambat banget nih.' 'Buruan ya...' 'Oke, Kak.' Setelah membalas pesan Rey, Diki memasukkan kembali handphone ke kantongnya. Ia bergerak-gerak dengan gelisah. Sudah hampir jam 9, ia telat. Ia tak ingin ketinggalan momen saat mereka semua bisa bertemu Rara. Kehadiran Bapak juga membuat Diki bersemangat. Diki berdiri dan melongok ke arah sopir dan kenek yang masih berkutat dengan sesuatu di bawah sana, ia sudah tak sabar lagi. Diki menatap sekeliling. Studio 4 tak begitu jauh dari sini. Ia menerobos beberapa orang yang tengah berdiri di tengah-tengah jalan, merogoh kantongnya, dan memberikan beberapa lembar ribuan ke kenek dan meloncat turun. Setengah berlari ia menyusuri trotoar yang malam ini ramai dengan para pejalan kaki yang sebagian baru pulang kerja, pedagang asongan dan pengamen atau pengemis yang menghabiskan harinya di jalanan. Ia sempat melirik riuh orang di sebuah kafe outdoor dengan layar proyektor lebar di ujung ruangan. Di layar itu terlihat Rara yang sedang berbincang dengan para presenter yang lucu. Rara tampak cantik malam ini dengan gaun berwarna oranye cocok dengan sepatu kremnya. Diki berhenti sebentar menikmati senyum Rara yang tengah disorot kamera. Sangat cantik. Ia menjadi pusat perhatian semua orang. Bahkan beberapa orang di kafe tampak membicarakannya. Diki tersenyum bangga dan sambil memeluk boneka di tangannya ia melanjutkan langkahnya. Sebentar lagi Rara akan tampil. Ia harus sampai di sana. Studio 4 sudah tampak di kejauhan. Diki mempercepat langkahnya. Setelah berlari hampir selama 5 menit akhirnya Diki sampai di seberang gedung stasiun TV ternama itu. Studio 4 ada di dalamnya. Diki berhenti sebentar, ia mengatur napasnya yang memburu setelah berjalan setengah berlari tadi. Ia terbatuk sejenak, namun ia hanya menutup mulutnya. Ia berdiri, menengok kanan kiri jalan yang lumayan ramai dengan berbagai macam kendaraan. Ia harus menyeberang untuk sampai di studio 4. Setelah jalanan di rasa sepi Diki mulai menyeberang dengan agak tergesa. Namun sial, saat hampir mencapai seberang tiba-tiba sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi tepat ke arahnya. Diki menghindar dan melompat cepat. Ujung spion itu mengenai bahunya dan Diki terjatuh. Dadanya membentur trotoar dengan keras. Diki mengaduh kesakitan. Ia memegangi dadanya dan terbatuk. "Kamu nggak apa-apa?" Seorang security yang dari tadi berdiri di depan gedung menghampirinya dan membantunya duduk. Ia mengernyit ngeri melihat darah yang di ujung bibir Diki. "Nggak apa-apa, Pak," Segera Diki mengelap ujung bibirnya dengan saputangan yang selalu ia bawa di kantongnya. "Tapi kamu berdarah, yakin nggak apa-apa?" Pandangan satpam itu menyelidik menyapu wajahnya. "Iya, nggak apa-apa kok. Saya mau ke studio 4, Pak." Diki meraih boneka beruang yang terpental tak begitu jauh dari ia jatuh lalu ia berusaha berdiri, masih dengan tangan yang satunya memegangi dadanya yang bertambah sakit. "Ke studio 4? Ada urusan apa?" Setengah tak percaya satpam itu memandanginya. "Saya Diki, kakaknya Rara, peserta ajang pencarian bakat yang sekarang lagi tampil." Diki berdiri tegak dan tersenyum bangga. "Benarkah?? Wah, Rara yang hebat. Saya salah satu pengagumnya. Ayo, saya antar." Satpam itu bergegas berjalan di depan Diki dengan penuh semangat. Sedikit tertatih, Diki mengikuti langkah satpam itu, dadanya bertambah sakit. Setelah menaiki lift yang membawanya ke lantai 16, Diki sampai di sebuah ruangan besar yang terasa sangat dingin. Ada sebuah televisi besar di tembok di sisi ruangan. Diki berhenti sejenak. Diki memandang televisi itu tak berkedip. "Studio 4 sebelah sini, ayoo..." Satpam itu melihat ke arah Diki yang masih memandang layar televisi tanpa berkedip. "Sebentar, Pak..." Diki menjawab lemah. Dadanya bertambah sakit. Ia terhuyung dan bersandar ke tembok. Tangan yang satunya masih erat memegang boneka besar itu dan tangan yang satunya masih menekan dadanya yang sekarang seperti terimpit. Rara telah selesai menyanyi, dan di dekatnya tampak Ibu, Vina dan Bapak. Rara terlihat kaget dengan kedatangan Bapak yang memeluknya sambil meminta maaf. Rara balas memeluk Bapak dengan linangan air mata mengalir di pipinya, juga ibu seperti biasa yang selalu menangis terlihat menyeka air mata dengan ujung jarinya. Kiera memeluk pundak Lucy dan Rey yang tersenyum bangga tersorot kamera. Rara lolos ke zona aman malam ini. "Masih ada satu orang lagi yang Rara sangat tunggu kedatanganya. Ia janji bakal datang malam ini, seseorang yang paling Rara sayang, yang rela ngorbanin segalanya buat Rara, Kak Diki." Samar ia mendengar suara manis Rara. "Gue dateng, Ra..." Diki berguman kecil sambil memejamkan matanya menahan sakit, namun ia sangat bahagia. Ia menatap layar TV yang dirasakanya semakin buram. Diki mencoba membuka matanya lebar, namun sekelilingnya menjadi semakin buram. Dan ruangan tempatnya berdiri seperti berputar. Tiba-tiba ia seperti tak bisa bernapas, dadanya bertambah nyeri dan sakit. Ia terbatuk dan ambruk ke lantai. Boneka besar di gengamannya terlepas. Bercak darah terciprat ke bagian tangan boneka itu. Satpam yang melihatnya menjerit panik. Lalu Diki melihat sesosok berpakaian hitam bercahaya menghampirinya, mengulurkan tangannya dan mengajaknya pergi. Tak ada lagi sakit yang dirasakannya. Mereka berdua melangkah masuk ke pendar cahaya di tengah ruangan. "Tidakkkkkk!!!! Kak Diki bangun!!! Jangan bercanda kayak gini, Kak... Bangun!!!" Rara memekik sambil mengguncang-guncangkan tubuh Diki. Air mata membanjiri wajahnya. Belum selesai sesi berbincang dengan keluarga tiba-tiba salah seorang kru membisikkan sesuatu ke salah seorang presenter dan presenter itu tiba-tiba mengakhiri sesi yang harusnya masih beberapa menit lagi. Salah seorang kru mengatakan sesuatu yang membuat Rara berlari secepat mungkin diikuti Bapak, Ibu dan Vina. Juga Kiera, Lucy dan Rey yang segera beranjak dari tempat duduknya melihat suasana di panggung yang tegang. "Diki..." Wajah Kiera memucat sambil mendesis mengucapkan nama Diki, tangannya menggenggam tangan Lucy erat dan tangan satunya mencengkeram lengan Rey. Lucy menutup mulutnya sambil menahan tangis. Rey mematung, terhuyung bersandar ke tembok. Dengan gemetar Bapak duduk di lantai, meletakkan kepala Diki di pangkuannya dan air mengalir dari pelupuk matanya. Ibu menjerit dan ambruk ke lantai dengan wajah bersimbah air mata saat salah seorang kru menyentuh urat nadi dan urat leher Diki lalu menggeleng sambil memejamkan matanya. Rara memeluk tubuh Diki yang terbujur kaku, tangisnya pilu, air matanya tak bisa berhenti mengalir hingga membasahi kemeja Diki yang sepertinya baru dia beli khusus untuk menemui Rara. "Bangun, Kak! Bangun! Kakak nggak boleh pergi ninggalin Rara kayak gini. Siapa yang bakal belain Rara, Kak?? Siapa yang nyemangatin Rara, Kak??? Bangun!" Masih dengan kedua tangannya yang melingkari tubuh kaku Diki, Rara merebahkan kepalanya di dada itu. Tangisnya masih sesenggukan. Bapak yang masih menopang kepala Diki di pangkuannya membelai rambut Diki. Tetes air matanya jatuh ke dahi Diki. Kiera dan Lucy segera berlari menghampiri Ibu yang terduduk di lantai dengan gemetar. Air mata yang membanjiri wajahnya. Kiera memeluk Ibu erat. Air mata tak bisa ia bendung lagi sekarang. Lucy menangkupkan tangannya di muka Vina yang ikut menangis sambil menyeka air mata yang mengalir di mata indahnya. Mata Rey berkaca, ia beranjak mengambil boneka besar yang tergeletak di lantai, duduk merosot bersandar di dinding ruangan yang terasa sangat dingin. Rey meletakkan boneka itu di depannya, memegang kedua tangan boneka itu sambil mamandanginya dengan wajah kosong dan mata berkaca. Sementara di belakang Kiera, Arrash berdiri mematung. Ingin rasanya ia menyeka air mata di pipi Kiera dan memeluknya. Ia tahu Kiera terluka. Bahkan saat ia dalam keadaan terancam pun ia tak menangis sesedih itu. Jangan bersedih, aku akan menemuimu setelah ini, aku janji. Bisiknya dalam hati. Ia menengadah, melihat warna ruangan yang berubah menjadi abu-abu dan pilu. Kiera tercekat saat ia mengangkat wajahnya dari balik bahu Ibu. Di balik air matanya ia seperti melihat sosok Arrash yang berdiri tepat di depan matanya. Ia mengusap air mata dengan punggung tangannya buru-buru. Namun, tak ada siapa pun di situ. "Arrash..." Kiera berguman lirih dalam hati. Ia membutuhkannya.Sayap yang Patah dan Jiwa yang Pergi "Ra... Udah dong sedihnya. Kita semua kehilangan Diki, Ra. Kamu nggak boleh terus-terusan kayak gini." Kiera berjongkok di depan Rara, memegang dagunya dan mengusap air mata yang jatuh di pipi Rara. Sudah seminggu namun Rara masih saja murung. Ia masih suka menangis tiba-tiba dan belum mau kembali lagi ke asrama sementara ia masih harus terus berlatih karena sebentar lagi masuk ke grand final. Pihak stasiun TV sudah menghubunginya berkali-kali, namun Rara masih enggan. Bapak dan Ibu tak bisa berbuat apa-apa untuk membujuk Rara. Mereka masih dihantui kesedihan yang sama atas kepergian Diki. Di sinilah sekarang Kiera, Lucy dan Rey, mencoba membujuk Rara yang tengah duduk melamun di teras rumahnya saat mereka datang. "Iya Ra, Diki pasti nggak mau lihat kamu kayak gini. Rara balik ke asrama lagi ya?" Lucy duduk di samping Kiera dan mengusap pundak Rara lembut. "Nggak, Kak. Rara nggak mau nyanyi lagi. Rara udahan aja, Kak. Rara nggak bisa nerusin lagi. Rara kangen Kak Diki, Kak..." Kembali air mata jatuh di pipinya. Dia tersedu sambil memeluk lutut dengan muka dibenamkan di pangkuanya. Kiera menghela napas berat. Jangankan Rara, ia saja merasa sangat sakit mesti kehilangan Diki yang selalu ceria. Tak ada yang menyangka Diki akan meninggalkan mereka secepat ini. Ia tak pernah mengeluh dan selalu tersenyum. Memang beberapa waktu terakhir-terakhir ini ia sering batuk, wajahnya pucat dan sering memegangi dada seperti menahan sakit. Namun saat ditanya, ia selalu tersenyum dan bilang ia tak apa-apa. Tak disangka ia rupanya terkena infeksi paru-paru dan sudah dalam keadaan parah. Kiera mendongak menatap Rey yang berdiri di depan mereka dengan kedua tangan di kantong jaket hoodie-nya. Rey mengangguk dan segera beranjak duduk di samping Rara. "Rara mesti ikhlasin Diki ya. Dia udah tenang di sana. Kalau lihat kamu kayak gini Diki pasti bakalan sedih. Diki selalu kuat ngadepin apa pun, Ra. Dia pasti pengin kamu juga kuat." Rara mengangkat wajahnya namun pandanganya masih kosong. "Iya, Ra... lu nggak boleh kayak gini terus. Gara-gara elu kita semua semangat buat ngejar mimpi kita. Masa elu sekarang nyerah, Ra? Kita semua bakal kecewa, Ra. Lu mesti buktiin ke kita semua kalau lu bisa jadi juara dan ngeraih mimpi elu. Tinggal dikit lagi, Ra, terusin ya pleasee..." Ria yang tiba-tiba muncul duduk di samping Rara dan memeluk pundaknya. Ia tak tega melihat sahabatnya seminggu ini terus murung dan bersedih. Rara menyandarkan kepalanya di pundak Ria. "Tapi gue masih suka keingetan kak Diki, Ri... Gue nggak sanggup tampil lagi..." "Kita semua ngerasain yang lu rasain, Ra. Tapi nggak ada gunanya juga lu kayak gini. Yang ada Ibu sama Ayah bakal lebih sedih lagi. Paling nggak lu lakuin buat Ibu, Ra. Kasihan Ibu." Ria melirik ke dalam rumah. Ibu tengah duduk di tepi tempat tidur sambil mendekap kaus milik Diki. Ia menunduk dengan mata terpejam. Bapak yang duduk di kursi di depan Ibu juga terlihat sama. Ia merenung dengan tatapan kosong. Rara mengikuti arah mata Ria dan ia semakin membenamkan mukanya di bahu Ria. Kiera mengalihkan pandanganya ke arah lain. Lucy menggigit ujung bibirnya dan Rey menghela napas berat. Tiba-tiba Rey berdiri. "Kak Rey ada ide nih! Daripada bengong di sini, kita nonton yuk?? Kak Rey bakal traktir kalian semua. Ntar abis nonton kita main di Timezone. Gimana??" Rey menangkupkan tangannya di depan dada dan menatap mereka semua dengan mata berbinar. "Ide yang bagus, Rey! Yuk, Ra??" Lucy menarik lengan Rara dengan antusias. "Wah, seru tuh. Ria boleh ikut, Kak??" "Boleh banget dong, rame-rame tambah asyik..." Rey mengedipkan matanya. "Tapi Kak..." Rara menggigit bibirnya dengan bimbang. "Udah... Nggak usah mikirin apa-apa lagi. Siap-siap gih, pamit ama Bapak ama Ibu." Kiera memegang lengan Rara, berusaha meyakinkan Rara. "Iya Ra, yuk! Gue juga mau ganti baju dulu. Tunggu bentar ya, Kak..." Ria menarik tangan Rara untuk berdiri dan mendorongnya ke dalam rumah lalu ia berlari masuk ke rumahnya sendiri. Kiera, Lucy dan Rey saling berpandangan dan tersenyum. Kali ini mereka berhasil membujuk Rara. Setelah semua siap mereka berpamitan dengan Bapak Ibu, mereka segera berangkat. Bapak dan Ibu memandang kepergian mereka dari pintu dengan mata berkaca. Semua berjalan sesuai apa yang mereka inginkan. Setelah nonton sebuah film yang menegangkan, mereka bermain di Timezone. Ria kerap menggoda Rara dan membuatnya tertawa lebar. Kiera dan Lucy memindah-mindahkan kakinya dengan cepat di sebuah permainan dance sambil terbahak. Rey asyik di atas sepeda motor balap dan adu kecepatan di situ. Sesosok tubuh yang berdiri dengan tangan di dada tampak tak terganggu sedikit pun dengan kebisingan di arena itu. Matanya tak lepas mengamati Kiera yang terus bercanda dan tertawa dengan Lucy. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman. Ia lega bisa melihat tawa Kiera kembali. Saat Kiera tiba-tiba menoleh ke arahnya, tatapan mereka bertemu. Dan seperti biasa, Kiera hanya bisa mematung karena ia tentu saja tak bisa melihatnya namun bisa merasakannya. Perlahan ia menghampiri Kiera dan berdiri tepat di belakangnya, sangat dekat sehingga ia bisa menghirup wangi rambut Kiera. Kiera yang tengah membidik target di layar di depannya dengan sebuah tembakan di tangan tiba-tiba membeku. Dengan cepat ia menoleh ke belakang, namun tak ada siapa pun di situ. Selalu seperti itu, selalu saja ia merasakan kehadiran sosok itu di mana pun ia berada. Arrash. Kiera memejamkan matanya dan berguman dalam hati. Ia tetap membeku di tempatnya berdiri sampai sesaat kemudian Arrash perlahan menjauh. Kiera pun kembali tersadar lalu ia menghela napas panjang. Tiba-tiba Lucy menyentuh bahunya dan menaikkan dagunya menunjuk ke arah Rara yang tengah mematung dengan pandangan kosong di depan sebuah boneka beruang. Boneka yang sama dengan yang Diki beli untuknya, yang membuat ia pergi untuk selamanya saat akan memberikan boneka itu untuknya. Kiera menoleh ke arah Rey, rupanya Rey juga tengah memperhatikan Rara. "Ra, lihat deh!" "Ra!" Teriakan Ria tak mampu mengalihkan pendangan Rara. Ia tetap mematung di depan boneka itu. Setetes air mata jatuh di pipinya. Ria yang kesal karena tak diacuhkan Rara membuka mulut hendak berteriak sekali lagi, tapi tiba-tiba tercekat saat melihat Rara mematung seperti itu. Ia mengalihkan pandangannya yang mulai berkaca. Kiera menaruh tembakan yang ia pegang ke tempatnya dan beranjak menghampiri Rara. "Udahan yuk? Kita makan dulu semua..." Ia melihat ke arah Lucy dan Rey yang menghampiri Rara di saat bersamaan. "Iya, laper nih..." Lucy meringis dan memegang perutnya. "Dasar tukang makan! Laper mulu dah bawaannya." Kiera membulatkan mata ke arah Lucy. Lucy menjulurkan lidahnya. Rey tersenyum. "Ada tempat makan seru di sekitar sini, yuk semuanya?" Rey mengangkat dagunya, mengajak pergi. "Yuk, Ra!" Ria tiba-tiba saja menyambar lengan Rara, menggamitnya dan mengajaknya beranjak dari situ. Mereka semua berjalan mengikuti Rey masuk ke sebuah kafe di dekat pintu masuk bioskop. Kafe di lantai teratas mall itu terlihat cozy dengan banyak pepohonan rindang dan langit terlihat karena hanya beratap fiber yang tembus pandang di atasnya. Ada panggung kecil dengan berbagai alat musik di sudutnya dan juga sebuah televisi berlayar besar di dindingnya. Mereka lalu duduk di sebuah sudutnya dan memesan makanan. Rara masih terlihat sedih dan ia hanya melihat makanan yang dipesannya tanpa selera. Tak dihiraukanya Ria yang terus mengajaknya bercanda. Mereka makan dengan diam. Saat itulah tiba-tiba televisi di depan mereka menayangkan siaran ulang ajang pencarian bakat yang diikuti Rara. Rara mengangkat wajahnya dan dengan serius ia menatap ke layar televisi. Tampak di situ ia bernyanyi dan semua juri serta penonton terlihat terpesona dengan suaranya. Rara melihat ke layar televisi tanpa berkedip. Ia menegakkan tubuh saat melihat komentar masyarakat yang mendukungnya, juga beberapa anak muda yang terinspirasi dari kisahnya. Mata Rara berkaca. Ia baru sadar bahwa ternyata ia begitu berarti. Bahkan untuk orang-orang yang tak dikenalnya. Mereka semua peduli padanya. "Kak..." Tanpa mengalihkan pandanganya dari televisi tangan Rara mencari tangan Kiera yang duduk di sebelahnya dan menggengamnya erat. "Iya, Ra?" Kiera menatap Rara. "Rara mau balik lagi ke asrama, Kak. Rara mau nyanyi lagi. Rara mau berusaha sekuat tenaga untuk bisa jadi juara. Demi Kak Diki, Bapak, Ibu, Vina dan semua orang yang udah ngedukung Rara. Rara harus jadi juara, Kak..." Rara berucap pelan setengah terbata namun terdengar jelas ada semangat di setiap kata yang diucapkanya. Mereka berempat berpandangan dengan senyum terukir di masing-masing bibir. "Tentu saja, Ra, kamu pasti bakal juara. Kita semua percaya ama kamu." Lucy yang duduk di depan Rara membungkuk dan memegang bahu Rara. "Itu baru Rara yang gue kenal!" Ria berseru dan bertepuk tangan dengan tawa lebar di bibirnya. "Sip! Gitu dong calon penyanyi terkenal! Kak Rey bangga ama kamu. Ntar malem Kak Rey anterin kamu ke asrama." Rey mengangkat tangannya ke atas yang disambut Rara dengan tawa. Lalu ia menghapus sisa air mata di sudut matanya dengan punggung tangannya. ereka berlima segera berbincang dengan penuh semangat tentang bagaimana agar Rara bisa tampil dengan sempurna beberapa malam lagi di grand final. Matahari berangsur bergerak pelahan ke ufuk barat. Sudah hampir senja. Mereka kembali ke rumah sambil bergandengan tangan dengan senyum yang tak henti mereka tebarkan sepanjang perjalanan. ***************************** Sementara itu, di bawah langit jingga di tepi lautan yang berpasir putih dengan pantulan semburat warna-warni di biru airnya, sesosok tubuh yang sedari tadi berdiri diam perlahan beranjak masih sambil menatap langit seakan ingin menikmati senja di situ untuk terakhir kalinya. Esok semua akan berbeda. Mungkin ia tak akan bisa lagi ke sini atau ke sini sebagai wujud yang berbeda. Dengan detak yang berbeda. Ia membuka tangannya dan tersenyum melihat secarik kertas dengan tulisan tangannya di situ. Secarik kertas yang akan menjadi titik balik kehidupannya. Ia menggenggam erat kertas itu. Masih dengan senyum di bibirnya, ia melesat dan hilang di balik kabut di antara karang-karang terjal.*****************************"Kie! Makan yuk!" Kiera masih mengaduk-aduk isi lemarinya saat sang Mama berteriak dari ruang makan. "Bentar, Ma! Kie lagi nyari baju nih..." Tanpa memedulikan teriakan Mamanya, Kiera terus melanjutkan kegiatannya. Ia masih bingung hendak memakai baju yang mana. Malam ini pertunjukan grand final untuk Rara. Dia, Lucy, Rey, Ibu dan Bapak Rara menjadi tamu VIP. Jadi malam ini dia harus memakai gaun terbaik yang ia punya. Bukan itu saja, ada hal lain yang membuatnya ingin tampil istimewa malam ini. Pandangan Kiera terhenti di sebuah gaun putih tanpa lengan pas di pinggang yang sedikit lebar di bagian bawahnya dan renda cantik di ujungnya. Gaun yang ia beli di sebuah butik di Bandung beberapa waktu lalu saat liburan. Kiera meraih gaun itu, mematutkanya di depan cermin lalu tangannya menyambar jaket denim fit body di gantungan lemari dan menempelkanya di badan. Pas sekali, pikirnya sambil tersenyum. Ia meletakkan gaun itu di tempat tidur dan setengah berlari menghampiri Mamanya. "Kelamaan, Kie. Ngapain aja sih?" "Hari ini grand final, Ma. Kie mesti pakai baju keren, jadi Kie lagi pilih-pilih baju tadi." Kiera tersenyum manja menatap mamanya. Mama mengacak rambut Kieranya sayang. "Ya udah, makan yuk sekarang. Mama udah siapin nih." "Oke, Ma. Tunggu bentar Ma, Kie lupa gantungin baju Kie." Kiera mengusap lengan Mamanya dan segera lari ke kamar. Mama tersenyum dan berdecak melihat kelakuan anak gadisnya. Kiera merapikan gaunnya dan menggantungnya dengan cepat. Tiba-tiba handphone-nya bergetar. 'Lazy girl! Udah siap-siap lom?' Sebuah pesan di Line. Siapa lagi kalau bukan Lucy. 'Menurut lo?' Balasnya dengan emot seringai. 'Huh... Pasti lu lom ngapa-ngapain. Buru! Rey Line gue mo jemput abis ini, kalo lu ga siap-siap kita tinggal nih' 'Cieee... yang dijemput... Kayaknya makin deket aja nih...' 'Lu nya punya cowo sih so Rey deketin gue.. Gue mah mao bangettt' 'Hahaha! Dasar centil lo!" 'Secara Rey, Kie! Udah ahh,buruann! Dah mo maghrib, mesti jemput Ibu Rara juga kan!' 'Iya bawellll' Kiera tertawa dan menutup handphone-nya. Ia duduk di kursi lalu membuka laci meja belajar di depannya pelan. Secarik kertas berwarna putih tersembul. Kiera mengambilnya dan membacanya untuk kesekian kalinya. Untuk kesekian kalinya juga ada semburat di pipinya. Kata-kata yang tak akan pernah bosan ia baca. Selalu kertas itu berakhir di dekapan di dadanya dengan mata terpejam dan senyum menghiasi bibirnya. Sebuah pesan di kertas itu jugalah yang membuatnya bersemangat untuk malam ini. Kiera dear.... Tunggulah tepat jam 10 malam di depan gedung yang kamu datangi. Aku akan ada di sana. Dan akan selalu ada untukmu setelah malam itu. Tunggulah Aku pasti akan datang. Arrash. Sebuah pesan singkat yang tergeletak begitu saja di dalam tasnya beberapa hari lalu. Yang mampu menghadirkan pelangi pada apa pun yang Kiera tatap. Arrash selalu menjadi misteri buat Kiera. Ia datang dan pergi tiba-tiba. Mengajaknya ke suatu tempat dalam sekejap dan selalu seperti ada di dekatnya. Kiera tak pernah peduli dengan itu semua. Justru hal-hal seperti itu yang membuatnya seperti terperangkap dalam pesona keunikan Arrash. Pesona yang tak pernah ia temukan dalam diri cowok mana pun di dunia ini. Dalam hatinya ia tahu Arrash bukan manusia biasa. Janji Arrash untuk datang malam ini membuatnya terbuai dan melayang. Ia selalu percaya dengan Arrash. Ia pasti akan datang. Kiera melirik jam di meja belajarnya. Jam 6 lewat. Kiera meloncat, terbayang wajah kesal Lucy seandainya ia datang dan Kiera belum bersiap-siap. Ia menyelipkan kertas itu di dalam tasnya dan segera berlari ke kamar mandi. ****************************"Kie! Tumben lu cantik banget!'' Mata Lucy melebar dan ia melongo menatap Kiera yang berjalan menghampirinya dari dalam rumah. Gaun putih yang dipakainya tampak cantik dipadukan dengan jaket denim dan sneakers sewarna denimnya. Sedikit polesan makeup di wajahnya membuat Kiera terlihat berbeda. "As always." Kiera menjawab santai sambil melenggang. "Huh! Beda!" Lucy menarik ujung gaun Kiera setengah cemberut. Kiera tergelak. "Lagian, tumben banget bilang gue cantik. Dah tahu gue cantik dari dulu." Kiera menjulurkan lidahnya. "In your dream." Lucy memendelikkan matanya kesal. "By the way, lu juga tumben keren banget hari ini." Kiera mengamati Lucy dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dress peach yang dipakai Lucy bahunya sedikit terbuka sehingga menampakkan leher jenjangnya. Rambutnya yang cokelat ikal dibiarkan tergerai dengan jepit manis sewarna bajunya di dekat telinga. Sangat cantik. "Gue sih nggak perlu diragukan lagi." Lucy mengangkat dagunya dengan gaya sombong yang dibuat-buat. "Tuh kan. Baru dipuji dikit aja belagunya minta ampun." Kiera menarik ujung rambut Lucy dan berlari ke arah mobil Rey. "Awwww! Awas lu Kie!" Lucy mengaduh dan menghentakkan kakinya kesal lalu berjalan cepat mengejar Kiera. Rey yang bersandar di mobil menunggu mereka berdecak dan menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum lebar di bibirnya. Kelakuan mereka berdua selalu menghiburnya. Saat menjemput Lucy ia di buat terpaku dengan penampilan Lucy yang malam ini terlihat sangat cantik. Dan sekarang, di depan matanya Kiera melenggang dengan tak kalah cantiknya. Dua sahabat yang berhasil meruntuhkan hatinya. Namun, ia tahu ia tak akan bisa memiliki Kiera karena hati Kiera telah tertambat pada seseorang yang bahkan ia tak tahu siapa. Lucy pernah menceritakan sedikit padanya tentang seseorang yang bisa membuat Kiera tergila-gila. Ia sedikit terluka saat mendengar itu dari Lucy. Namun, Rey tetap bersyukur bisa mengenal Kiera. Dan juga Lucy. Kiera dan Lucy hampir memiliki kepribadian yang sama, mungkin Lucy lebih ceria dan terbuka saja. Namun, perhatian dan ketulusan hatinya sama dengan Kiera. Juga saat ia memainkan lagu diiringi petikan gitarnya dan caranya menjiwai sungguh membuatnya terpukau. Itu yang membuatnya memberikan perhatian lebih ke Lucy sekarang. "Ckckck! Kapan sih kalian berdua bisa dewasa?" Rey minggir sedikit saat Kiera mendorongnya dari pintu mobil dan ia masuk dengan cepat. "Ntar kalau dia udah minum obat." Kiera menjulurkan lidahnya ke arah Lucy yang menghampirinya dengan wajah ditekuk. "Ihhh! Ada juga elu yang mesti minum obat!" Lucy duduk di samping Kiera dan tangannya segera menggelitiki pinggang Kiera. Kiera terpekik geli dan berusaha menghindar. Mereka berdua terbahak. Rey menggeleng-gelengkan kepalanya sekali lagi dan segera menutup pintu mobil. Lalu ia menjalankan mobilnya pelan menuju rumah Rara untuk menjemput Ibu dan Bapak. Jalanan lumayan padat malam ini. Mungkin karena malam ini malam Minggu. Orang-orang keluar rumah dan menghabiskan weekend bersama keluarga atau orang-orang tercintanya dengan suasana yang berbeda. Mobil Rey melaju pelan. Kiera mengajak Ibu berbincang sementara Lucy menggoda Vina yang terlihat lucu dengan rambutnya yang dikepang dua dengan pita warna-warni. Rey juga mengobrol dengan Bapak yang duduk di depan. Kiera melirik jam tangannya. Jam 7.30. Sebentar lagi mereka sampai. Gedung stasiun TV itu telah terlihat. Tiba-tiba dada Kiera berdetak kencang. Jam 10 malam. Tak sabar ia menunggu saat itu tiba. Senyum lembut Arrash terpatri di kepalanya. Kiera merogoh saputangan putih yang selalu ia simpan di tasnya dan ia bawa ke mana pun ia pergi, lalu menggengamnya erat. Dadanya tak bisa berhenti berdetak dan tangannya mendadak berkeringat. Kiera memejamkan mata dan menarik napas panjang dan mengembuskannya pelahan. Lucy yang meliriknya termangu. Ia mengerutkan keningnya. Ada yang aneh dengan Kiera. Namun, celotehan Vina mengalihkan perhatianya. "Kak La...La..." Dengan suaranya yang belum begitu jelas ia sibuk menunjuk-nunjuk sebuah baliho besar di tembok pembatas jembatan layang. Semua mata memandang ke arah yang ditunjuk Vina. Di situ tampak poster Rara dan dua orang kandidat lain yang tersenyum lebar. Sebuah iklan dari stasiun TV tentang grand final ajang pencarian bakat terbesar malam ini. Mata Ibu berkaca menatap gambar Rara di situ. Bapak tak berhenti menoleh sampai baliho itu tak terlihat lagi. Lucy mengedipkan matanya ke arah Kiera yang disambut dengan senyum. Rey melirik dari kaca spion dan tersenyum. Semua tampak bersemangat malam ini. Di sebuah trotoar di perempatan lampu merah yang lumayan ramai, sesosok laki-laki bertubuh tinggi kurus dengan tato di lengannya menatap poster yang sama di tangannya dengan mata merah nyalang. Ia mengalihkan pandangan matanya ke tepi jalan. Tubuh istrinya tergeletak bersimbah darah di situ terbayang kembali di ingatannya. Ia menggeram dan meremas poster di tangannya hingga menjadi gumpalan kecil. Sambil tertatih ia beranjak. Sebuah peluru yang bersarang di kakinya saat mencoba kabur membuatnya pincang sekarang. Semua kesialan yang menimpanya disebabkan oleh seorang gadis yang bahkan mengingatnya saja membuat darahnya bergolak. Tangannya meraba sebuah benda yang ia selipkan di balik punggung. Ia menyeringai. Sementara itu di tengah ingar bingar ibukota, tiba-tiba sesosok tubuh terempas begitu saja entah dari mana di balik sebuah pohon besar di taman di tengah kota. Sebuah taman dengan air mancur yang indah di tengahnya. Orang-orang yang asyik bercengkerama di sekitar situ tak ada yang menyadari keberadaan sosok itu. Sesosok tubuh itu terbaring diam. Setelah beberapa saat ia mulai membuka matanya perlahan. Dedaunan menutupi sebagian langit yang malam ini dihiasi indah purnama.Ia mengangkat tangannya dan melihatnya dengan terpesona. Lalu ia menyentuh wajahnya, rambut dan juga badannya. Ia menepuk pipinya keras dan tiba-tiba ia mengaduh. Inikah rasanya sakit? Pikirnya. Ia tersenyum. Kini ia bisa merasakan apa itu sakit. Segera ia melompat bangun dengan antusias. Namun, langkahnya masih terhuyung. Ia bersandar di pohon itu untuk beberapa saat. Lalu ia mulai melangkah ke arah ramai orang berbincang di bawah lampu taman yang terang. Langkahnya terasa sedikit berat. Kemarin ia bisa pergi ke mana saja dengan satu kedipan mata, terbang ke mana pun ia inginkan, berdiri di puncak gunung tertinggi di dunia atau duduk di taman surga menikmati mekarnya seribu bunga. Sekarang semuanya berbeda. Bahkan untuk melangkah pun ia mesti menggunakan tenaganya. Namun, hal itu tak mengurangi kehangatan yang mengalir di seluruh pembuluh darahnya dan berkumpul membentuk degup hangat di dada. Ia akan bertemu Kiera sebentar lagi, memeluknya dan tak akan pernah lagi melepaskannya. Ia tak bisa berhenti tersenyum memikirkannya. Beberapa orang menatapnya dengan heran. Beberapa perempuan saling berbisik meliriknya. Rahang kokoh dengan wajah luar biasa tampan dan rambut ikal sebahunya rupanya menarik perhatian mereka. Namun ia agak risi dengan penampilanya. Ia hanya memakai kaus tipis dengan celana panjang hitam dan tanpa alas kaki. Segera ia bergegas berlalu dari situ. Di gerbang masuk taman ia berhenti. Ramai lalu lintas di depannya membuatnya sedikit kebingungan. Ia memutar pandangannya ke sekeliling. Di sebuah kios kecil di dekat pintu masuk taman yang menjual berbagai makanan dan minuman ringan ada sebuah televisi di sudutnya yang menyiarkan secara langsung acara grand final sebuah ajang pencarian bakat. Matanya berbinar. Kiera ada di sana. Dengan cepat ia menghampiri salah seorang yang sedang duduk di situ. "Maaf, stasiun televisi itu ada di mana ya?" Ia menunjuk ke arah televisi. Laki-laki yang sedang duduk itu menatap sekilas dan menunjuk ke sebuah arah. "Tak begitu jauh dari sini. Jalan aja ke arah lampu merah sana tar belok ke kiri. Terus lurus aja ikutin jalan utama. Kalau naik mobil mungkin cuma 30 menit. Tuh puncak gedungnya keliatan dari sini" "Oke, makasih ya." Ia mengangguk ke arah laki-laki itu dan tersenyum sambil melirik sekilas jam kecil di dinding. Jam 09.15. Ia masih punya waktu. Ia menatap puncak gedung yang ditunjuk laki-laki tadi dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu menoleh ke arah lampu merah yang tak begitu jauh di depannya dan berjalan dengan sedikit tergesa. Tak segampang yang ia pikirkan ternyata. Dulu dengan mengedipkan matanya ia bisa ke mana pun yang ia tuju dalam sekejap. Sekarang ia harus berjalan menembus kerumunan orang atau melewati lalu lintas yang padat. Mobil dan motor melaju kencang seakan saling ingin mendahului. Klakson yang tak berhenti berbunyi membuat kepalanya berdenyut. Gedung itu masih jauh. Ia berjalan cepat di sepanjang trotoar yang ramai dengan lalu lalang orang. Saat ia turun dari trotoar dan hendak menyeberang, tiba-tiba kakinya terperosok di sebuah lubang yang tak ia lihat karena sibuk memperhatikan laju kendaraan di depannya. Ia terjatuh dan lutut serta keningnya membentur aspal yang keras. Ia berdiri dengan terhuyung dan duduk di tepi trotoar. Ia meraba keningnya dan tanganya terasa lengket. Darah mengalir dari keningnya dan ia menyekanya dengan cepat. Ia memejamkan mata menahan sakit. Lututnya terasa perih. Namun, saat ia melirik jam digital besar di depan sebuah mall, ia segera berdiri dengan cepat. Jam 9.45. Ia harus sampai di gedung itu tepat jam 10 atau ia tak akan bertemu Kiera. Lampu berubah merah. Ia segera menyeberang. Lalu setengah berlari ia menyusuri jalanan ke arah gedung yang mulai terlihat di kejauhan. Kakinya yang telanjang tanpa alas kaki mulai lecet dan terasa perih. Namun, ia tak memedulikannya. Ia terus berlari.******************************Teriakan dan sorakan penuh semangat para penonton untuk ketiga peserta yang sekarang berdiri di tengah panggung membahana memenuhi studio tempat acara grand final malam ini dilangsungkan. Masing-masing penonton meneriakkan nama idola mereka masing-masing. Saat Rara maju untuk tampil, riuh suara penonton meneriakkan nama Rara dan memberikan semangat untuknya. Rara terlihat sangat cantik malam ini. Sebelum tampil ia mengucapkan beberapa patah kata yang membuat hampir semua penonton terdiam. Beberapa patah kata dengan beberapa gambar dirinya dan Diki di sebuah layar lebar yang menjadi latar panggung. "Terima kasih untuk semua atas doa dan dukungannya. Rara bisa ada di sini malam ini karena dukungan kalian semua. Ibu, Bapak, Kak Kiera, Kak Lucy dan Kak Rey. Juga teman-teman semua. Lagu ini Rara persembahkan buat kakak Rara, Kak Diki, yang rela ngelakuin segalanya buat Rara dan sekarang telah pergi dengan masih menyisakan semangatnya untuk Rara yang membuat Rara selalu kuat sampai detik ini. Makasih Kak Diki tersayang." Bibir Rara tersenyum, namun ada setitik air mata di sudut matanya. Ibu menggenggam tangan Bapak erat dengan mata berkaca. Suasana mendadak hening. Rara menunduk, memejamkan matanya sejenak dan menghela napas panjang. Lalu saat musik mulai mengalun, nada indah keluar dari mulutnya dan penonton mulai bersorak membahana. Lagu cinta yang indah itu ia nyanyikan sepenuh perasaan. Semua penonton terbuai dengan penjiwaan Rara. Lucy melingkarkan tanganya di bahu Kiera menatap Rey yang tersenyum ke arahnya. Kiera mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan menatap lurus ke arah Rara. Ia berharap banyak malam ini, kemenangan Rara. Tiba-tiba sekali lagi dadanya berdetak kencang. Ia menjadi gelisah. Ia melirik pergelangan tangannya. Jam 9.50. Detak di dadanya semakin kencang. Ia meremas tangannya yang mulai berkeringat. "Kie lu kenapa?" Lucy yang menyadari tingkah aneh Kiera menatapnya khawatir. Keningnya berkerut. Ada sesuatu yang terjadi dengan Kiera. Kiera menatap Lucy sekilas lalu menggeleng pelan. Ia belum memberi tahu Lucy tentang kedatangan Arrash malam ini dan juga ada sesuatu yang membuatnya gelisah. Debar di dadanya tak kunjung berhenti. Kiera selalu punya firasat tentang sesuatu yang akan terjadi. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan Arrash. Kiera telah cukup melihat segala tentang keanehan Arrash. Ia bukan manusia biasa. Namun, Kiera tak pernah memedulikannya. Ia tahu ada perasaan yang tulus dan cinta yang luar biasa besar di mata Arrash untuknya. Itu sudah cukup untuk Kiera. Namun, Kiera merasa akan ada sesuatu yang terjadi malam ini. Itu membuatnya gelisah. Ia bersandar di kursi dan meremas rambutnya. Rara belum selesai bernyanyi, namun Kiera sudah tak bisa fokus lagi. Jarum jam kecil di tangannya terus berputar. Ia mendadak berdiri. "Bentar ya guys, gue keluar dulu." Tanpa memedulikan tatapan heran Lucy dan Rey ia segera beranjak dan setengah berlari menuju pintu keluar studio. Kiera berjalan cepat di lorong kecil menuju ruangan besar dengan lift yang berderet di situ. Ia segera menghampiri salah satu lift dan memencet tombolnya dengan tak sabar. Saat pintu lift terbuka ia segera masuk dan memencet sebuah nomor. Lift itu membawanya turun dengan cepat. Di lantai dasar pintu lift terbuka dan Kiera segera meloncat keluar. Seorang sekuriti menatapnya dengan heran saat melihat ia yang setengah berlari keluar pintu utama gedung dengan terus melihat jam kecil di pergelangan tangannya. Kiera sampai di depan gedung dengan napas terengah. Ia melihat sekeliling dengan pandangan nanar. Saat itulah pandangan matanya bertemu dengan sesosok yang sangat dikenalinya setengah berlari menyeberang ke arahnya. Jantung Kiera seakan berhenti berdetak. Ia Arrash. Tersenyum lebar menatap ke arahnya dan melambaikan tangan. Namun, sosok itu terlihat berbeda. Berjalan setengah tertatih seperti menahan sakit dengan kakinya yang telanjang. Saat sosok itu sampai di depannya, Kiera tak mampu menahan perasaannya. Ia menghambur ke pelukan Arrash dan memeluknya erat. Arrash menyambut pelukan Kiera dan mengecup keningnya. Arrash-nya kali ini terasa berbeda. Ia bisa merasakan hangat dan detak jantungnya. "Aku datang, Kie. Seperti janjiku." Bisiknya lembut di telinga Kiera. Ia menyelipkan beberapa helai rambut Kiera ke belakang. "Kangen banget tahu nggak..." Kiera melepaskan pelukannya dan menatap Arrash. "Gosh! Kamu kenapa??" Kiera melihat kening Arrash yang masih meneteskan sedikit darah segar. Juga celananya yang sedikit robek di lutut dan kakinya yang telanjang. Kiera mengulurkan tangannya dan menyentuh kening Arrash dengan penuh kekhawatiran. "Aku nggak apa-apa, Kie. Bakal aku ceritain semuanya nanti. Yang pasti ini bakal jadi awal yang indah dalam hidupku." Arrash meraih tangan Kiera yang terulur, menggengamnya erat lalu mengecupnya dan menangkupkan kedua tangan Kiera ke dadanya. Lalu tangan kirinya meraih Kiera dalam pelukanya sekali lagi. Detak di kedua dada mereka menyatu. Kiera menenggelamkan wajahnya di dada Arrash dan Arrash mengecup puncak kepala Kiera sambil memejamkan matanya. Inilah saat-saat yang ia impikan seumur hidupnya. Kebahagiaan nyata yang mengalir ke seluruh pembuluh darahnya. Tak akan ia sesali sayap yang ia patahkan dan ia tinggalkan kesempurnaan yang ia miliki demi sebuah raga dengan rasa dan keterbatasannya, karena cinta yang memenuhi rongga dadanya begitu kuat. Kali ia merasa sempurna. Kebahagiaan itu ada di pelukannya sekarang. Tak ada lagi yang diinginkannya. Masih di pelukan Arrash, Kiera membuka matanya pelan. Saat itulah ia melihat kaki Arrash yang telanjang kotor dan berdebu. Segera ia melepaskan pelukan Arrash. "Wait! Tunggu bentar di sini, jangan ke mana-mana." Kiera menarik lengan Arrash dan membawanya duduk di pinggiran taman kecil di depan gedung. Lalu ia berlari masuk ke dalam. Ia ingat di belakang mobil Rey ada beberapa pasang baju dan sepatu. "Rey, kunci mobil lu, ada yang gue butuhin, gue pinjem dulu." Dengan napas terengah ia berdiri di depan Rey dan mengangsurkan tangannya. Tak dipedulikannya tatapan heran Rey dan juga Lucy. Rara masih melantunkan suara indahnya di depan sana, dan tiba-tiba saja Kiera mengagetkan mereka. "Kie... ada apaan?" Lucy menatapnya heran. "Ntar gue ceritain. Buruan Rey!" Kiera mengentakkan kakinya dengan tidak sabar. Masih dengan sedikit bingung Rey merogoh tas kecilnya dan mengangsurkan kunci mobilnya ke tangan Kiera. Dengan cepat Kiera menyambar kunci di tangan Rey dan berlari lagi keluar. Ia menuju parkiran, mencari mobil Rey, membukanya dan mengambil kaus putih dengan kemeja navy dan celana jeans serta sepasang sepatu sneakers. Tak lupa ia menyambar kotak P3K kecil di belakang sandaran kursi. Lalu ia segera melesat menuju lift yang akan membawanya turun ke lantai dasar. Saat pintu lift terbuka ia segera berlari keluar, dan ia tersenyum melihat Arrash yang masih duduk menunggunya sambil memilin keningnya. Kiera menghampiri Arrash, meletakkan baju dan sneakers yang dari tadi dibopongnya ke pangkuan Arrash dan membuka kotak P3K yang dipegangnya. Ia berdiri di depan Arrash, mengambil sebuah tisu dan membuka botol kecil cairan pembersih luka. Setelah ia basahi tisu yang ia pegang dengan cairan itu, tangan kirinya terulur menyibakkan rambut ikal Arrash yang sebagian tergerai di keningnya. Tangan kanannya membersihkan sisa-sisa darah yang menempel di kening Arrash. Lalu ia berjongkok dan melakukan hal yang sama di lutut Arrash. Dengan pelan, Kiera membersihkan lutut Arrash yang lecet. Ia tak menyadari Arrash yang memandangnya lekat. Ada desir aneh di dadanya. Desir yang membuat seluruh tubuhnya berdenyar hangat. Dadanya seakan ingin meledak dengan kebahagiaan yang rasanya tak sanggup ia tampung. "Udah. Sekarang ganti dulu ya baju kamu, yuk?" Kiera berdiri dan menarik lengan Arrash. Arrash sedikit tersentak. Ia masih terbawa perasaanya. Namun Kiera telah menarik lengannya masuk ke dalam gedung. "Kamu ganti di sana. Aku mau beli minum dulu di depan. Tunggu di sini ya?" Kiera melepaskan pegangan tangannya dan menunjuk ke arah toilet. "Kie..." Arrash meraih tangan Kiera yang baru saja Kiera lepaskan. Langkah Kiera terhenti. Ia berbalik, menatap Arrash dan tersenyum. "Ya?" "Makasih, Kie, kamu membuatku hidup. Aku merasa sempurna di sini bersamamu. Aku menyukaimu melebihi apa pun di dunia ini atau di dunia mana pun." Arrash menggenggam tangan Kiera erat dan menatapnya lekat tepat di manik mata Kiera. Ada yang mengalir hangat di dada Kiera, kehangatan itu merona merah di pipinya. Ia bisa melihat jutaan cinta di mata Arrash. "Dan tak ada yang lebih aku inginkan kecuali bersamamu." Kiera berjinjit dan mencium pipi Arrash hangat. Arrash tersenyum dan mengacak rambut Kiera penuh rasa sayang. "Baiklah, aku ganti baju dulu. Banyak hal yang ingin aku ceritakan habis ini." "Oke, aku ke depan dulu ya. Pasti kamu haus kan? Tunggu di sini kalau udah," Kiera mengusap lengan Arrash dan melangkah pelan sambil bibirnya tak berhenti tersenyum. Arrash menatapnya sebentar lalu ia melangkah ke arah toilet. Arrash merasa lebih segar sekarang dengan baju dan sepatu yang ia pakai. Ia memiliki perawakan yang sama dengan Rey, jadi baju itu pas di badannya. Arrash merapikan rambutnya, menatap pantulan dirinya di kaca sebentar lalu melangkah keluar dari toilet. Ia melipat baju dan celana hitamnya kecil dan menggengamnya. Dengan langkah ringan ia menuju pintu keluar gedung. Senyumnya mengembang melihat Kiera yang tengah berjalan ke arahnya dengan menenteng plastik kecil berisi botol minuman. Kiera berjalan santai, dan ia tersenyum lebar sambil melambaikan tangan ke arahnya saat ia melihatnya keluar pintu. Kiera terlihat sangat cantik dengan senyum dan binar di matanya. Mata Arrash berbinar, kebahagiaan dalam dirinya membuatnya terus tersenyum. Arrash menoleh saat suara klakson yang nyaring memekakkan telinganya. Seorang pengendara sepeda motor memaki saat tiba-tiba seorang pejalan kaki melintas tanpa memperhatikan kanan kiri. Dan saat ia mengerem sepeda motornya, mobil yang melaju kencang di belakangnya mengerem mendadak namun terlambat. Mobil itu menabrak motor di depannya hingga terjatuh. Dan lalu lintas menjadi macet dan gaduh oleh suara klakson yang yang berhenti bersahutan. Arrash memperhatikan orang yang melintas yang menyebabkan kecelakaan itu. Orang itu terus berjalan tak memedulikan kegaduhan di belakangnya. Jalannya sedikit tertatih. Senyum Arrash mendadak lenyap melihat wajah di balik topi dan kacamata hitam itu. Orang itu berjalan ke arah Kiera. Tangannya meraih sesuatu di belakang punggung, bersinar terkena pantulan lampu jalanan. Sebuah belati. Arrash menajamkan penglihatannya dan jantungnya seperti berhenti berdetak. Bang Somad. Arrash menatap Kiera dengan panik. Kiera masih berjalan santai dan ia menoleh ke arah kerumunan tanpa memperhatikan langkahnya. "Kie!!!" Arrash berteriak kencang, namun riuh suara lalu lintas menenggelamkan suaranya. Arrash mengibaskan tangannya refleks. Ia memekik kesal saat menyadari tak ada kekuatan yang ia punya sekarang. Segera ia berlari cepat ke arah Kiera. Jarak antara laki-laki itu dan dirinya mencapai Kiera sama. Arrash berlari seperti orang kesetanan. Laki-laki itu hampir sampai dekat Kiera. "Kie!!!!" Kiera yang tengah melenggang santai sambil matanya masih menatap kerumunan di jalan raya berhenti mendadak mendengar teriakan keras memanggil namanya. Ia berdiri kebingungan melihat Arrash yang berlari kencang ke arahnya sambil berteriak. Sekilas ia melihat seorang laki-laki bertopi yang berjalan ke arahnya namun ia tak memedulikannya karena yang ia fokuskan hanya Arrash yang hampir sampai di dekatnya. "Awas, Kie!!!" "Ahhhhh!" Kiera masih kebingungan saat tiba-tiba Arrash yang berlari kencang menubruknya dengan tiba-tiba. Ia terpelanting dengan keras. Botol minuman yang ia pegang berserakan di dekatnya. Kiera terengah. Tak dipedulikanya kepalanya yang terasa sakit terbentur lantai. Segera ia duduk dan melihat sekelilingnya dengan kebingungan. Wajahnya menjadi pasi saat ia melihat Arrash tergeletak di sampingnya. Sebuah belati menancap di lambung kanannya dan matanya terpejam. Darah menetes dari sela-sela belati itu. "Arrash!!! No!!!" Kiera merangkak menghampiri Arrash dan memeluknya. Kiera berteriak dan menangis histeris. Ia menempelkan pipinya ke pipi Arrash yang mulai terasa dingin. "Arrash! Bangun!" Air mata Kiera membasahi pipi Arrash, membuat ia membuka matanya. "Lu harus mati bersamanya." Tiba-tiba sebuah tangan terulur mencabut belati di perut Arrash. Dengan pandangan yang kabur Kiera memandang sosok di depannya itu. Bang Somad. "Tidakkkk!!!" Kiera berteriak marah. Ia hendak berdiri. Namun darah yang mengucur deras dari perut Arrash membuatnya tetap di situ. Dengan cepat Kiera membuka jaketnya dan menutupkannya ke luka Arrash. Ia menekan luka itu agar darah tak semakin banyak yang keluar. Dan sosok yang berdiri di dekatnya itu mengangkat tangannya dengan belati yang masih meneteskan darah. Kiera memejamkan matanya saat belati itu terayun ke arahnya. Tiba-tiba kaki Arrash menendang kaki kiri Bang Somad yang tak bisa tegak berdiri dengan sisa kekuatanya. Bang Somad terhuyung ke samping. "Kie!!" Saat itulah tiba-tiba Rey muncul. Ia segera menghampiri Bang Somad dan menghantamnya dengan pukulan dan tendangan bertubi-tubi hingga jatuh tergeletak ke tanah. "Arrash??" Lucy yang muncul di belakang Kiera terbelalak ngeri menatap Arrash yang tergeletak berlumuran darah. Kiera masih memegangi jaketnya yang kini berubah merah. Saat ia menggunakan sisa tenaganya untuk menendang Bang Somad darah mengucur semakin deras dari lukanya. Matanya terpejam. "Arrash... please, bertahanlah..." Kiera tersedu. Air mata jatuh berderai di pipinya. Lucy berlari menghampirinya dan memeluk bahunya. "Rey! Ke rumah sakit, cepat!" Dengan panik dan berlinang air mata Lucy berteriak. Rey menoleh ke arah mereka, lalu ia menyeret tubuh Bang Somad ke dekat dua orang satpam yang menghampiri mereka. "Hubungi kantor polisi, dia buronan." Sambil mengempaskan tubuh Bang Somad ke tanah Rey memungut kunci mobilnya yang tergeletak di dekat botol minuman. Lalu ia berlari ke arah parkiran, mengambil mobilnya dan memacunya kencang. Sampai di dekat mereka Rey membuka pintu mobil dan di bantu beberapa orang di situ ia menggotong tubuh Arrash ke kursi tengah. Kiera meletakkan kepala Arrash di pangkuanya. Lucy meloncat naik dan duduk di depan dan Rey segera memacu mobilnya kencang menuju rumah sakit terdekat. Kiera menggenggam erat tangan Arrash. Dadanya turun naik menahan isak tangis. Arrash belum membuka matanya sejak tadi. Detak di nadi tangannya terasa semakin lemah dan sekujur tubuhnya menjadi dingin. Derai air mata Kiera jatuh membasahi pipi Arrash. "Arrash... sadarlah... buka matamu... aku mohon..." "Tetaplah bersamaku..." Kiera mengusap pipi Arrash yang basah oleh air matanya. Tangan Arrash di genggaman Kiera bergerak dan meremas tangan Kiera lemah. Matanya terbuka pelan. "Kie..." Tangannya terulur menyentuh pipi Kiera dan mengusap lemah air mata yang masih mengalir deras di pipi Kiera. Kiera meraih tangan itu dan meletakkanya di dada. "Jangan banyak bergerak dulu please, bentar lagi nyampai rumah sakit... bertahanlah..." Arrash menatap wajah Kiera yang basah oleh air mata yang tak berhenti mengalir hingga membasahi sebagian rambutnya yang tergerai ke depan. Gaun putih yang ia pakai penuh dengan noda darah. Juga tangan dan lengannya. Meski ia telah mengelapnya dengan banyak tisu, namun noda darah masih menempel di mana-mana. Wajah yang selalu terlihat cantik dengan senyum indah itu kini terlihat berantakan. "Maafin aku, Kie..." Arrash meremas tangan Kiera pelan. "Nggak Arrash... Semua gara-gara aku... Harusnya biar aku aja yang kayak gini, bukan kamu... Ini semua salahku... Kamu nggak boleh kayak gini." Kiera tergugu. Erat tangan Kiera menggenggam tangan Arrash, dan bibirnya yang basah oleh air mata mengecup punggung tangan Arrash. "Shhhh... Kamu nggak boleh kenapa-napa, Kie. Kamulah alasanku bernapas dengan udara yang sama di sini. Senyummulah yang membawaku ke sini. Sekarang aku bisa merasakan apa itu sakit, Kie. Namun semua ini indah, Kie. Aku sangat menyukaimu, hangatmu melebihi sinar matahari pertama di musim semi. Tawamu lebih riang daripada nyanyian peri. Dan tatapan matamu, Kie, lebih berwarna dari pelangi. Sejuta bunga yang mekar di taman surga tak bisa menandingi keindahan senyummu. Tersenyumlah Kie, itu yang paling aku suka darimu..." Jemari Arrash membelai bibir hangat Kiera. Tangis Kiera semakin menjadi. "Aku janji bakal terus tersenyum asalkan kamu tetap bersamaku..." "Kamu gadis yang kuat. Dengan atau tanpaku kamu selalu kuat. Kamu ditakdirkan untuk membawa kebahagiaan untuk semua orang di sekitarmu, Kie. Tetaplah seperti itu." Sudut mata Arrash bergerak ke bawah, ia tahu ada yang telah menunggunya. 'Ia mengutusku untuk menjemputmu.' "Nggak, Arrash... Nggak... Aku nggak mau perasaan yang baru pertama kalinya kurasakan ini mesti hilang kamu bawa pergi. Kamu janji bakal selalu bersamaku mulai hari ini. Please... penuhi janji kamu Arrash... aku mohon..." Lirih pinta Kiera dengan napas tersengal menahan tangis. Lucy menutup mukanya dengan kedua tangannya. ia bersandar di kursi dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Rey menekan klakson sangat keras dan lama saat sebuah mobil di depannya tak kunjung jalan saat lampu berubah hijau. Ia membuka kaca mobilnya dan memaki kesal setengah putus asa. "Maafin aku, Kie. Kadang kita nggak tahu takdir apa yang menunggu yang telah dituliskan oleh Sang Maha. Kadang nggak sesuai sama rencana kita, Kie. Tapi yakinlah, akan ada hikmah di balik semua ini. Tak ada yang kusesali, Kie. Aku bahagia dengan semua ini." "Berjanjilah, Kie... tetap kuat... dan tetap tersenyum." Pegangan tangan Arrash semakin melemah. "No! No! Arrash no! Kamu nggak boleh ninggalin aku! Aku bahkan belum tahu hal-hal kecil tentangmu, kamu janji bakal ceritain semua... Jangan pergi aku mohon..." Kiera menepuk pipi Arrash, membuat mata Arrash yang ingin terpejam kembali terbuka, menatapnya sekali lagi. "Untuk bisa memelukmu aku rela mematahkan sayapku, Kie. Kamu hal terindah untukku." Mata itu kembali terpejam dengan remasan lemah di tangan Kiera untuk terakhir kalinya. Tak terasa lagi detak di dada Arrash. Dengan panik Kiera memeriksa detak di nadi Arrash. Ia menjerit dan tangis pilunya tumpah di dada Arrash yang tak lagi berdetak. Lucy meloncat dan ia memalingkan wajahnya tak kuasa menahan tangis melihat Kiera yang menenggelamkan wajahnya di dada Arrash dengan isak tangisnya yang tak bisa berhenti. Ia tahu Arrash telah pergi. Lucy meraih tangan Kiera dan menggenggamnya erat. Tepat di depan rumah sakit. Rey melompat keluar dan segera memegang nadi tangan Arrash. Lalu ia menggeleng pelan, menarik napas dengan mata terpejam. Tak ada yang bisa mereka lakukan.*****************************Di pos satpam dekat parkiran, terdengar sorak-sorai penonton dari sebuah televisi di sudut ruangan yang bergemuruh dengan diumumkannya pemenang juara sebuah ajang pencarian bakat. Seorang gadis kecil bersuara emas, Rara. Rara terlihat menitikkan air matanya dan melambaikan tangannya ke arah kamera.Yang Telah Pergi, Akankah Kembali? Dua gundukan tanah merah yang masih sama-sama basah. Di sebuah gundukan yang terlihat lebih lama, sebuah tangan kecil terulur membelai nama yang terukir di situ. Diki Hermawan. Ada setitik air mata jatuh di sudut matanya. Ia menyekanya pelan lalu menabur bunga beraneka warna di situ sambil menggumamkan doa. Sesaat kemudian ia meraih tas punggung yang ia geletakkan di sampingnya dan meraih sesuatu di dalamnya. Sebuah piala kecil dari perak. Ia letakkan di depan papan nisan. Piala yang bertuliskan namanya, Rara Aprilia. Di sebuah gundukan di sebelahnya yang masih bertabur bunga segar beraneka warna, Kiera menyandarkan kepalanya di papan nisan dengan mata terpejam. Air mata masih terus mengalir di pipinya. Ia tak menyekanya, membiarkannya jatuh ke tanah merah yang masih basah. Matanya bengkak dan wajahnya terlihat pucat. Bibirnya bergerak-gerak menggumamkan sebuah nama. "Yang telah pergi, relakanlah..." Sebuah suara berat di sampingnya membuat Kiera menoleh. Dengan pandanganya yang setengah kabur oleh air mata yang tak berhenti mengalir, ia melihat seorang laki-laki dengan baju hitam dan perawakan tinggi berdiri dan memandang lurus ke depan. Ia menoleh saat Kiera memandangnya. Lalu ia berjongkok di sebelah Kiera dan menaburkan bunga di atas makam yang masih basah. "Sungguh, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Dia telah menentukan pilihan, mematahkan sayapnya dan menjadi manusia hanya untuk bersamamu. Dan sekarang ia mengorbankan hidupnya demi hidupmu, jadi berhentilah bersedih." Kiera tertegun mendengar perkataan laki-laki itu. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia menoleh cepat. Dihapusnya air mata yang menetes dengan punggung tangannya. "Anda siapa?? Anda kenal Arrash?" "Namaku Tom. Aku tahu semua tentang dia." "Tentang Arrash?? Siapa sebenernya Arrash? Menjadi manusia? Maksudnya apa??" Ada yang bergolak di dada Kiera. "Ya, Arrash adalah salah satu malaikat utusan Tuhan. Ia diciptakan tanpa hati dan rasa. Namun, pandanganmu memerangkapnya dan ia jatuh cinta padamu. Ia memutuskan untuk menjadi manusia demi bisa bersamamu." "Ma..la..i..kat.....?" Kiera berguman setengah terbata. Ia terdiam sejenak, mencoba mencerna cerita Tom, laki-laki di sampingnya itu. "Sama sepertiku yang memutuskan untuk menjadi manusia demi cinta kalian." "Oh Tuhan.... Arrash..." Kiera menangkupkan kedua tangannya di wajah. Ia kembali terisak. Ternyata apa yang ada di pikirannya selama ini benar. Arrash bukan manusia biasa. Ia mengorbankan banyak hal untuknya. Setelah mematahkan sayapnya, ia rela mengorbankan hidup yang baru saja dirasakannya. Untuk Kiera. Dada Kiera terasa sesak dan sakit. Ia tersedu. Air mata memenuhi wajahnya. Ucapan kakeknya beberapa puluh tahun yang lalu saat ia masih kecil terngiang kembali. Bahwa ia mempunyai seorang malaikat pelindung. Kiera tak kuasa membuka kedua matanya yang bersimbah air mata. "Semua sudah dituliskan oleh Sang Maha. Relakanlah Arrash pergi." Tom meraih tangan Kiera dan menggenggamnya. Kiera menunduk. Air matanya jatuh di tangan Tom. "Tak apa menangis, namun setelah ini kembalilah tersenyum. Karena demi senyummu Arrash mengorbankan segalanya. Aku harus pergi sekarang. Jangan terlalu lama bersedih, banyak hal yang mesti kamu lakukan setelah ini." Tom melepaskan genggaman tangannya pelahan. Lalu ia berdiri. Setelah menepuk pundak Kiera lembut ia pelahan beranjak. Dengan air mata berlinang Kiera memandang kepergian Tom sampai ia hilang di kelokan jalan. "Arrash..." Beberapa bulir air mata jatuh di kelopak mawar merah yang masih segar di atas makam. Kembali Kiera tergugu. Bahunya tutun naik menahan tangis. "Kak..." Sentuhan pelan di bahunya membuatnya membuka mata. Rara berjongkok di sampingnya, menatapnya dengan mata berkaca. "Kamu udah, Ra?" Tanyanya tanpa menoleh. Tatapannya kosong. "Udah, Kak..." Rara menjawab lirih. Suaranya tercekat di tenggorokan. Hampir menangis ia melihat Kiera yang tak pernah bersedih yang selalu penuh semangat dan tertawa riang kini terkulai lemah tanpa ada semangat sedikit pun di tatapan matanya. "Balik aja dulu, Ra," Kiera menatap Rara sekilas dan kembali tercenung. "Tapi Kakak..." "Aku masih pengin di sini, Ra..." Kiera memotong ucapan Rara dan mulai memejamkan matanya. "Jangan lama-lama ya, Kak... Kita semua sayang Kakak, kita nggak pengin Kakak kenapa-napa. Karena Kakaklah kita semua jadi sehebat ini sekarang." Rara meraih tangan Kiera dan menggenggamnya sekilas. Ia beranjak menuju Bapak dan Ibunya yang telah menunggu di depan. Kiera menghela napas berat. Seperti ada sesuatu yang menghantam ulu hatinya. Sakit. Angin dingin yang bertiup mengibarkan ujung kerudung hitamnya. Kiera menggigil. Dari kejauhan Lucy yang berdiri di bawah sebuah pohon rindang menyeka air mata yang jatuh di sudut mata dengan punggung tangannya. Rey yang berdiri di sampingnya memasukkan kedua tangannya di kantong celana hitamnya dan berkali-kali menghela napas berat. Tak ada yang bisa mereka lakukan untuk meringankan beban Kiera. Kiera terluka terlalu dalam. Ia bahkan tak ingat makan dan minum sejak kemarin. Hanya menangis dan mamatung dengan pandangan kosong. Saat Kiera mulai tersedu masih sambil duduk di tepi nisan itu, Lucy tak sanggup lagi melihatnya. Ia berlari menghampiri Kiera dan Rey menyusulnya. "Kie... udah dong... Relain Arrash, Kie..."Lucy menggoyang-goyangkan lengan Kiera yang masih tersedu dengan tangan yang menutupi wajahnya. "Nggak, Cy... Arrash udah janji bakal terus di samping gue, bakal ajakin gue lihat matahari terbit dan nikmatin senja... Arrash nggak boleh pergi, Cy... Gue masih pengin bareng dia, Cy..." "Gue tahu, Kie, lu sayang banget ama Arrash. Tapi dia udah nggak ada, Kie. Lu mesti tetep kuat ngadepin ini..." "Iya Kie... Masih banyak yang mesti lu lakuin Kie. Ayolah Kie... Lu nggak boleh kayak gini terus..." Rey berjongkok di depannya dan mengusap air mata yang masih terus menetes. "Gue butuh Arrash... Gue nggak mau kehilangan dia..." Tangis Kiera kembali pecah. Lucy meraih kepala Kiera dan membawanya ke bahunya. Ia memeluk Kiera erat. Bahu Lucy basah oleh air mata Kiera. Sesekali ia mengusap air mata yang juga tak bisa ia tahan. Rey berdiri, memalingkan wajahnya. Ia tak sanggup melihat kesedihan Kiera. Matanya mulai berkaca. Lama Kiera tersedu di pelukan Lucy. Langit memerah. Sang surya mulai beranjak ke peraduannya dengan menyisakan larik-larik keemasan di sela-sela awan. "Udah mau magrib, Kie. Pulang yuk?" Lucy membelai rambut Kiera lalu mengangkat kepala Kiera tegak. Kiera menggeleng masih sambil terisak. "Kie... bentar lagi malem, kita nggak bisa di sini terus. Ayolah, Kie?" Rey memegang kedua bahu Kiera dan menatap lurus ke matanya. Mata yang masih terlihat kosong. Kiera menatap nisan itu sekali lagi, menyentuhnya dan pelahan berdiri. Lucy dan Rey memapahnya. Saat mereka mulai beranjak tiba-tiba Kiera menghentikan langkahnya. Desiran angin meniup beberapa helai rambutnya dan terdengar seperti kelepak sayap di antara dedaunan. "Arrash...." Kiera berdiri tegak. Matanya mencari-cari ke sekeliling. Namun, tak ada apa pun di sana. "Nggak ada siapa-siapa, Kie. Yuk?" Lucy menarik lengan Kiera dan mulai berjalan lagi. Kiera mengikutinya masih sambil matanya menoleh ke belakang. Lalu mereka masuk ke dalam mobil, dan Rey melajukan mobilnya pelan meninggalkan area pemakaman. Beberapa pasang mata mengikuti kepergian mereka, beberapa pasang mata dari sosok-sosok berpakaian hitam yang tak terlihat oleh manusia biasa. Dan tanpa seorang pun yang menyadari, sesosok bayangan hitam yang berdiri di sebuah dahan pohon beringin besar di sudut area pemakaman beringsut pelan. Tak ada ekspresi apa pun di wajah itu. Datar. Namun benaknya dipenuhi tanya. Entah apa yang membawanya kemari dan menyaksikan seorang gadis yang terus menangis di sebuah pusara yang masih baru. Seorang gadis dengan tatapan kosong yang tanganya sesekali membelai sebuah nama yang tertulis di batu nisan itu, Arrash. Ia bahkan tidak tahu nama siapa di nisan itu. Tapi entah apa yang membuatnya tak bisa berhenti menatap gadis itu dengan segala kesedihannya. Ia menggeleng. Tak ada apa pun yang diingatnya. Ia memejamkan mata. Beberapa bayangan samar berkelebat. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mengingat. Namun, tetap saja samar. Ia menatap lurus ke depan, lalu segera melesat pergi, menembus awan keperakan diterpa sinar matahari senja. THE END

Komentar