"Bukan Karena Sepi. Kan"


“Bukan Karena Sepi, Kan?”

Kita pernah sedekat itu.
Tiap malam ngobrol, ketawa, cerita apa aja kayak dua orang yang ngerasa nemu rumah. Tapi belum sempat aku bilang “aku sayang kamu,” semua tiba-tiba berubah. Aku baru tahu kebenaran yang rasanya kayak tamparan yang telat datang—bahwa kamu bukan milik siapa-siapa… karena kamu udah jadi milik orang lain.

Waktu itu, aku hancur. Tapi aku gak nunjukkin.
Bukan karena aku kuat, tapi karena aku takut kamu ilfeel. Jadi aku pendem semuanya—perasaan, luka, dan kecewa—aku simpan rapat-rapat, karena aku gak pengen kehilangan kamu.
Sampai akhirnya kamu sendiri yang pergi. Hilang. Tanpa alasan, tanpa perpisahan. Semua akses ke kamu ditutup rapat, seolah aku gak pernah ada.

Satu tahun lebih aku bertahan dengan diam.
Nggak pernah berhenti nyari, walaupun selalu mentok di dinding yang kamu bangun sendiri.
Dan sekarang… kamu balik. Bilang kamu nyari aku.
Bilang kamu udah sendiri.

Jujur, aku seneng. Tapi juga takut.
Karena rasa itu masih ada, tapi luka juga belum hilang sepenuhnya.
Aku takut kamu balik bukan karena kamu lihat aku, tapi karena kamu ngerasa sepi. Takut kalau aku cuma jadi pelarian. Tempat istirahat sementara sebelum kamu jalan lagi ninggalin aku.

Tapi aku juga gak bisa bohong, perasaan itu gak pernah benar-benar mati.
Jadi, kalau kamu balik bukan cuma karena sunyi, tapi karena kamu beneran pengen bangun sesuatu—aku di sini. Tapi kali ini, ayo pelan-pelan. Jangan janjiin apa-apa kalau belum siap buktikan. Jangan bilang “sayang” kalau belum siap tinggal.

Aku gak minta banyak. Cuma satu.
Kalau kita mau mulai, ayo mulai dengan jujur, dengan niat, dan bukan karena iseng nostalgia.

Karena aku udah pernah jatuh.
Dan aku gak pengen jatuh dua kali di lubang yang sama.

Komentar