Pecundang di Malam Hari

-Pecundang di Malam Hari-

Malam ini aku benar-benar merasakan sakit yang tak kutahu asalnya dari mana.
Sakit yang datang tanpa aba-aba, tanpa sebab yang jelas, namun menekan dada begitu kuat, seolah ada sebilah pisau yang ditusukkan tepat ke jantungku, lalu dibiarkan tertancap tanpa niat dicabut kembali.

Aku berada di pusat kota.
Lampu-lampu menyala terang, kendaraan berlalu-lalang seperti biasa, dan aku berdiri di puncak sebuah gedung tinggi, sendirian, dengan angin malam yang dingin memeluk tubuhku tanpa empati.
Aku tak lagi tahu bagaimana caranya melewati semua ini.
Di kepalaku, hanya ada satu keinginan yang berulang-ulang muncul: mengakhiri segalanya.

Telepon genggamku terus berdering.
Getarannya beriringan dengan ribuan suara di kepalaku—suara yang saling bertabrakan, saling menyalahkan, saling berteriak, hingga aku tak mampu membedakan mana pikiranku sendiri dan mana luka yang sedang berbicara.
Aku benar-benar tak tahu bagaimana caranya bertahan.
Aku tak tahu bagaimana caranya hidup.

Air mata akhirnya jatuh tanpa bisa kutahan.
Aku menangis sejadi-jadinya.
Aku tertawa, lalu berteriak, lalu menangis lagi.
Emosiku runtuh tanpa bentuk, tanpa arah, seperti puing-puing bangunan yang roboh dalam satu hentakan.

Aku duduk di tepi gedung itu—tempat yang terlalu tinggi untuk sekadar disebut aman.
Dari atas sini, aku melihat bayang-bayang ribuan, mungkin jutaan orang di bawah sana.
Mereka tampak baik-baik saja.
Berjalan dengan tujuan.
Tertawa tanpa beban.
Seolah hidup mereka utuh, lengkap, dan layak dijalani.

Aku bertanya pada diriku sendiri:
apakah aku satu-satunya yang selalu mendapat bagian buruk dari hidup?
Ataukah semesta memang sengaja menjadikanku contoh kegagalan dari versi manusia yang dianggap “normal”?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku, tak henti-henti, sampai kepalaku terasa sesak oleh pikiranku sendiri.

Wahai semesta,
apakah menjadi orang baik adalah sebuah kesalahan?
Jika iya, bisakah kau mengubahku menjadi manusia yang jahat saja?
Aku pun ingin tahu rasanya bahagia tanpa harus terus kehilangan.

Semesta, apakah kau mendengarku?
Apakah kau melihatku berdiri di sini, dengan seluruh kebohongan yang kupaksakan setiap hari?
Ataukah semua ini hanya kau anggap bualan kosong dari manusia lemah sepertiku?
Atau mungkin benar—aku memang tak layak disebut manusia.
Mungkin benar aku hanyalah pecundang.

Aku tahu aku pernah melakukan banyak kesalahan.
Namun aku tak pernah berniat menjadi jahat.
Aku hanya manusia yang kelelahan.

Semesta,
bisakah kebahagiaan dibeli?

Aku bisa membeli apa pun yang kuinginkan.
Apa saja.
Namun ada hal-hal yang tak pernah bisa kembali, sekeras apa pun aku berusaha.
Aku tak bisa membeli lagi masakan ibu.
Aku tak bisa lagi dijemput ayah.
Aku tak bisa berjalan santai dengan seseorang sambil merasa aman, karena semua rasa itu ikut pergi saat mereka pergi.

Sejak mereka semua tiada,
hidup terasa mati.
Setiap hari hanyalah rintangan yang harus kulewati tanpa tahu kapan berakhir.
Aku berjalan, tapi tak sampai.
Aku hidup, tapi tak benar-benar ada.

Dan di malam ini,
di puncak gedung yang dingin,
aku akhirnya mengerti—
ini bukan tentang cinta yang pergi,
melainkan tentang makna hidup yang tak pernah kembali.

Aku tetap berdiri di sini.
Bukan karena ingin dilihat,
melainkan karena aku sudah terlalu lelah untuk berharap.

Lampu kota terus menyala.
Dunia tetap berjalan.
Dan aku…
perlahan menghilang,
bahkan sebelum benar-benar pergi.


Komentar

Postingan Populer