Rumah Yang Menunggu Senja
Di sebuah kota kecil yang terlalu sering diguyur hujan, ada seorang pria bernama Aksa yang selalu pulang sebelum senja benar-benar turun. Bukan karena ia takut gelap, bukan juga karena tak ada tempat lain untuk dituju. Ia hanya menyukai momen ketika langit berubah warna ketika jingga perlahan melebur menjadi ungu, lalu hilang ditelan malam.
Aksa tinggal di rumah tua peninggalan kakeknya. Dindingnya masih kayu, jendelanya besar menghadap kebun kecil yang ditumbuhi bunga liar. Setiap sore, ia duduk di kursi rotan yang mulai rapuh, menyeduh kopi, lalu menatap langit seperti sedang menunggu sesuatu.
Padahal tak ada siapa-siapa.
Orang-orang mengenalnya sebagai pria yang tenang. Terlalu tenang, bahkan. Ia bekerja di toko buku kecil di ujung jalan utama. Toko itu jarang ramai, tapi Aksa menyukainya. Ia hafal letak setiap judul, tahu buku mana yang jarang disentuh, dan tahu buku mana yang sering dibaca diam-diam oleh pengunjung yang tak ingin terlihat sedang mencari pelarian.
Kadang, ia menyelipkan secarik kertas kecil di antara halaman buku tertentu. Bukan promosi, bukan iklan. Hanya kalimat-kalimat sederhana.
“Semoga kamu menemukan yang kamu cari.”
“Atau setidaknya, menemukan dirimu sendiri.”
Tak ada yang tahu itu tulisannya.
Hidup Aksa berjalan pelan, seperti jam dinding tua di ruang tamu yang bunyinya terdengar lebih keras saat malam tiba. Ia tak banyak bicara tentang masa lalu. Ia juga tak pernah terlihat mengejar sesuatu. Seolah-olah ia sudah berdamai dengan semua kemungkinan.
Suatu hari, seorang gadis kecil datang ke toko buku itu. Rambutnya dikuncir dua, matanya penuh rasa ingin tahu. Ia berdiri lama di rak dongeng, memegang buku bergambar rumah di atas awan.
“Om, kalau kita kehilangan sesuatu, itu bisa balik lagi nggak?” tanyanya tiba-tiba.
Aksa tersenyum tipis.
“Tergantung. Kadang yang hilang memang harus pergi. Kadang juga dia cuma lagi muter jauh sebelum balik.”
Gadis kecil itu mengangguk, walau mungkin belum sepenuhnya mengerti. Ia membeli buku itu, lalu pergi sambil melambaikan tangan.
Sejak hari itu, Aksa mulai berpikir: mungkin ada hal-hal yang memang tak perlu dikejar. Mungkin yang perlu dilakukan hanyalah merawat apa yang masih ada.
Ia mulai menanam lebih banyak bunga di kebunnya. Membersihkan ruang tamu. Mengecat ulang pagar yang mulai kusam. Bukan untuk siapa-siapa. Hanya karena ia ingin rumah itu tetap hidup.
Beberapa bulan kemudian, hujan turun lebih deras dari biasanya. Air mengalir di selokan, angin menggoyang jendela kayu. Aksa berdiri di teras, memandangi kebunnya yang basah.
Di momen itu, ia sadar sesuatu.
Selama ini ia selalu merasa sedang menunggu. Menunggu waktu yang tepat. Menunggu keadaan berubah. Menunggu seseorang datang dan mengisi ruang yang kosong.
Padahal rumah itu tak pernah benar-benar kosong.
Ada suara hujan. Ada aroma tanah basah. Ada buku-buku yang setia di rak. Ada dirinya sendiri yang masih berdiri, masih bernapas, masih bisa tersenyum walau pelan.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Aksa tidak duduk menunggu senja. Ia berjalan keluar rumah, membiarkan hujan membasahi bahunya. Ia tertawa kecil, seperti anak kecil yang baru belajar menikmati hujan tanpa takut sakit.
Ia tidak lagi merasa ada yang harus ditunggu.
Karena mungkin, yang selama ini ia cari bukanlah seseorang atau sesuatu. Melainkan keberanian untuk tinggal di tempat yang sama, dengan hati yang utuh.
Dan di kota kecil yang terlalu sering diguyur hujan itu, ada seorang pria yang akhirnya berhenti menunggu.
Bukan karena ia menyerah.
Tapi karena ia memilih untuk hidup.

Komentar