semesta abadi
Pada suatu hari, seorang manusia di Bumi tanpa sengaja menemukan sebuah lubang hitam di tengah gunung es yang sunyi. Tanpa sempat berpikir panjang, tubuhnya terperosok ke dalam lubang itu. Ia berteriak sekuat tenaga, pikirannya dipenuhi ketakutan—mungkin hidupnya akan berakhir di sana.
Gelap. Sunyi.
Lalu semuanya hilang.
Beberapa jam kemudian, ia tersadar. Tubuhnya terbaring di atas tanah yang terasa hangat, meski udara di sekitarnya begitu asing. Ia mengedarkan pandangan, jantungnya berdegup kencang. Dalam hati ia berpikir, “Ini pasti mimpi.”
Namun kenyataan berkata lain.
Ia berjalan perlahan dan tiba-tiba bertemu dengan makhluk menyerupai kupu-kupu—sayapnya berkilau, tubuhnya kecil, namun matanya hidup. Yang membuatnya terpaku, makhluk itu berbicara… dan anehnya, ia bisa memahami setiap kata.
Untuk memastikan semuanya nyata, ia menampar pipinya sendiri, lalu mencubit lengannya. Rasa sakit menjalar, membuatnya mengerang pelan. Itu bukan mimpi.
Di hadapannya terbentang sebuah dunia yang teramat tenang dan damai. Pohon-pohon menjulang tinggi, mungkin hampir setara dengan Menara Eiffel. Cahaya lembut menyelimuti segalanya, seolah waktu berjalan lebih lambat di tempat itu.
Tak lama kemudian, kupu-kupu itu mendekat dan berkata,
“Aku Jane. Apakah kamu makhluk dari Bumi?”
Ia terkejut, sedikit gemetar, lalu menjawab terbata-bata.
“I-i-iya… aku Ian. Kamu siapa? Dan ini… ini di mana?”
Jane tersenyum.
“Ini adalah Semesta Abadi.”
Ian mengernyit. “Hah? Apa itu?”
“Semua yang ada di sini hidup abadi,” jawab Jane tenang. “Dan sekarang, kamu juga akan hidup abadi.”
Ian terdiam. Kata-kata itu terasa berat di kepalanya.
“Kalau begitu,” tanya Ian pelan, “ke mana semua manusia? Apa ada manusia lain di sini?”
Jane menggeleng.
“Tidak ada manusia di sini. Hanya ada satu peri… namanya Cinderella.”
Hari-hari berikutnya, Ian mulai berjalan menjelajahi semesta itu dengan perasaan campur aduk—takut, kagum, dan penasaran. Entah bagaimana, Jane memberinya sepasang sayap, membuatnya mampu terbang dan melihat dunia dari ketinggian.
Di hari lain, seekor babi dan seekor jerapah yang bisa terbang melihat keberadaan Ian. Merasa ada penghuni baru, mereka segera melapor kepada Cinderella.
Tak lama kemudian, Cinderella menemui Ian.
Dengan tatapan tenang namun penuh kuasa, ia memberikan sebuah kutukan:
Jika Ian melakukan kejahatan apa pun, ia akan berubah menjadi pohon untuk selamanya.
Kutukan itu terucap, dan dunia kembali hening.
Sejak saat itu, Ian sering mengintip kehidupan Cinderella dari kejauhan. Ia melihat peri itu hidup bahagia bersama babi, jerapah, dan capybara. Mereka bermain, tertawa, dan menikmati keabadian dengan wajah yang dipenuhi kebahagiaan—kebahagiaan yang belum pernah Ian rasakan.
Dan di sanalah Ian berdiri, diam, memandangi kehidupan yang terasa indah… namun asing.

Komentar